SIFAT-HAKIKAT-MAKRIFAT (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

 

Oleh Yusdeka Putra (www.yusdeka.wordpress.com)

 

SIFAT-HAKIKAT-MAKRIFAT

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kita dapat melihat dan membedakan antara satu ciptaan dengan ciptaan yang lainnya hanya dengan melihat sifatnya masing-masing. Manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan sangatlah berbeda satu sama lainnya dengan melihat sifatnya masing-masing. Karena kalau dilihat secara kimiawi, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan itu nyaris tidak ada perbedaannya sama sekali. Akan tetapi kita tidak akan pernah salah dalam membedakan mana yang manusia, mana yang binatang, dan mana yang tumbuh-tumbuhan kalau dilihat dari sifat-sifatnya. Sebab perbedaan sifat dari setiap ciptaan itu sangatlah jelas sekali.

Begitu juga kita bisa membedakan mana yang gunung dan mana yang lembah, mana yang awan dan mana yang langit, mana yang matahari dan mana yang bulan. Kita bisa membedakan mana yang emas dan mana yang loyang atau perak, mana yang baja dan mana yang kerupuk. Kita bisa membedakan dengan jelas mana yang pria mana yang wanita, mana si Ali dan mana si Anita, mana yang Rakyat dan mana yang Presiden. Kita bisa mengetahui dengan jelas mana yang air dan mana yang minyak.

Untuk bisa memahami sifat-sifat ini kita menggunakan alat yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita yaitu Panca Indera atau VAKOG dalam istilah modern sekarang. Misalnya, untuk memahami bentuk dan warna kita menggunakan alat berupa mata untuk melihatnya (Visual). Untuk memahami bunyi dan tetabuhan kita menggunakan telinga untuk mendengarkannya (Auditory), dan seterusnya.

Selama kita masih menggunakan VAKOG ini untuk memahami alam ciptaan, maka yang akan kita temukan adalah sifat-sifat dari ciptaan itu. Kita tetap hanya ketemu sifatnya, bukan hakikatnya. Sebab hakikat berbicara tentang suatu esensi atau unsur asazi di sebalik sifat. Sesuatu yang tidak terdeteksi dengan menggunakan VAKOG. Sesuatu yang tidak bisa dipikirkan, sesuatu yang tidak bisa dibahas. Sesuatu yang hanya bisa kita percayai dan yakini. Sesuatu yang hanya bisa kita INGAT (DZIKIR) akan “keberadaannya, wujudnya”, tanpa kita harus memikirkan seperti apa bentuknya, rupanya, warnanya, suaranya, rasanya, baunya, getarannya, gelombangnya, materinya, dan bilangannya. Kita hanya berkata: Ada…!. Kita hanya bisa mengangguk dan tersenyum mengiyakannya.

Contoh perjalanan ilmu untuk mencari hakekat ini adalah:

Kita bisa membedakan dengan jelas mana yang meja atau kursi, mana yang sendal jepit, dan mana yang kain baju yang kita pakai. Karena sifatnya masing-masing memang berbeda. Akan tetapi kalau kita perhatikan dengan teliti, hahekat dari meja dan kursi itu adalah KAYU, hakikat dari sandal jepit itu adalah GETAH, dan hakikat dari kain baju adalah KAPAS.

Artinya dengan melihat meja, sendal jepit, dan kain, kita tahu disebaliknya ada esensi dari masing-masing benda itu, yaitu kayu adalah esensi dari kursi, getah adalah esensi dari sendal jepit, dan kapas adalah esensi dari baju. Jadi, dengan melihat sifat-sifat dari sebuah ciptaan, kita sudah tahu apa hakikat disebalik ciptaan itu. Untuk contoh ciptaan seperti diatas, kita tahu bahwa hakikatnya adalah kayu, getah, dan kapas.

Dengan mengetahui bahwa hakikat dari meja, sendal jepit, dan baju adalah kayu, getah, dan kapas, maka kitapun segera tahu bahwa kayu kayu, getah, dan kapas itu berasal dari POHON. Maka posisi pohon disini disebut sebagai alamat terakhir bagi untuk berhenti berpikir. Akhir dari ilmu pengetahuan kita untuk mengetahui hahekat dari sebuah benda yanng sifat-sifatnya bisa saja berbeda, tetapi hahekatnya ternyata sama. Kalau hakekatnya sama maka, disitulah kita berhenti berpikir, kita telah bermakrifat kepada POHON itu sebagai pemilik dari hahekat itu, sebagai pemilik dari esensi itu.

Begitu kita melihat meja sesuai dengan sifat-sifatnya, maka kita pun segera mengetahui bahwa hakikat dari meja itu adalah kayu, sehingga kitapun segera sadar bahwa asalnya ternyata adalah dari POHON. Dengan melihat meja, kita bermakrifat kepada POHON. Dengan melihat sendal jepit, kita bermakrifat kepada Pohon. Dengan melihat kain, kita bermakrifat kepada POHON.

Akan tetapi karena ini hanya contoh saja, pohon belumlah ma’rifat yang sebenarnya, karena pohon masih bisa dibahas, dikuliti sampai ke sel-selnya. Kita masih bisa berselisih paham tentangnya. Ini hanya contoh bagaimana kita memperjalankan kesadaran kita saja untuk mencari apa yang ada disebalik sebuah sifat ciptaan. Lanjutkan saja sampai kepada bertemu hakekat yang sebenarnya.

Kalau dalam memahami hakekat itu kita belum menemukan hal yang sama, kita masih bertengkar, kita masih berbual, kita masih riuh rendah, maka artinya kita belum sampai kepada hakekat itu sendiri. Berarti kita masih berada pada pembahasan sifat-sifat, dan sifat itu banyak… !. Dengan begitu, kita tidak akan pernah sampai untuk bermakrifat. Kalau tidak bermakrifat, maka kita tidak akan pernah bisa beribadah dan beramal saleh dengan tenang dan bahagia. Tenang dan bahagia yang sesungguhnya. Bukan tenang dan bahagia yang artificial dengan cara kita mengolah tenang dan bahagia itu melalui olah pikiran kita seperti yang dilakukan dalam praktek-praktek hipnoterapi dan dzikir ala tarekat-tarekat tertentu.

Seperti itu pulalah eratnya hubungan antara Semua Ciptaan dengan Allah Sang Pencipta. Semua Ciptaan adalah sifat, dan Allah adalah titik akhir dari pikiran kita untuk Bermakrifat. Setiap orang (yang percaya), kalau ditanya siapa yang menciptakan bumi dan langit ini, maka jawabannya pastilah sama, yaitu Allah. Itu sudah benar. Akan tetapi Allah yang kita maksud itu sangat-sangat tergantung kepada pemahaman kita tentang HAKIKAT daripada semua ciptaan itu.

Sebab HAKIKAT adalah sebuah jembatan yang sangat penting bagi kita yang akan menghubungkan SIFAT dengan MAKRIFAT. Salah memaknai hakikat (esensi) dari semua ciptaan (sifat), maka salah pula kita dalam bermakrifat. Salah dalam bermakrifat, maka salah pulalah arah kita dalam beribadah atau bersyari’at.

Jadi hubungan itu adalah sbb: SIFAT – HAKIKAT – MAKRIFAT – lalu SYARI’AT.

Ketika kita berhasil menemukan hakikat atau esensi dari semua ciptaan ini, maka berarti saat itu juga kita akan berhenti untuk berdebat. Kita akan berhenti dalam memperdebatkannya. Kita hanya akan tersenyum penuh arti. Akan tetapi, selagi kita masih sering berdebat dan bertengkar, maka saat itu artinya kita masih berada pada tatanan pembahasan sifat demi sifat dari ciptaan ini. Dan perdebatan itu tidak akan pernah selesai.

Contohnya, karena keliru dalam memaknai hakekat manusia, maka manusiapun dikatakan sebagai keturunan kera. Dari Mr. Google:

“Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.
Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :
Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.
Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.
Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).
Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.
Beberapa Definisi Manusia… dan seterusnya…” (kutipan dari sebuah blog)
Ramai sekali….

Bersambung

 

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *