KUN FAYAKUN (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

 

Oleh Yusdeka Putra (www.yusdeka.wordpress.com)

 

KUN FAYAKUN

Pertanyaan pertama adalah: “kepada apa atau siapa Allah menyampaikan kalimat KUN itu untuk pertama kalinya?”, sehingga kemudian sejak itu wujudlah alam ciptaan Allah dalam berbagai bentuk dan dimensi (ruang dan waktu).

Jawaban dari pertanyaan pertama ini akan menentukan arah KETAUHIDAN kita kepada Allah. Salah menjawabnya maka salah pula arah TAUHID kita kepada Allah.

Kalau jawabannya adalah kepada sesuatu yang belum ada, kepada ketiadaan, bahwa Allah berfirman “KUN” itu kepada ketiadaan, lalu ketiadaan itu berubah menjadi ada, menjadi ciptaan, maka saat itu juga lunturlah TAUHID kita. Sebab dengan jawaban kita itu berarti pada saat Awwal itu ada DUA YANG WUJUD, yang ada, yaitu ALLAH dan KETIADAAN. Ada dua. Ada Allah dan ada Ketiadaan.

Apalagi kalau jawabannya adalah, Allah berfirman kepada sebuah ciptaan, lalu kemudian ciptaan itu menjelma menjadi ciptaan-ciptaan yang lainnya. Ini lebih tidak bertauhid lagi. Sebab saat Awwal itu terang-terangan ada dua wujud yang ada, yaitu Allah dan suatu ciptaan-Nya. Jadi ada dua pada saat awwal itu. Jelas sekali saat itu juga runtuhlah TAUHID kita.

Padahal Tauhid mensyaratkan bahwa Yang Awwal sebelum adanya ciptaan hanyalah semata-mata Dzat Yang Tunggal, yang Ahad. Ketiadaanpun tidak ada. Satu ciptaan sekecil apapun juga tidak ada. Yang ada hanyalah semata-mata Dzat Wajibul Wujud saja. Sendiri.

“Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepada-Nya: Jadilah…, lalu jadilah ia.” Al Baqarah 117”.

Di dalam berbagai terjemahan al Qur’an dan pembahasan-pembahasan makrifat selalu saja dikatakan kepada siapa Allah berkata KUN itu adalah kepada-nya dengan “n kecil”. Artinya saat berkata KUN itu, Allah berkata kepada sesuatu selain daripada Dzat-Nya sendiri. Dengan begitu maka lunturlah Tauhid kita.

Oleh sebab itu, orang yang BERTAUHID akan menjawab pertanyaan pertama itu: bahwa sabda “KUN” itu ditujukan Allah kepada Dzat-Nya sendiri, karena memang saat itu hanya Dzat-Nya saja Yang Ada. Yang Wujud. Tiada apa dan sesiapapun yang ada saat itu selain Dia. Ketiadaapun tidak ada. Dzat-Nya adalah Wajibul Wujud.

Engkaulah Dzat yang mendahulukan, …, tidak ada Tuhan selain Engkau, Terjemahan Sunan At Tirmidzi Bk 5, 342 (1993)

Pada permulaan Allah swt saja yang ada dan tiada apapun bersama-Nya, Terjemahan Shahih Bukhari, Vol 9, 381 1987)

Dia hanya mengatakan kepada-nya(Nya): “Jadilah”. Lalu jadilah ia (semua ciptaan), Al Baqarah 2: 117

Jadi dengan begitu, Allah berkata Kun kepada Dzat-Nya sendiri, lalu dari Dzat-Nya itu terciptalah semua ciptaan. Ya…, semua ciptaan.

Pertanyaan kedua adalah: “Apakah KESEMUA Dzat-Nya yang menjadi KESEMUA ciptaan termasuk RUANG dan WAKTU ?”.

Ketepatan kita dalam menjawab pertanyaan kedua ini amatlah sangat penting sekali. VVIQA (Very Very Important Question and Answer).

Jawaban dari pertanyaan yang kedua inilah yang telah melahirkan berbagai konsep yang nanti akan mewarnai perkembangan agama islam dan semua paham dan kepercayaan yang ada di dunia ini dari dulu sampai dengan sekarang dan yang akan datang.

Kenapa begitu…?
Karena jawaban dari pertanyaan yang kedua inilah nantinya yang akan membawa kita untuk mengetahui HAKIKAT daripada SEMUA CIPTAAN, termasuk HAKIKAT kita sebagai MANUSIA.

Salah dalam jawabannya, maka kita tidak akan pernah sampai memahami HAKIKAT dari semua ciptaan ini termasuk diri kita sendiri. Dengan begitu, kita nantinya akan selalu hanya berhenti pada tatanan SIFAT dari ciptaan. Kita selalu berkutat dan sibuk membahas SIFAT-SIFAt Ciptaan. Kita sibuk membahas sifat manusia, sifat si fulan, sifat alam, sifat materi, sifat energi, sifat getaran, sifat quantum, sifat gelombang, sifat partikel, sifat… berbagai ciptaan yang memang tidak terbatas banyaknya dan ukurannya. Sibuk dan ramai…, riuh rendah seperti berbalas pantun.

Karena memang yang terlihat, terdengar, terasa, terbaui, terkecap dengan seluruh panca indera kita adalah SIFAT-SIFAT dari ciptaan. Kalau dibahas, maka akan ramai sekali dan tidak akan sampai kepada hakikatnya.

Misalnya, ada yang mencoba membahas hakikat manusia seperti kutipan berikut ini:

Hakikat manusia adalah sebagai berikut Google, Pak Guru Online :

• Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

• Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

• yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.

• Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

• Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati

• Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas

• Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.

• Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Atau:

Hakikat manusia, Mr. Google:

Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan Yang Maha Esa paling sempurna diantara makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia dikatakan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dikarenakan manusia mempunyai akal pikiran, sehingga manusia dapat menggunakan akal pikirannya untuk bertindak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku dimasyarakat serta mampu berkomitmen dengan nilai-nilai yang ada. Selain memiliki akal pikiran manusia juga memiliki jiwa dan roh yang tidak dapat dipisahkan. Jiwa dan roh tersebut melekat pada tubuh (raga) manusia. Dengan adanya komponen tersebut, oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, selalu berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial dan budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

Semua pembahasan tersebut diatas belum sedikitpun masuk dan menyentuh Hakikat manusia. Semuanya masih berada pada tatanan membahas sifat manusia. Karena bicara tentang HAKIKAT kita akan bercerita tentang ESENSI, Yang sebenarnya, yang hakikinya dari semua ciptaan ini.

Salah dalam BERHAKIKAT maka salah pula kita nantinya dalam BERMAKRIFAT. Pasti. Kita tidak akan bertemu dengan Sang Wajibul Wujud. Misalnya, kalau kita salah dalam memahami HAHEKAT manusia, maka akhirnya kita akan memakrifati diri kita sendiri sebagai Tuhan, memakrifati Nabi Isa sebagai Tuhan, memakrifati alam sebagai Tuhan, memakrifati Nur Muhammad sebagai Tuhan, memakrifati guru-guru kita sebagai Tuhan.

Salah dalam BERMAKRIFAT, ya beginilah jadinya kita umat Islam saat ini. Kacau-balau, centang-perenang, hiruk-pikuk. Lalu kitapun salah pula dalam beramal. Ini yang sangat menakutkan sekali.

Untuk lebih jelasnya nanti kita akan melihat kekeliruan dalam berhakikat ini dalam konsep konsep: Wahdatul Wujud, Ittihad, Hulul, Baqa-Billah, Nur Muhammad, Insan Kami, Syatahat, dan Rabitah Mursyid (untuk tarekat). Sehingga banyak pula yang keliru dalam memakrifatkan diri dan ciptaan. Diri sendiri dikira Allah, Allah dikira diri sendiri, makanya dalam beragama kita santai-santai saja. Wong sudah merasa diri Allah. Manusia lain juga dikira Allah, Guru dikira Allah, Nabi Isa dikira Allah, makanya penghormatan kita kepada manusia lain terutama yang berkuasa dan perpengaruh kepada kita sangat berlebihan sekali. Bahkan Alam juga dikira Allah, sehingga melahirkan berbagai acara penghormtan kepada alam yang aneh-aneh. Kacau sekali.

Bersambung

 

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *