PAHAM NUR MUHAMMAD (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

 

Paham Nur Muhammad ini juga tidak kalah rumitnya kalau kita membaca dari buku-buku yang banyak beredar saat ini. Padahal intinya sederhana saja. Bahwa sebelum Allah swt berfirman “Kun”, SEPARUH (SETENGAH) dari Roh atau Nur-Nya menjadi Roh ataupun Nur Muhammad. Maka apabila kemudian Allah swt berfirman “Kun”, Allah menujukan Sabda-Nya itu kepada Roh ataupun Nur Muhammad. Dan dari Nur Muhammad itulah kemudian semua ciptaan tercipta. Maka dengan begitu Roh ataupun Nur Muhammad boleh dikatakan sebagai Unsur Hakiki ataupun HAKIKAT dari semua ciptaan.

Dilihat dari sisi ilmu Tauhid, paham ini sudah keluar dari Tauhid. Sebab ketika Allah mulai mencipta dengan sabda KUN, saat itu “sudah ada” dua wujud yang ada. Ada Allah dan ada Nur Muhammad. Allah bersabda KUN kepada Nur Muhammad, lalu kemudian seluruh Nur Muhammad pun berubah menjadi seluruh Ciptaan.

Padahal tauhid mensyaratkan bahwa Wujud Yang Awwal, wujud yang ada sebelum Allah berkata KUN, hanyalah semata-mata Dzat Allah Yang Maha Indah, Dzat Dia Yang Maha Agung. Dzat Wajibul Wujud. Dzat Semata Wayang. Ketiadaan saja tidak boleh ada atau exis saat itu. Ciptaan walau sekecil apapun juga tidak boleh ada, apalagi kalau ada wujud yang lain yang sebanding besarnya dan serupa dengan dia yaitu Nur atau Roh Muhammad. Mau tidak mau, kalau ingin bertauhid tentunya, Nur Muhammad inipun haruslah tidak ada. Wajib tidak ada. Kalau masih ada maka kita akan kehilangan tauhid kita kepada Allah. Karena menurut paham ini Allah telah membelah Diri-Nya menjadi dua bagian. Separuhnya tetap menjadi Diri-Nya dan separuhnya lagi menjadi Nur Muhammad. Lalu kepada separuh Diri-Nya yang sudah menjadi Nur Muhmmad itulah Dia berfirman KUN. Sehingga kemudian dari Nur Muhammad itulah terciptanya semua ciptaan.

Dengan begitu, peran Nur Muhammad menjadi sangat sentral dan penting sekali. Sebab paham ini mensyaratkan bahwa HAKIKAT, ESENSI, UNSUR ASASI dari semua ciptaan ini adalah Nur Muhammad. Kalau begitu, kita mau BERMAKRIFAT kepada apa dan siapa??. Kepada Muhammad kah atau kepada Allah kah?.

Pastilah kita tidak akan pernah bisa bermakrifat kepada Allah, sebab kita masih belum berada pada tatanan Hakikat yang sebenarnya dari semua ciptaan ini. Nur Muhammad masih bisa dipertentangkan, masih bisa diperdebatkan. Kita masih harus mencari-cari Nur Muhammad itu di dalam WIRID kita yang banyaknya bisa ratusan ribu kali dengan “menyebut-nyebut” (baik jahar maupun sirr) beberapa kalimat thayyibah seperti tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir. Kemudian dalam wirid itu bisa pula ditambah-tambahi dengan kalimat-kalimat lainnya yang diijazahkan oleh guru atau mursyid yang mengajarkannya kepada kita.

Kira-kira tepatkah kalau saat kita melakukan wirid itu, yang isinya memuja-muji Allah, tetapi di dalam niat kita, di alam ingatan kita, dalam makrifat kita, malah kita sedang mengharap-harapkan munculnya Nur Muhammad yang terang benderang di depan mata (mata hati) kita?. Dan itupun harus kita lakukan berlama-lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Kita akan menjadi sibuk tak karuan. Tapi tujuannya adalah agar kita bisa melihat Nur Muhammad. Banyak akhirnya kita yang patah ditengah jalan. Kita menyerah dan akhirnya merasa masa bodoh. Karena memang sulit sekali untuk melakukannya. Hanya orang-orang yang selevel Mursyid saja yang katanya bisa mencapai tingkatan ini. Orang awam mana bisa.

Padahal tentang posisi Nabi Muhammad sendiri Allah sudah mewanti-wanti di dalam Al Qur’an:

Dia mendapatimu (Muhammad) sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk (Ad Dhuha 93: 7)

Katakanlah, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku (Muhammad) ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?”, (Al Israa’ 17: 93).

Dan sekiranya aku (Muhammad) mengetahui yang ghaib tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan (Al A’raaf 7: 188)

Dan banyak sekali ayat-ayat al Qur’an dan Al Hadist yang menyatakan bahwa Beliau hanyalah Rasul dan Pesuruh Allah. Tidak Lebih dari manusia biasa seperti kita, hanya saja Beliau diberi Wahyu oleh Allah. Bahkan ketika Rasulullah wafat dan banyak diantara sahabat yang tidak mempercayainya, sayyidina Abu Bakar ra berkata: “Siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah Muhammad sudah wafat. Tetapi siapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka Dia (Allah) kekal abadi”.

Walaupun beliau memang diturunkan oleh Allah kemuka bumi ini sebagai Rahmatan lil ‘alamiin, tapi maknanya bukanlah dengan Beliau menjadi Nur Muhammad. Bukan. Nanti pada bagian yang lain kita akan lihat bagaimana fungsi Beliau sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin ini dengan lebih dalam.

Bersambung

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *