BERMAKRIFATULLAH (By Yusdeka Putra)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

 

Oleh Yusdeka Putra (www.yusdeka.wordpress.com)

Kalau dalam menjalani proses bermakrifat itu kita akhirnya berhasil mengenal Allah sebagai Wajibul Wujud, maka kita disebut sebagai orang yang sudah BERMAKRIFATULLAH, orang yang sudah mengenal Allah. Maka ketika kita mendirikan Shalat, kita akan selalu INGAT kepada ALLAH yang sudah kita kenali itu. Saat Wudu’ kita ingat Allah…, Saat takbiratul ihram kita ingat Allah…, saat membaca setiap ayat do’a iftitah kita ingat Allah, saat kita membaca al fatihah dan ayat-ayat Al qur’an kita ingat Allah…, saat kita rukuk dan sujud dan membaca do’a-do’anya kita ingat Allah…, dari awal sampai akhir shalat kita selalu akan ingat Allah. Bahkan selesai shalatpun kita akan ingat Allah, ketika berdiri kita ingat Allah, ketika duduk kita ingat Allah, ketika berbaring kita ingat Allah, ketika berniaga dan bekerja kita ingat Allah. Tiada satu saatpun di dalam hidup kita yang kita buang-buang dengan melupakan Allah.

Karena setiap saat kita sudah mengingat Allah, maka Allahpun lalu membalasnya dengan Ingatan-Nya kepada kita. Fadzkurunii adzkurkum…!. Ingat kita dibalas oleh Allah dengan Ingat-Nya. Sebagai tanda bahwa Allah telah membalas ingat kita itu, Dia mengirimkan RIQQAH ke dalam dada kita. Dada kita dialiri rasa dingin sejuk seperti sedang diguyur dengan air es. Rasa dingin itu menjalar keseluruh tubuh kita. Bulu roma kita berdiri. Kulit kita menggigil halus, hati kita menggigil lembut. Butir-butir air mata kita berloncatan keluar dengan sangat deras, mereka seperti berebutan untuk menyambut kebahagiaan yang sedang dicurahkan oleh Allah. Sel-sel tubuh kita bergetar halus menerima Rahmat Allah yang sedang turun itu. “Taqsyairru minhu juludulladzinayakhsyaunarabbahum…, kharru sujjadawwabuqiya…!. Nikmatnya saat itu melebihi rasa nikmat dunia yang ternikmat yang pernah kita rasakan.

Karena memang Riqqah itu adalah bentuk Rahmat Allah yang sedang turun kepada kita. Seakan-akan Allah memberitahu kita agar kita segera berdoa ketika itu juga. Nabi pernah bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “ightanimuu ad du’a ‘inda riqqati fa innaha rahmah…”, segera berdo’a saat di hatimu terasa ada riqqah sesungguhnya itu adalah rahmat yang sedang turun.

Dengan tanda yang diberikan oleh Allah bahwa Dia telah mengingat kita pula, maka setiap kali ada permasalahan dan problematika hidup yang menimpa kita, semua itu tidak sedikitpun lagi membuat kita khawatir, takut dan sedih. Kita tinggal berkata kepada-Nya: “Ya Allah, tidak akan menimpa kami problematika hidup ini kecuali sudah Engkau izinkan. Dzalika taqdirul ‘adziizil ‘aliim, Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Lalu kita tunggu Allah memberikan petunjuk-Nya kedalam Qalbu kita (yahdi Qalbahu)…”. Karena memang bersama Riqqah itu ikut pula turun ilham, hidayah, sakinah, cinta, tenteram, tenang, talinu, lembut. “Tsumma talinu juluduhum wa qulu buhum ilaa dzikrillah…”.

Kualitas dan kuantitas Ilham, hidayah, atau petunjuk Allah yang akan kita terima bersama riqqah yang turun itu sangatlah tergantung kepada seberapa besar kapasitas kekhalifahan Allah dimuka bumi ini yang bersedia untuk kita pikul atau ambil. Kalau kapasitas kita hanya sekedar untuk diri kita sendiri, atau untuk keluarga kita sendiri, maka kualitas dan kuantitas ilham dan hidayah yang akan kita terima itu juga sangatlah sedikit. Semakin besar kapasitas kekhalifahan yang kita pikul itu, maka semakin besar pula kualitas dan kuantitas ilham dan hidayah yang akan kita terima. Tapi, walaupun begitu, ilham atau hidayah itu, ketika kita nanti berbicara tentang Lauhul Mahfuz, semuanya itu sudah di takdirkan, direncanakan, dan tertulis dengan sangat sempurna. Ia hanya tinggal menunggu waktu penzahirannya saja.

Dalam hal ilham ini, kita hanya diberi kesempatan oleh Allah untuk tahu “sedikit lebih awal” dari kejadian atau peristiwa yang sebenarnya. Jadi Ilham itu hanyalah sekedar pemahaman yang didahulukan, atau penyingkapan yang didahulukan, atau pemberitahuan yang didahulukan, atau pengalaman yang didahulukan, atas peristiwa, problematika, atau permasalahan masa depan yang akan kita hadapi, atau solusi-solusi yang kita butuhkan terhadap permasalahan masa lalu kita untuk kita pakai nantinya dalam menjalankan fungsi kekhalifahan kita di muka bumi ini. Tegasnya, ilham itu bukanlah sebagai tanda bahwa kita adalah seorang yang hebat. Tidak. Tapi itu hanyalah salah satu pertanda saja bahwa kita disayangi oleh Allah.

Tapi ingatlah bahwa kita tidak mencari Riqqah itu, kita tidak mencari-cari Ilham itu. Riqqah dan ilham itu datang dengan sendirinya begitu kita mengingat Allah. Jangan mengingat Riqqah, jangan mengingat Ilham, karena pasti kita tidak akan mendapatkannya dengan begitu. Ingatlah hanya Allah…

Mengingat Allah setiap saat dalam keadaan sadar (tidak tidur dan tidak mabuk) inilah yang akan membuahkan rasa IHSAN kedalam dada kita. Rasanya seperti kita kembali berada di Alam Azali. Ada keakraban yang amat sangat antara kita dengan Allah. Ada rasanya, rasa diawasi, rasa sungkan, rasa dekat, rasa dibela, rasa diberitahu, rasa dilindungi. Dan rasa IHSAN ini pulalah yang akan membuat kita bisa merasakan bahwa kita sedang berada dijalan yang salah. Karena saat salah itu kita akan merasa ditinggalkan oleh Allah, kita dibenci oleh Allah, kita dimarahi oleh Allah. Dan itu alangkah menyakitkan sekali. Tersiksa sekali. Tentu saja perubahan-perubah rasa seperti ini tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang belum pernah merasakan rasa IHSAN ini.

Sebab barang siapa yang tidak mengenal Allah, kemudian dia melakukan shalat, maka shalatnya pastilah shalat orang munafik. Dia sedikit sekali mengingat Allah di dalam shalat itu, ingatannya berkelana kian kemari, dia malas-malasan, dia ria. Saat dia menyebut Allahu Akbar, ingatannya berada pada berbagai benda dan atribut miliknya. Saat dia sujud dan rukuk yang katanya menghormati dan menyembah Allah, ingatannya sedang berada pada harta benda, pekerjaan, dan dunia kesenangannya. Padahal munafik di hadapan Allah, maka munafik pulalah dia dihadapan sesama manusia. Pasti. Mencuri, korupsi, berzina, dan perbuatan maksiat lainnya bisa dia lakukan dengan sangat mudah dengan bungkus lahiriahnya seperti orang yang berpendidikan tinggi, agamis, terhormat, dan alim.

Orang-orang yang tidak bermakrifat kepada Allah pulalah yang akan selalu datang minta pertolongan kepada yang lain, selain Allah, setiap kali dia menghadapi masalah di dalam hidupnya. Dia akan datang minta pertolongan kepada dukun, kepada hipnoterapis, kepada terapis-terapis lainnya yang berkedok spiritualis, kepada ahli getaran, ahli ilmu hikmah, dan ahli ilmu quantum-quantum lainnya yang katanya hebat-hebat dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan menyelesaikan setiap persoalan hidupnya. Bahkan sekedar untuk berdo’a kepada Allahpun dia sudah tidak sanggup lagi, sehingga dia selalu dan selalu akan minta tolong kepada orang-orang yang berlagak hebat itu untuk dido’akan.

Sungguh barang siapa yang tidak bermakrifat kepada Allah, maka dia akan bermakrifat kepada Tahgut. Ketika kita berpaling dari ingat kepada Allah yang Maha Rahman, maka seketika itu juga Allah akan mengirim dan membiarkan syetan, Qarin, untuk menyertai dan menemani kita dalam setiap langkah kita dalam menjalani kehidupan kita. Lalu Qarin itu akan membuat kita bertambah lupa dari mengingat Allah. Ia akan memperdaya kita dengan angga-angan kosong dan berbuat lalai. Ia akan memperelokkan pandangan mata kita terhadap amalan-amalan jahat yang kita lakukan. Ia memperdayakan kita seakan-akan dalam kesesatan itu kita telah berada dalam petunjuk dan hidayah. Ia akan membisikkan dan mengajak kita untuk melanggar perintah Allah. Ia akan menyebabkan kita mudah melakukan permusuhan dan kebencian diantara kita. Ia akan menjadikan sahabat kita menjadi musuh kita. Ia akan membuat istri dan anak-anak kita menjadi musuh kita.

Bersambung…

 

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

1 Response

  1. Achmad says:

    Assalamu’alaikum….kenapa kita hanya mengingat asmaNya saja padahal di dalam shalat ada dzatNya,sifatNya serta af’alNya..apabila kesadaran kita mutlak pada asma,dzat,sifat dan af’al maka sungguh Allah sudah tidak berhuruf yang ada hanya ….Dia…Nya..Hu….kita manusia sudah tidak ada ,jasad kita hanya baju alias benda mati….innalillahi wa innailaihi roji’un

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *