Safari Dakwah Yamas Indonesia Hadirkan Kebahagiaan Melalui Kedekatan dengan Allah. Bandung – Ahad, 6 Juli 2025
Antusiasme peserta begitu terasa sejak pagi hari saat ratusan jamaah memadati Ballroom Masjid Agung Ibis Trans Studio Bandung untuk mengikuti Kajian Tematik Sehari Penuh Safari Dakwah Yamas Indonesia. Kajian yang mengusung tema “Kebahagiaan Melalui Kedekatan dengan Allah” ini menjadi momentum ruhani yang mempertemukan pencari makna hidup dalam suasana ilmu, dzikir, dan penyadaran diri yang dalam.
Acara ini dihadiri oleh para akademisi, generasi muda, tokoh masyarakat, serta berbagai kalangan lainnya, yang datang dengan semangat untuk memperdalam hubungan dengan Allah, menemukan kedamaian batin, dan menghidupkan kembali nilai-nilai profetik dalam kehidupan sehari-hari.

🔹 Kedalaman Materi dari Para Pemateri
Acara dibuka oleh Ust. Abdul Aziz, SE dengan tema “Pengenalan Dasar Kepada Tuhan”. Dalam sesi ini, beliau mengajak peserta untuk meletakkan fondasi tauhid secara jernih: mengenal Allah bukan hanya lewat nama-nama-Nya, tapi juga menyadari kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa mengenal Tuhan adalah langkah awal menuju ketenangan dan orientasi hidup yang lurus.
Dilanjutkan dengan sesi “Muhammad Rasulullah Rahmatan lil ‘Alamin”, Ust. Abdul Aziz mengajak hadirin menelusuri akhlak dan misi kenabian Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kasih sayang universal. Peserta diajak memahami bahwa kebahagiaan hidup tak akan diraih tanpa meneladani jalan hidup Nabi dalam sikap, ibadah, dan cara memandang dunia.
Setelah istirahat, Dr. Taufiqur Rahman, M.Sy. (Al Hafidz) membawakan materi “Kesadaran Diri”, menyentuh aspek introspektif tentang bagaimana manusia bisa tersadar dari kelalaian. Ia memandu peserta menyelami lapisan hati dan pentingnya membebaskan diri dari penyakit ruhani seperti sombong, lalai, dan cinta dunia berlebihan. Kesadaran diri menurut beliau adalah gerbang pembersihan hati.
Sesi sore ditutup oleh Ir. Yusdeka Putra, MSIE. dalam dua bagian. Pertama dengan tema “Ibadah”, beliau menyampaikan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan ruang perjumpaan ruhani yang menghadirkan rasa, adab, dan kesadaran hadir di hadapan Allah. Lalu sesi terakhir adalah “Ibadah & Praktik Dzikrullah”, di mana peserta dibimbing langsung untuk berdzikir secara sadar, khusyuk, dan terarah. Suasana berubah menjadi hening, damai, dan penuh rasa haru — seolah ruh peserta disentuh oleh kelembutan ilahi.




KOMENTAR