TESTIMONIAL

Testimonial dari sahabat-sahabat yang mempelajari tasawwuf dari Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff:

 

  1. Yusdeka Putra
  2. DT
  3. Ahmad Saifuddin
  4. Puryanto
  5. Sahry Ramadhan
  6. Much Tohar
  7. Sulistyo
  8. Winanto
  9. Ahmad Eyi
  10. Agus Tiyono
  11. Bram Octavian
  12. Andi Sulistiyo
  13. Tati Haryati
  14. Suharmono
  15. ES
  16. Taufiequrrahman
  17. Aji Jaya
  18. Zainul Al Aswadi
  19. Sri Puji Astuti
  20. Mellyana Balqis
  21. Ellsy
  22. Didik Suharyanto
  23. Mujiburrahman
  24. MM
  25. H.A.A
  26. Saiful Mahdi
  • Yusdeka Putra (Karyawan BUMN, pemilik www.yusdeka.wordpress.com)

 

MENITI TAKDIR YANG BERLIKU…

yusdekaTulisan ini sengaja saya buat untuk Sahabat Yamas Indonesia, sebagai testimoni saya dalam menempuh perjalanan panjang saya, yang entah bagaimana, sepertinya memang sudah ditakdirkan Allah untuk selalu bersentuhan dengan jalan spiritual atau dalam olah raga dan olah jiwa.

Selepas SMA-I Bukitinggi Tahun 1980, saya mulai bersentuhan dengan Ilmu Al Hikmah yang saya dapatkan dari sebuah perguruan di Kampung Ambon, Jakarta Timur. Saat itu pulalah awal saya mulai berkenalan dengan dunia ilmu kontak dan dunia ilmu hipnotis. Sebelum-sebelumnya saya hanya belajar ilmu-ilmu itu dari membaca berbagai buku saja.

Bangga rasanya saat itu ketika saya turun naik bis kota berkeliling Jakarta. Turun dari satu terminal keterminal yang lainnya, menantang copet yang saat itu memang sangat banyak berkeliaran di dalam bis kota dengan lipatan koran ditangan sebagai ciri utama mereka.

Tahun 1984, saat saya masih kuliah di ITB, saya mulai bersentuhan lagi dengan sebuah perguruan Silat yang tempat latihannya adalah di bilangan Gudang Utara, Komplek Militer, Bandung. Sungguh gagah rasanya saat itu, dengan sabuk merah dengan pita kecil berwarna tertentu melilit di pinggang saya, latihan fisik yang sangat berat diimbangi dengan pengolahan pernafasan, sungguh merupakan pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.

Latihan pembersihan CAKRA, MEDITASI, dan pengolahan berbagai GETARAN adalah bentuk rutinitas keseharian saya disamping kuliah yang tentu saja sangatlah ketat.

Pembajaan diri ke gunung-gunung di sekitar Bandung, dan di beberapa Pantai di Selatan Jawa, juga sangat sering saya ikuti. Kaki melepuh, tangan lecet dan sedikit luka, kaki bengkak-bengkak saat ujian naik tingkat adalah beberapa hal sudah sangat biasa saya alami.

Pada saat yang sama, saat itu saya seperti sedang mencari-cari sesuatu yang saya sendiri tidak tahu yang saya cari itu apa. Yang ada hanya seperti sebuah kerinduan untuk menemukan sesuatu yang rasanya sangat-sangat dekat. Akan tetapi dengan berbagai latihan yang saya lakukan itu, walau sekalipun dengan meditasi yang terdalam di atas gunung yang sepi di CIATER BANDUNG, kerinduan itu seperti tak pernah terpuaskan. Ada sih sesaat terasa lega dan tenang, rasa rindu seperti terhapus untuk sesaat, akan tetapi hanya dalam hitungan setarikan nafas kemudian, kerinduan itu kembali membuncah. Rindu yang membuat dada terasa kering kerontang.

Tanpa terasa, dalam dunia kerja yang saya lalui di sebuah BUMN di Cilegon, sampai dengan tahun 1991, latihan-latihan dari perguruan silat itu tetap saya lakukan. Ada memang terputus sebentar dari tahun 1992-1995, yaitu saat saya dibiayai oleh negara (Program STAID sebagai buah tangan dari Bapak Habibi) untuk Kuliah lanjutan di Las Cruses, USA. Namun sepulang dari kuliah itu, tahun 1995, saya masih melanjutkan kembali latihan-latihan di perguruan silat itu, walau intensitas fisiknya sudah mulai berkurang. Saya lebih banyak hanya mengolah PERNAFASAN, CAKRA, GETARAN, dan MEDITASI saja.

Walaupun tengah melakukan semua kegiatan itu, saya alhamdulillah juga masih tetap tidak pernah meninggalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Hanya saja kadangkala saat shalat itu saya malah gabungkan dengan pengaturan nafas dan berkonsentrasi kepada beberapa cakra tertentu, terutama cakra dada. Ya…, saya seperti sedang bermeditasi saja layaknya. Tapi bacaan dan gerakan saya adalah bacaan dan gerakan shalat. Aneh sekali sebenarnya. Shalat kok malah latihan nafas. Tapi… ya hanya itulah yang bisa saya lakukan. Karena tanpa itu, pikiran saya pasti akan melayang-layang entah kemana.

Saat melakukan itu, tenangnya ada sih memang terasa, tapi kerinduan, yang entah kerinduan kepada apa dan siapa, itu malah semakin sering datang membuncah. Kerinduan itu pulalah yang membawa saya untuk ikut melakuan SULUK di sebuah desa di Kaki gunung Merapi.

HALABAN, itulah nama desa tempat saya suluk itu. Tahun 1999, di dalam sebuah surau sederhana, sunyi dan terpencil, di lembah yang penuh dengan tumbuhan itu, saya habiskan 20 hari ramadhan di dalam proses suluk yang menurut saya itu adalah cukup berat. Di dalam surau yang gelap, karena semua pintu dan jendelanya ditutup itu, siang dan malam hanya saya isi dengan dzikir Lisan, Dzikir Qalb, dan dzikir Sirr di dalam kelambu kecil yang saling berdempetan dengan kelambu yang lain. Di dalam kelambu itu pulalah saya tidur dan makan selama 20 hari itu. 

Pada hari kedua suluk yang saya lakukan, mulailah terjadi proses yang memang wajar bagi seseorang yang sedang suluk. Saat melakukan Tawajuh, Rabithah, dan dzikir melingkar setelah Shalat Wajib, tubuh saya mulai menggigil dan bergetar hebat. Saat itu sampai saya berguling-guling dan menggelepar-gelepar seperti hewan yang sedang disembelih.

Semakin saya kuatkan dzikir saya, semakin kuat pulalah fenomena itu terjadi. Dari dalam dada saya seperti ada yang sedang bergera-gerak ingin naik keatas dan keluar. Tapi mursyid saya waktu itu hanya duduk disamping saya seperti sedang mendoakan saya.

Pas hari raya Idul Fitri, saat itu saya masih ada di rumah suluk itu, siangnya (waktu dhuha) mulailah terasa ruh saya seperti berdesir keluar. Saya seperti meninggalkan tubuh saya, dan saya jadi bebas pergi kemana-mana. Saya terbang ke awan, masuk ke alam yang berwarna warni dan indah. Sampai di tempat yang terang benderang tapi tidak ada mataharinya. Bahkan kalau mau ke Mekkah rasanya sekejap saja saya sudah sampai disana. Entah ia entah tidak, rasanya kening saya juga sempat dikecup oleh Nabi di Masjid Medinah.

Sejak itu, rumah dinas saya di tempat saya bekerja, mulai ada sebuah kamar khusus untuk saya berdzikir. Anak dan Istri saya, saya larang masuk saat saya berdzikir itu. Yang saya harapkan saat itu adalah Ruh saya bisa kembali keluar dari tubuh saya. Karena dalam pemahaman saya, yang saya dapatkan dari mursyid saya saat itu, keluar Ruh dari tubuh itulah yang dinamakan MIKRAJ. Kalau bisa malah saat sedang shalat ruh saya itu harus bisa keluar.

Dari hari kehari begitu terus. Tapi walaupun begitu, kerinduan akan sesuatu, yang itu entah apa, selalu menggedor-gedor relung hati saya untuk terpenuhi. Rasanya masih ada yang tidak kena dengan apa yang saya lakukan saat itu. Rasanya bukan begini deh yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kok sulit dan ribetnya nggak ketulungan begini.

Dalam ibadah Haji Milenium tahun 2000, di Padang Arafah saya tidak banyak berdo’a dari buku yang diberikan oleh Departemen agama. Sebab buku do’a-do’a itu hilang diatas mobil dalam perjalanan dari Jeddah ke Mekkah. Saya hanya duduk bersimpuh dan berdoa agar saya dituntun oleh Allah untuk menemukan jalan keluar dari kerinduan yang entah kenapa malah semakin memuncak itu.

Dan…Sepulang dari haji itu, tahun 2001 awal, tiba-tiba saja saya telah mengikuti latihan spiritual yang saat itu dinamakan PATRAP. Saya begitu dekat dengan H. Slamet Utomo dan Ustad Abu Sangkan yang merupakan motor penggerak utama Patrap.

Bertahun-tahun, setiap minggu, saya bersedia datang dari Cilegon ke Bekasi yang jaraknya sekitar 140 Km, untuk berlatih bersama Ustad Abu Sangkan. Bumi perkemahan Cibubur juga merupakan tempat langganan kami waktu itu untuk melakukan PATRAP GERAK dan PATRAP JALAN PAGI.

Tahun berganti tahun, pada 2012, akhirnya saya meninggalkan metoda latihan PATRAP dan bergabung hanya dengan Ustadz Abu Sangkan saja, yang kemudian hanya bergerak dalam mengembangkan Shalat Khusyu saja. Wadahnya adalah Shalat Center.

Saya mengikuti berbagai latihan yang Ustadz Abu Sangkan lakukan dengan semangat yang tetap tidak berubah dari saat-saat awal. Apalagi sejak Beliau memakai Kitab Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, kajian demi kajian saya hadiri, uzlah demi uzlah saya ikuti.

Ilmu dari kitab Madarijus Salikin itu secara logika sangat bisa diterima oleh akal. Karena buku itu lahir dari proses laku yang dialami langsung oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Buku yang ternyata masih tetap bisa bertahan selama ratusan tahun.

Dengan semua itu, ditambah dengan umur saya yang sudah beranjak senja, saya seharusnya akan menjadi lebih mudah untuk mendapatkan apa yang selama ini saya rindukan. Harusnya begitu. Akan tetapi kenyataannya berkata lain. Tiga belas tahun lamanya saya belajar seperti ini, selama itu pula saya sepertinya tidak memahami apa yang saya pelajari. Entah memang karena sayanya yang bodoh atau apa. Saya sendiri tidak tahu.

Hal yang paling saya takutkan adalah ketika saya di suruh jadi IMAM SHALAT dalam acara uzlah atau kajian-kajian lain yang dihadiri oleh banyak orang. Karena banyak yang katanya bisa membaca bahwa dalam saya mengimami shalat itu, saya tidak nyambung. Nggak ada getaran imannya. Menakutkan sekali. Saya nyaris putus asa. Saya akhirnya tetap bertanya-tanya. Saya ini sebenarnya sedang mencari apa sih?. Kenapa sulit sekali?.

Sejak tahun 2013, saya mulai jarang mengikuti acara-acara yang diadakan di Shalat Center. Disamping saya sudah berputus asa, ditambah pula dengan keterbasan fisik saya yang sudah mulai menua untuk bepergian jauh, saya lebih banyak berada di rumah saja. Saya hidup hanya menjadi orang biasa saja. Hanya saja shalat malam dan puasa sunnah senen kamis selalu saya lakukan sejak tahun 2012 itu. Tapi saya tetap memendam rindu yang belum kesampaian

sampai saat itu. Tahun 2014, seorang teman mengantarkan link : FARHAN4U2C ke-email saya. Yang isinya saat itu adalah mengenai MAKRIFATULLAH. Klik pertama kali itu, rasanya sangat mengena di dalam hati saya.

Bulan Februari 2014 saya langsung datang menghadiri kajian Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff di Singapore. Kali berikutnya saya datang lagi ke Singapore. 16 Video kajian asas saya download dari Youtube. Sejak itu, berbagai pertemuan dengan Beliau sudah saya ikuti. Di Semarang, Ciloto, Jogja, Makassar, dan insyaallah bulan oktober 2015 ini di Jakarta.

Sampai sekarang saya sudah mendownload sekitar 130 video Syarahan Beliau yang juga sudah saya konversi ke WMA sehingga saat saya pergi kemana-mana, saya masih bisa mendengarkan syarahan Beliau. Dengan kunci ilmu yang ada ditangan Beliau, puzzle-puzzle kehidupan, yang selama ini saya jumpai bercerai berai, dapat disatukan oleh Beliau dalam sebuah pemahaman yang Jati. Dan sejak itu pulalah secara sangat mengejutkan, rasa RINDU yang selama ini membuncah seperti telah menemukan MUARANYA. Tidak ada lagi masalah. Tidak ada lagi takut. Tidak ada lagi sedih. Tidak ada lagi khawatir. Tidak ada lagi tanya kenapa. Semuanya ternyata sudah diatur terlalu sempurna oleh Allah untuk saya bisa menemukan cela dan tanya.

Sekarang…, dipenghujung umur saya, saya sudah berketetapan bahwa saya hanya akan memakai dan mengabarkan ilmu yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff saja, sampai akhir hayat saya, kecuali kalau Allah menakdir hal yang lain lagi yang harus saya jalani.

Kalau Beliau berkenan, biarlah saya hanya bersikap seperti seorang Bilal terhadap Rasulullah SAW, atau barangkali boleh jadi hanya sebagai seorang jelata saja, yang tidak ada apa-apanya, yang sedang bersikap dihadapan seorang Arif Billah…

Walaupun begitu, dengan semua sahabat saya selama ini, saya tetap tidak ingin memutuskan hubungan silaturahim dengan mereka. Kita hanya berbeda wadah dalam pergerakan, dan berbeda pula dalam hal ilmu yang disampaikan. Dan diatas semua itu, begitulah TAKDIR Allah yang harus saya lalui. Sungguh berliku dan berbelit…

Ya Allah…., hamba menyerah seperti menyerahnya orang-orang yang pertama-tama menyerah kepada-Mu ya Allah…

 

  • DT (Karyawan Service Migas, Jakarta)

Perkenalan pertama saya dengan dunia tasawwuf dimulai sejak sekitar lima tahun lalu ketika saya bertemu dengan kumpulan aforisma Ibnu Athoillah dalam buku Al-Hikam.

Saya begitu semangat memperbaiki amal dan segala macam peribadatannya. Belakangan, saya mempelajari dengan lebih dalam bagaimana mengkhusyui ibadah sholat, dan lain-lain.

Tetapi seperti ada potongan puzzle yang belum pas dan belum menjawab kebingungan saya. Selalu ada yang seperti kurang.

Jawabannya saya temukan pada kajian Ustadz Hussien, yang sangat runut, jelas, dan komplit.

Rupanya, selama saya belum benar-benar mengenal Allah; selama itu pula ibadah akan hampa, karena tak kenal dengan Yang Diibadahi.

Syukur pada Allah, lewat perantaraan Beliau, Ustadz Hussien, yang kembali memperkenalkan tasawuf jalan Nabi-Nabi, saya bisa berangsur-angsur mengenal Allah.

Dulu, saya kira makrifat adalah ilmu elit tingkat tinggi yang hanya bisa diperoleh oleh kalangan khusus dan para wali. Ternyata saya keliru.

ustadz Hussien mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW, saat Beliau memberitahu seorang sahabat yang hendak berdakwah pada kaum Yahudi. Kurang lebih pesannya adalah, kenalkan dulu mereka -kaum yahudi tadi- pada Allah, baru selepas itu beritahu mereka tentang syariat.

Walhasil. Kenal Allah, atau makrifat, adalah pondasi peribadatan, dan hak semua muslim. Dan itu semua tidak -hanya- diperoleh lewat jalan ilham Rabbani para wali, tetapi juga bisa lewat kajian ilmu atau syarahan dari orang yang sudah memahaminya, atau disebut Arif Billah.

  • Ahmad saifuddin (TNI AD)

image

Bismillah, 1994 saya pertama kali mendapatkan bai’at tarikat tertentu, dan setelah berjalan 4 tahunan sudah ada 4 aliran tariqat yang saya tekuni.

Saya sempat setuju bahwa jika sudah sampai hakikat, maka takperlu lagi mejalani laku syariat, tak perlu shalat, tak perlu puasa, bahkan haji ke Mekkah Madinah jauh di luar keinginan.

saya sempat menjadi sombong: mengatasi orang gila yang tidak teratasi oleh 20 orang, bisa menyembuhkan bayi yang bertanduk, dan banyak yang takut dengan “kata kata” saya yang mesti kejadian.

Namun saya kecewa ketika beberapa keinginan sendiri tak kunjung terkabulkan, antara lain sekolah S2 di Inggris (walau saya sudah lolos seleksi dan dapat tempat sekolahnya di Univ Cranfield Inggris), ……

Penurunan laku tariqat semakin terasa pada 2010 dan ketika sedang patah hati dengan tariqat…..masuk aliran yang nggak jelas…..dengan hasil yang semakin nggak jelas…..semakin patah hati…….

Namun Alhamdulillah tepatnya 22 Desember 2010 saya mengikuti pelatihan spiritual yang selanjutnya membangkitkan hati yang patah itu, saya tekuni dengan setiap hari mengkaji dan menerjemahkan kitab “Al Khusyuk Fis Al Shalat, oleh Syeh Dr. Said bin Ali bin Wahf Alqahthany, Edisi pertama 2010, Riyadh”.

Insaa-Allah saya termasuk yang selalu ON atau Connecting, terwujud didalam memperoleh khusyuk di setiap melakukan shalat (mungkin bekas penerjemahan kitab tersebut sangat kuat)…..Dan Ketika di depan Ka’bah saya memohon “ya Allah jadikan hambaMU yang bodoh ini menjadi salah seorang yang dapat membuktikan kebenaran Al Quran)….

Di awwal 2014 sesungguhnya saya sudah menyimak sarahan Ust Hussien dan diam diam saya pakai (dzikirnya)…..dan itulah juga yang membuat saya selalu ON, dan tak sengaja dzikir itulah yang kemudian senantiasa saya pakai sampai lupa sama sekali metode dzikir yang diajarkan didalam spiritual yang sedang saya ikuti saat itu.

Dan karena saya aktip ngikuti artikel seorang teman, suatu ketika saya curiga…jangan jangan orang ini sudah belajar dari Ust Hussien…….belakangan ternyata benar……

Penjelasan sarahan memang menjungkir balikkan paham lama saya, namun karena saya anggap 100 persen logic, maka pelan pelan saya terima dan diam diam saya coba, saya pakai dan mulai saat itu menjadi satu satunya yang saya pakai (dzikirnya), namun tak lama berselang ujianpun datang, ujian yang memaksa saya menggunakan logika yang saya yakini benar, berupa selain harga diri saya (memasuki masa persiapan pensiunpada tgl. 1 Juni 2014), juga kebanggaan diri ( putri saya yang sekolah di Jerman diambil Allah pada tgl. 8 Juni 2014). Insaa Allah saya disiapkan juga untuk dapat menerima itu semua dengan tersenyum.

Dan kebenaran paham dzatiyah ini terasa bahwa kita semakin cenderung memperbaiki laku syariah, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, dan para sahabatnya yang dirahmati Allah.

Semoga Allah Ridla dan menjadikan Ma’rifat ini jalan terakhir saya.

Terimakasih kepada Al Arief ust H. Hussien (rahimahullah) dan teman teman yang menyebabkan ajaran ma’rifat ini sampai ke saya,moga Allah merahmati  semua teman arif billah. Ahamdulillah.

 

  • Puryanto (karyawan swasta)

 

wpid-wp-1440776443050.jpegAssalamualaikum wrwb.

Sahabatku…

Saya lahir dari keluarga dan lingkungan yg kurang peduli dgn tuntunan agama, yg prinsipnya bisa sholat itu baik, tidak sholatpun gak dimarahi.
Sepanjang saya tidak merugikan orang lain sdh dianggap sbg anak baik.

Seiring pertambahan usia dan kebutuhan kepuasan batin, ada sesuatu yg kurang dalam hidup ini.
Utk itu saya mulai mengenali mengikuti, mengerjakan ajaran agama dari yg saya dapat disekolah formal SD, ataupun hasil gethok tular dgn teman yg saya dapat di musholah milik tetangga.

Dari semasa masih muda telah bertahun tahun secara diam diam saya berusaha mencari Tuhan krn prinsip saya waktu itu bahwa didunia ini segala sesuatu yg ada namanya wajib ada bendanya dan prinsip tsb saya berlakukan juga kepada diri Tuhan.

Dari situ saya juga mulai aktif mengikuti toreqoh-toreqoh meski dgn beban amalan yg cukup berat baik berupa puasa maupun wirid nafi isbad dzikir jahar dan siriy hingga dzikir qolby yg wajib diamalkan siang dan malam.

Lebih parahnya saya tidak cukup hanya disitu saya, termasuk orang yg sembarangan /gampangan tanpa filter menerima ajaran tasawuf meski belajar tasawuf tanpa guru syech, mursyid dan hanya dari buku yg saya beli di toko tak sedikit buku yg saya beli menganut ajaran-ajaran pahaman aliran yg sesungguhnya melenceng cenderung tidak jelas.

– Ajaran taukhid muktaqot 50 masuk,
– Ajaran toriqoh masuk,
– Wahdatul wujud masuk,
– Nur Muhammad masuk,
– paham kejawen masuk,

Dan semua itu saya mengimani meyakini sebagai jalan tasawuf yg benar krn saya tidak tau ini benar atau salah saya juga senang2 saja mempraktekankan ajaran yg tertulis dalam buku tersebut, karena semua pahaman saya anggap syah dan benar adanya, yg penting tidak dilarang oleh pemerintah, ataupun MUI dimana didalamnya ada di kuatkan dgn di dukung dalil Alquran dan As sunnah saya anggap sudah pasti benar.

Selama saya tidak berucap mengaku diri sebagai Tuhan dihadapan orang lain, sebagai mana Syeh Siti Jenar, ataupun Mansyur al Halad bagiku saat itu syah syah saja, pada prakteknya saya sering juga mengalami jika sudah masuk dalam diam hening melepas kesadaran jasadiah hingga masuk ke kesadaran ruhaniah tidak bisa membedakan mana aku dan mana Dia. Sesuai petunjuk buku2 yg saya dapat.
(Astaghfirullohal Adzim)

– Bismillahi Allahu Akbar.
Hanya atas kehendak dan ketetapanNyalah pada suatu saat aku diberi tahu ada kajian menarik oleh sahabatku , bpk Suharjono beliau orang dari jember sesama pengikut komonitas pengajian sholat, saat diatas pesawat sama sama dalam perjalanan pulang dari jakarta menuju Surabaya sepulang dari Uzzlah tahunan, yg berlanjut membawaku dikenalkan dgn Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latif.

Seperti biasa berbekal rasa ingin tau aja apa kajian menarik tsb, meski tanpa kenal orangnya, maupun ajaranya baik yg ada di Youtube maupun di syarahan perjalanan ini saya lakukan enteng – enteng saja .

Bermula ikut syarahan Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latif di Jogya lanjut Makasar, ajaran pahaman Dzatiyah yg di titik beratkan pada memahamkan mengamalkan bahwa ciptaan itu tidaklah wujud, ternyata bermakrifat itu bisa simpel sangat mudah, sederhana mudah dipahami dan diterima diamalkan sekalipun oleh orang awam pada kehidupan tasawuf, juga praktis tdk ribet tanpa mahar ini, itu, baik yg berupa finansial maupun laku tirakat seperti ajaran toriqoh yg pernah saya ikuti selama ini.

Melalui ajaran pahaman Dzatiyah Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latif ternyata ajarannya ini mampu jadi pembimbing aqidah bagiku ttg tasawuf jalan para Nabi2 dan wali2 sebagai pembeda paham tasawuf yg lurus dan melenceng.

Sekaligus menyentakkan hatiku bahwa selama ini maski aku secara syariah sdh dijalur yang benar namun dalam dunia tasawuf ternyata sdh cenderung masuk dalam aliran yg sesat.

Semoga kesalahan dan kekeliruan ini cukup hanya menimpaku saja.

Aku berlindung kepadaMu ya Allah dari semua khilaf dan kesalahnku selama ini serta dari godaan syaitan yg terkutuk.

Kini Allah telah hadirkan di tengah kita sorang Mujadid pembaharu dan pelurusan kembali ajaran dunia ketuhanan yg benar beliaulah sang “Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latif”

Terimakasih Ya Robb,, selepas RasullMu baginda Nabi Muhammad SAW Engkau berikan kami kesempatan hidup pada masanya sang “Mujadid Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latif”

Terakhir salam hormat dan takdzim untuk beliau
“sang “Mujadid Arifbillah Ustadz Hussein Bin Abd Latiff” juga semua sahabatku Yamas di Indonesia dan seluruh dunia, terimakasih

Wassalamualaikum wrwb.

 

  • Sahry Ramadhan Abduh (wiraswasta bidang Telekomunikasi dan TI kemanan public (public safety))

Pertama kali mengenal, belajar tentang dzikir dan tassawuf antara tahun 2002 dan 2003, sekitar 13 tahun yang lalu. Itupun mulai kenal dan tertarik, karena sejak ikut rutin shalat berjamaah dan pengajian di mesjid dekat rumah, mesjid At- Taqwa Pamulang Estat. Maklum saya lahir dari keluarga bapak dan ibu yang dibesarkan dilingkungan organisasi masyarajat Islam Muhammadiyah.

Saat pertama kali, ikut majelis dzikir dan dibaiat oleh salah satu tarekat tasawuf terbesar di tanah air ini, terasa sangat menarik dan semangat menggebu2 menjalankan amalan-amalan yang diberikan, padahal bersyarat cukup berat serta diperlukan disiplin tinggi serta istiqamah menjalankannya.

Ketertarikan saya dengan tassawuf ini, disamping perjalanan kehidupan dan umur, juga menginginkan terbukanya gerbang ilmu yang sangat saya minati sejak kecil, yakni alam kehidupan lain selain manusia diluar bumi, diluar angkasa, Nggak tahu mungkin keseringan nonton film fiksi ilmiah seperti startrek, flash gordon, dan baca buku-buku gramedia seri anak-anak, nonton film ET, seri TV from The Bottom of The Sea, dll. Pokoknya apa saja tentang dunia angkasa luar dan keberadaan makhluk lain di luar bumi atau didalam bumi.

Dan singkat cerita, setelah menjalani satu dan dua tahun sejak resmi dibaiat dan ikut tarekat tassawuf ini, menjalankan amalannya mulai kendor. Mungkin karena kesibukan kerjaan dan mungkin juga disiplin yang rendah karena panjangnya jalan yang harus ditempuh, dipikiran sudah kendor duluan semangatnya. Disamping itu pembahasan ilmiah tentang rahasia alam semesta dan lain-lainnya sesuai keterangan al qura’an dan hadits Rasulullah SAW, tidak saya dapatkan dari penjelasan2 ceramah dalam tassawuf ini. Setiap pengajian dzikir bulanan dari rumah ke rumah atau mesjid, yang disebut manaqib ini, hanya mengisahkan tentang karamah para wali-wali saja. Pokoknya dalam menjalankan amalan-amalan yang disyaratkan, saya lebih banyak lalai dari pada yang diharapkan….Akhirnya sempat vacum  sama sekali di tarikat tassawuf ini, hingga kembali bergairah lagi pada akhir tahun 2012. Selebihnya adalah rutin menjalankan ibadah shalat fardhu berjamaah dimesjid, mengaji al qura’an dan pengajian, puasa, zakat, pokoknya yang sesuai dengan syariat saja,  dan untuk urusan sosialnya rutin aktif dalam kegiatan pengurusan di mesjid komplek.

Alhamdulillah minat membeli dan membaca buku-buku Tauhid dan Ketuhanan, apapun termasuk penulis non Muslim, seperti Keren Armstrong, dan buku-buku tassawuf Al Luma, Al Hikam dan banyak lainnya seri abad pertengahan dan kejayaan islam, hingga buku berseri tasawuf modern seperti buku ustad Agus Mustafa tetap menjadi kebahagiaan sendiri bagi saya. Dan pada tahun 2012, ustad yang selama ini mengajarkan pengajian rutin dua bulanan di mesjid kami tentang perspektif tassawuf, sudah lama tidak ketemu dan mendekati saya. Menanyakan apakah masih tetap menjalankan amalan-amalan tarekat tassawuf, yang juga sama dengan yang beliau ikuti. Saya jujur mengatakan sekarang sudah agak kendor dan cenderung banyak lalainya. Dan ustad tersebut juga banyak menceritakan kondisi hiruk-pikuk di induk organisasi tarekat terbesar di tanah air tersebut, yang berpusat di Jawa Barat, daerah Tasik Malaya. Terutama setelah berpulangnya ke Rahmatullah Mursyid yang cukup terkenal, namun tidak disertai wasiat mursyid kepada siapa mursyid berikutnya sebagai pengganti beliau. Jadilah perpecahan internal, dimana salah satu dari beberapa wakil mursyid yang ada dan cukup senior, bersama  dengan jamaahnya menyatakan dan menyebut sebagai mursyid penerusnya dalam tarekat tassawuf ini. Tetapi sebagian jamaah yang lain mengambil sikap tidak mengikuti, alias secara bathin masih menganggap mursyid mereka adalah tetap, mursyid  yang sudah di panggil Allah SWT.

Sesuatu yang menarik bagi saya pada tahun 2012 waktu itu, adalah ajakan ustad yang mengajar pengajian tassawuf, untuk ikut dalam rombongan manaqib (istilah untuk berdzikir dan mendoakan para wali2 dalam tarekat ini) yang bertepatan Isra Mi’raj dengan berziarah langsung ke tempat para wali-wali dan tanah kelahiran keturunan para nabi, yakni tanah palestina dan ke jerussalem, israel. Perjalanan ke masjidil aqsa, yang sebelumnya di awali dengan umrah ke mekkah dan madinah, ke maqam Rasulullah SAW.

Wah ….ini kesempatan dan rezeki, yang merupakan keinginan dan doa saya sejak lepas menunaikan ibadah haji tahun 2005.  Menurut ustad lebih lanjut, ini adalah hajat dari mursyid sebelumnya yang belum sempat terlaksana, dan oleh mursyid pengganti ini adalah suatu ilham kepada beliau yang harus dilaksanakan hingga sampai ke maqam wali khutub Imam Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, di Iraq.

Satu hal yang sangat berkesan bagi saya saat mengikuti perjalanan manaqib tersebut, adalah….ditempat tempat yang Allah telah limpahkan rahmat Nya,  di mulai dari Baitullah Mekkah, Masjid Nabawi Madina, perjalanan ke Israel via jordan negeri, mampir ke hijr kaum suku Tsamud (mereka menyebutnya petra), Ashabul kahfi, hingga sampai kepada ke masjidil aqsa di tanah palestina dapat melihat langsung, berdzikir dan berdoa.

 

di masjidil aqsa

 

Memang tidak dapat dipungkiri, bani Israil dan bumi palestina merupakan bukti sejarah tanah kelahiran Nabi-nabi besar, Nabi Ibrahim as, nabi ishaq as , nabi musa as, nabi isa as, nabi luth as, nabi sulaiman as dan nabi daud as, hingga nabi syuaib as. Setiap kali ziarah ke maqam-maqam para anbiyaa tersebut berdzikir, namun hati saya selalu berdegup sangat kencang dan tak tertahankan menangis. Anehnya bukan menangis karena bisa mengikuti tareqat ini sampai ketempat-tempat maqam para nabi, agar lebih mendekatkan diri kepada Allah.

maqam nabi Musa

Tetapi dalam hati terasa beberapa kegiatan dalam tassawuf ini (mungkin orangnya), sangat bertentangan dengan logika limiah saya ditempat-tempat tersebut, yang sangat mistiqal. Terutama beberapa kejadian2  yang membuat hati saya tidak bisa lagi mempertahankan ikut dalam barisan yang rapih di tarikat tassawuf ini. Walaupun sebagai konsekuensinya saya sadar betul (karena dibaiat atas nama Allah SWT) adalah sangat berat bila dilanggar atau tidak diamalkan…”Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar….(QS Al Fath:10) ….yakni Neraka Jahannam. Dan dari setiap maqam para anbiya yang diziarahi di perjalanan religi ini, hingga terakhir ke maqam ulama besar Imam Syafei dan Iman Ghazali….saya berdoa kepada Allah  SWT: “Kalau benar memang Ya Allah inilah jalan yang Engkau bimbing kepada Mu agar mengikuti Nabi Mu, terutama Rasulullah SAW, jadikanlah pilihan kepada hamba Mu ini, dengansemata tujuan agar dapat lebih dekat kepada Mu, dan mendapatkan perjalanan kebahagiaan dan keridhaan di dunia dan akhirat.  Maka mudahkanlah jalanku ….Ya Allah”. Kemudian: ” ….Dan kalau ternyata tidak, maka bimbinglah kepadaku, kepada siapa pun yang Engkau Ridhai dan Engkau kehendaki sebagai wasilah, agar dapat menunjukkan jalan yang lurus dan lebih yakin kepadaku, agar bisa lebih dekat dengan Mu dan agar bisa setiap saat bersama Mu dalam kehidupanku Ya Allah”. Hingga akhirnya dalam suasana galau 2013 hingga awal 2014. Satu hari saya sangat capek tertidur cepat pulang kerja. Terbangun, tengah malam, terilham ingin mencari sesuatu….lanjut membuka internet dengan ipad, mencari di google engine video youtube dengan kata sandi “Dekat Allah Makrifatullah”. Dan indeks yang muncul terurut di browser, ….link url…ada suatu Seminar Makrifatullah di Semarang. setelah di-klik Sang pembawa acara di video ini,….membuka acara sebagai moderator, dalam sambutannya bukannya menyebut yang membawakan ini sebagai sebutan ajengan, Kyai Haji sebagaimana lazimnya….melainkan hanya dengan panggilan sederhana Ustads saja.

Dalam penyampaian syarahan ustad dalam video ini, walaupun kental logat melayu, namun sangat mencuri dan menarik perhatian saya.  “Koq yang ini agak berbeda ya ? Dari yang pernah saya dapatkan, memang cukup ekstrim….dimana beliau menyampaikan bahwa, untuk mencapai Makrifatullah dengan tarekat jalan para wali, itu tidaklah mudah bahkan dalam hitungan 25 (dua puluh lima) – sampe 30 (tiga puluh) tahun, itu pun belum tentu kalau memang Allah atau mursyid belum izinkan bisa Makrifatullah”. Tapi dalam video ini beliau telah me-makrifatkan ratusan hingga ribuan orang di singapura, china dan london. Dan pertama kali agar bisa focus makrifat, beliau menyarankan agar meninggalkan dengan tarekat tassawuf jalan wali-wali, kembali kepada jalan para Nabi-nabi. Bukan dengan metode yang popler di dunia tassawuf,  Syariat, Hakikat ke Makrifatullah….Tapi langsung dari Pemahaman hakikat ke Makrifatullah, lengkap dengan seri-seri video berikutnya dengan contoh-contoh yang sangat logik, mudah dicerna dan ilmiah, sehingga ditekankan beliau  “Makrifatullah Awaluddin”.

Syukur Alhamdulillah, atas rasa sayang Allah SWT kepada saya,  inilah pertama kali saya berjumpa di dunia maya dengan Arif Billah Ustad Haji Hussein bin Abdul Latif dari singapore. Dan jadilah hari-hari berikutnya saya aktif mengikuti video syarahan beliau, melalui upload-an video-videosyarahan IPA di youtube oleh saudara farhan42c, yang sudah saya subscribed.

Kemudian, saya putar ulangkan serta kisahkan kembali apa-apa yang diajarkan di syarahan video youtube ini kepada istri saya. Dan syukur alhamdulillah, istri saya sangat merasa senang juga. Dan diam-diam rindu dan cinta merayap ingin sekali bersua ustad yang berdiam di singapura. Sampailah ketika banyak waktu senggang menjelang liburan lebaran 2014, ternyata ada informasi syarahan di cianjur. Segera berniat mendaftar (inilah pertama kali dapat sambtan sms hangat wakil indonesia Mbak Sri Puji Tuti) dan mengkikuti syarahan ustad dan bertemu dengan ustad. Namun Allah baru mengizinkan bertemu pada syarahan yang diadakan, di yogya. Kemudian, lanjut di makassar dan Insya Allah akan mengikuti seterusnya. Dalam bathin saya, teringat inikah janji Allah SWT kepada hamba Nya yang mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Dia ?, dan agar selamat diri dan keluarga dalam kehidupan dunia dan akhirat Insya Allah. Sekaligus juga menjawab perihal yang saya impikan sejak kecil, hingga dewasa tentang keberadaan makhluk lain selain manusia dan angkasa luar. Ustad Arif Billah Hj Hussein bin Abdul Latif,  semoga Allah SWT, tetap melimpahkan karunia dan berkah kepada beliau, dan kepada siapa saja yang mengikuti beliau menuju dan mencari islam yang Kaffah dan menjadi orang-orang Allah SWT. Amin Ya Rabbal alamin.

 

  • Much Tohar (wiraswasta)

 

toharAlhamdulillah satu hal yang ingin saya sampaikan adalah so simple…ternyata sederhana konsep makrifatullah…tidak jlimet..tidak rumit…tidak pakai cara-cara yang aneh nyeleneh….untuk bermakrifatullah tidak perlu harus wiridan sekian ribu kali…tidak harus nyepi dalam kamar khusus…tidak perlu puasa bertahun tahun…tdk perlu dzikir sambil mengingat wajah sang guru dsb…Untuk bermakrifatullah juga tidak perlu tingkatan-tingkatan tertentu dsb.. Dulu kesana kemari mencari Allah sampai masuk terjerat pada dunia kembaran dunia guru sejati dsb….sampai begitu lama bergelut dalam suasana yang belum tentu benar….

dulu ketika dzikir lalu bisa menangis rasanya sudah pol..sudah ketemu Allah…sudah kenal Allah lalu merasa diri ini sudah bermakrifatullah…Ups…masuklah ke suasana gemerlap penuh cahaya dan suara yang terkadang malah akhirnya bingung sendiri sampai kapan dan sampai dimana saya ini…lalu ketika sudah merasa bermakrifatullah akan tetapi tidak membawa perubahan yang begitu significant seperti masih gampang marah, gampang tersinggung, atau bahkan galau tingkat tinggi dsb…

Lalu atas ijin Allah berproseslah secara bertahap dikenalkan konsep Makrifatullah dari Ust Hussein melalui Mas Agus dan Ustad Ali pada malam ramadhan tahun 2014.

Tabir seperti tersibak dan ohhh..inilah yang kucari….kenapa begitu sederhana…semua pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran sudah selesai sudah…sudah tidak ada pertanyaan lagi dan tidak ada lagi pertanyaan tentang kenapa saya jadi seperti ini, kenapa saya sakit..kenapa usaha saya sepi dsb…sudah…Allah sudah “memutuskan” semuanya untuk saya dan keputusan Allah itu begitu indahnya…betapa sempurnya ALLAH merekayasa kehidupan ini…

Ternyata semua sudah tertulis dan tidak perlu lagi bertanya kenapa demikian…..Ah…selesai sudah…..sudah cukup perjalanan sekian tahun…alhamdulillah begitu bahagia….dzikrullah ternyata sangat mudah dan bisa dilakukan dimana saja…..sambil kerja..sambil mengemudi….sambil bersenda gurau bahkan sambil negosiasi dengan pelangganpun ingatan tidak putus ke Allah…. Saya bahagia dalam lingkupan Allah melewati dzat nya yaitu para sahabat Yamas semuanya…… Alhamdulillah ya Allah….

 

  • Sulistyo (wiraswasta)

Alhamdulillah…semua jalan yg dtempuh dan dilalui sebelum ditemukan dengan kajian Makrifatullah ini memberi hikmah dan pelajaran bahwa semuanya ternyata sudah disusun rapi, diurus penuh dan dipastikan akan terjadi sampai tiba saatnya sesuai rencana,rancangan dan ketetapan/sunnatullahNya, yg berlaku pada semua makhluk/ciptaanNya…

Diri rasanya terkaget2 dan heran, betapa dalam kajian/syarahan Makrifatullah ini djelaskan dan difahamkan dengan gamblang, jelas, mudah, dalam waktu yg relatuf singkat, to the point, tanpa ragu-ragu sedikitpun, dan terkadang dengan candaan/gurauan, padahal boleh jadi topik yg dbahas berat dan butuh konsentrasi penuh utk memahaminya dengan utuh, tidak sepotong-potong, semisal :

  1. Perintah KUN ternyata ditujukan kpd diri/dzat Dia sendiri.
  2. Darimana diri ini berasal.
  3. Semua peristiwa yg terjadi di masa lalu, hari ini smp yg akan datangpun ternyata sdh dtuliskan di Loh Mahfudz, sampai sedetil-detilnya, termasuk redaksi percakapan antara kita.
  4. Jadi Tahu bagaimana Allah Melihat, Mengawasi,Meliputi ciptaanNya menerusi dzat Dia yang sedikit.
  5. Kerangka global perjalanan semesta sejak KUN sampai kiamat.
  6. Bagaimana Allah Maha Besar, Maha Luas, Maha Tinggi.
  7. Teknik/cara Dzikrullah /mengingati Allah di waktu sholat, di luar sholat maupun dlm perniagaan ( senantiasa ingat Allah ).
  8. Posisi do’a dalam hidup keseharian.
  9. Diajarkan mengenai Ujian, Penyerahan, Keredhaan Dan Maqam.

Kesemuanya membuat diri masuk ‘The Gembeng Club’… sering haru dan menangis, berdasarkan ilmu yg telah diajarkan utk menjalani kehidupan keseharian menggapai keredhaanNya, bermakrifat dulu setelah itu bersungguh-sungguh menjalankan syariat sesuai tuntunan AlQur’an Dan AlHadits…tentu saja sesuai jatah/porsinya masing2, mengikuti apa yg telah ditetapkanNya.

‘Gak kenal maka gak sayang, alah bisa karena biasa,so tunggu apalagi?’

Terima kasih kpd semua yg telah mengingatkan diri dari tahapan awal pencarian jatidiri sampai kepada pengenalan Makrifatullah ini, kpd semua sahabat2 YAMAS dan kepada Arif Billah Ustad Hj. Hussien bin Abdul Latiff.

Sholawat dan salam selalu tercurah utk Rasulullah SAW. terima kasih Ya Allah.

Semoga diri ini dberi ketetapan utk istiqomah dsini.

“Satu tajuk, satu saluran, hanya Makrifatullah.”

 

  • Winanto (wiraswasta)

 

Mungkin demikianlah ciri2 orang yang merindukan perjumpaan dengan Allah, Allah memperjalankan kepada hambaNya sebagaimana yang dijelaskan pada testimoni Abang2, dimasukkan pada dunia per thoriqotan, tak terkecuali juga saya, berbagai aliran thoriqot, dengan amalan dan pengalaman yang mirip2 dengan testimoni Abang, hanya kadarnya yang membedakan, Abang2 telah diberi Allah berbagai pengalaman spiritual, sedangkan saya tidak merasakan apa2, seringnya malah masuk pada alam tidak sadar saat berdzikir khofi berjamaah maupun dikala sendirian (alias tertidur).

Pencarian tersebut diawali oleh adanya perasaan, sepertinya ada sesuatu yang kurang atau hampa saat terjaga pada malam hari, padahal alhamdulillah Allah mengkaruniai saya kemauan melaksanakan dengan tertib rukun islam, terutama yang wajib dan menjalani sunah2 yang shoheh2, saya sangat tidak tertarik dengan thoriqot yang saya anggap kontroversi.

Sampai suatu ketika saya dipertemukan dengan sesepuh yang pindah kedepan rumah saya, beliau banyak mengenalkan saya kepada wiridan dan beberapa pengetahuan batin, seperti telinga, mata, bisa merasakan nikmat, sayangnya beliau tidak bisa menjelaskan seperti apa nikmat yang dimaksud tersebut, yang membuat saya semakin bingung. Alhamdulillah dengan mendawamkan wirid yang diajarkannya, ada sesuatu yang kurang saat terjaga, mulai kerkurang, apalagi beliau juga mengajarkan hadis qudsi yang intinya “….kalau kamu mencintai Allah, Allah akan mencintaimu. Kalau Allah sudah mencintaimu, Allah akan membimbing tanganmu, kakimu, perkataanmu, penglihatanmu. Bagaimana agar dicintai Allah? yaitu dengan mengerjakan yang wajib, kemudian memperbaiki, setelah itu mengerjakan yang sunah2……” yang alhamdulillah semampunya saya amalkan.

Berbekal pemahaman2 dari sesepuh tadi, dan mengambil pengalaman sahabat seperjalannan, membaca beberapa buku tauhid, selanjutnya mulai mengenal lebih jauh dan mulai masuk pada dunia syariat, toriqot, hakekat dan ma’rifat, berbagai pendapat memotivasi pencarian demi pencarian, seperti pemahaman…. harus mengalami mati sebelum mati agar berjumpa dengan Allah,…. sebelum mati harus sudah berjumpa dengan Allah…. berjumpa dengan Allah itu lebih nikmat dari nikmatnya hubungan suami istri… berjumpa dengan Allah itu tidak bisa ditukar dengan apapun,…. kalau sudah berjumpa Allah, Allah akan mengajari ilmu laduni…. barang siapa buta didunia, diakhirat akan lebih buta lagi, yg buta mata didalam dada, yaitu yg tidak bisa melihat Allah…..dll. namun apa yang dicari tetap misteri, semakin dicari semakin menjadi misteri…

Sampai suatu ketika dikejutkan dengan pemahaman bahwa praktek berdzikir dengan mengingat mursid adalah pratek berspiritual yang kontra produktif untuk bisa mengingat Allah, mengingat Allah itu tanpa perantara….dan harus langsung, tanpa prosedur (seperti akan ketemu dg Pak camat, harus melalui RT, RW, LURAH baru akan ketemu Pak CAMAT) tapi cukup dengan melakukan sholat, sesuai hadis? ….ash sholatu mi’rajul mu’minin (sholat itu mi’rajnya orang mukmin) …., alhamdulillah berprogres, paradigma tentang sholat mulai berubah, sholatpun mulai terarah walau belum maksimal, karena beberapa kunci belum difahami, seperti sholat itu ruhani sebagai komandannya, sholat itu harus ingat Allah, sholat itu melihat kedalam…. dstnya.

Sampailah pada suatu ketika Allah menunjuki saya kepada Ustadz Husein melalui salah satu artikel Bang Deka tahun 2014an, yang penerbitannya dengan setia saya nantikan, ….penerbitan kali ini bernuansa lain, nuansa baru tersebut menekankan bahwa beragama itu harus diawali dengan ma’rifatullah, yang lebih menarik lagi bahwa ber “ma’rifatullah” itu sangat mudah, tidak bertele-tele dan sangat cepat (tidak seperti pendapat saya selama ini yaitu ma’rifatullah itu….wah).

Dari rasa penasaran, siapa sebenarnya sosok yang telah memberi warna demikian kental dan kontroversi tersebut, seperti paradigma bahwa qolbu itu adalah otak, berdzikir itu adalah mengingat (bukan mengucapkan atau wirid) dll, dan yang lebih mencengangkan adalah pendapat bahwa taqdir itu tidak bisa dirubah, karena taqdir sudah ditetapkan sejak di firmankanNya KUN dengan sangat indah dan sempurna,  kemudian tergelar di LAHUL MAHFUZ yang dijabarkan dengan sangat jelas.

Lantas bertanyalah saya kepada Mbah Google (malu menanyakan langsung kepada Bang Deka, biasanya guru itu sesuatu yg sangat pribadi), tidak terlalu sulit, Mbah Google mempertemukan saya dengan video Sarahan di Semarang.

Iseng2 sambil mengerjakan sesuatu video tersebut saya buka, isinya sama dengan artikel2 Bang Deka, mungkin dikarenakan kurang fokus, pada waktu itu belum berdampak, tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi. Entah pemutaran yang keberapa kalinya, dari video kedua sarahan di Semarang, pada bagian penjelasan sifat, hakikat dan ma’rifat, waktu itu saya merasakan Ustadz menjelaskan sangat detail dan jelas sekali, dan sayapun sungguh2 menyimaknya, sehingga saat beliau mengajak keatas, lebih keatas lagi, ….. terjadilah sesuatu pada diri saya..mungkinkah itu yg disebut dengan IMPAK atau pukulan?….tidak tahu kenapa, atau mungkin waktu itu (walau secuil) ditampakkanNya pada alam sifat, alam hakikat dan alam ma’rifat, sehingga air mata tak terbendung.

Semenjak itu mulai rajin dan lebih sungguh2 mengikuti sarahan Ustadz Husein walau hanya melaui video, dan alhamdulillah tidak harus lama menanti, Allah mentaqdirkan mempertemukan saya dengan beliau di sarahan di Ciloto yang disusul di sarahan Kaliurang.

Sangat disayangkan pada sarahan di Makasar tidak bisa bergabung.

Alhamdulillah, dengan mengikuti sarahan lewat video, dan melalui sharingan para Kakak dan Abang, serta japri, sedikit demi sedikit, kunci2 penting agar sholat lebih khusyuk, dan hal2 lain yang selama ini membingungkan seperti mata hati dll mulai difahamkan….terutama setelah mengikuti saraham Pembukaan Mata Hati….alhamdulillah mulai faham kenapa minda harus dibersihkan, bagaimana methoda mengingat dll, ternyata merupakan methoda dasar yg sangat diperlukan agar methoda berikutnya seperti memampatkan minda, membina base camp dll bisa dilakukan, semoga kedepannya banyak lagi ilmu2 baru ataupun pemahaman2 baru seperti rahasia diatas rahasia dll bisa terungkap….aamiin …..terimakasih Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff.

 

  • Ahmad Eyi

ahmad eyiSaya mengawali kehidupan spiritual saya sewaktu saya masih muda (remaja), sebelumnya semenjak aqil balik sampai saya mendapatkan hidayah saya hanyalah seorang yang ber KTP kan Islam yang hanya melakukan shalat sebagai penggugur kewajiban saja tapi alhamdulillah seingat saya saya tidak pernah meninggalkan sholat walaupun hanya sekali.

Saya mendapatkan hidayah dari lagu yang dinyanyikan oleh Opick yang berjudul “Bila Waktu Telah Berakhir” setelah mendengarkan lagu itu selalu terngiang di pikiran saya bagaimana kalau aku mati besok bekal apa yang akan saya bawa untuk menghadap kehadirat Tuhan saya الله , Hari Berganti Hari minggu berganti minggu bulan berganti bulan semakin besar dorongan di dalam diri saya untuk belajar agama serta mencari dan mengenal Allah arah tujuan saya pulang nanti dan syukur alhamdulillah saat itu Allah mengilhamkan saya untuk berdoa “YA ALLAH TUNJUKKAN AKU JALAN MENUJU MU JALAN YANG TERBAIK JALAN YANG TERMUDAH JALAN YANG PALING LURUS DAN JALAN YANG PALING ENGKAU RIDHOI” padahal waktu itu Saya tidak mengerti apa apa tentang Islam kecuali apa apa yang diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah setara SD dulu.

Di dalam perjalanan saya menuju Allah saya tidak pernah memilah-milih kepada siapa Saya akan belajar tentang ilmu syariat pun juga tentang ilmu makrifat saya asal masuk saja saya asal ikut saja ke sebuah jamaah pengajian ataupun perkumpulan tertentu tetapi syukur alhamdulillah Allah selalu Tunjukkan ke saya kalau guru atau ustad ini kurang baik dan saya seperti dibimbing saja untuk menemukan dan belajar kepada guru atau Ustadz yang lebih bijaksana dalam hal syariat maupun dalam hal makrifat.

Dalam mencari ilmu syariat saya awal awal Saya sempat tercebur sedikit kepada aliran yang berdasarkan Wahabi atau yang biasa dikenal dengan celana cingkrang tapi setelah itu saya seperti tidak di bolehkan Allah untuk lebih mendalaminya dan saya seperti dituntun untuk belajar kepada Ustadz atau guru yang berbasiskan Muhammadiyah dan setelah saya mulai memahami dan mendalami syariat yang ada di Muhammadiyah permasalahannya kalau saya pulang ke kampung halaman saya di Madura berhubung kampung halaman saya adalah hampir kesemuanya orang NU saya malah seperti orang asing yang beribadah seolah beda dengan peribadatan orange NU walhasil saya pun tergerak untuk mendalami lagi ilmu syariat kepada seorang Ustadz atau guru yang NU sehingga saya sedikit banyak bisa lebih bijak menyikapi perbedaan antara keduanya meskipun keduanya sama sama sunni Alhamdulillah.

Saat itu saya merasa sekali bahwa Allah menjawab doa saya saya ditunjukkan jalan yang terbaik jalan yang lurus jalan yang paling mudah dan jalan yang paling diridhoi dalam hal syariat. pun dalam hal mencari ilmu makrifatullah saya awal-awal asal ikut saja ke pengajian-pengajian maupun perkumpulan perkumpulan, memutar mutar ulang hasil rekaman teman teman saya yang sudah lama ikut dalam pengajian atau perkumpulan tersebut baik sambil bekerja maupun sedang nyantai di rumah, saya asal ikut aja perkumpulan ini perkumpulan itu pengajian ini pengajian itu, yang setelah sekian lama saya baru sadar bahwa pengajian atau perkumpulan tersebut berbau aliran Nur Muhammad dan berbagai varian tarekat tapi alhamdulillahnya saya tidak pernah ditakdirkan oleh Allah untuk berbaiat dengan berbagai macam aliran tersebut diatas dan lagi lagi lagi saya seperti dipaksa untuk meninggalkan aliran aliran tersebut di atas dan saya seperti dituntun (dibelokkan) oleh Allah untuk mengikuti pelatihan shalat Khusyu  dan mulai mendalami apa apa yang diajarkan oleh Ustad Abu Sangkan Ustad Aziz dalam Shalat Center, serta rajin membaca tulisan tulisan pak Deka di web blog nya.

Puncaknya Allah takdirkan saya mengenal Arif Billah Ustaz H Hussien Bin Abdul Latif yang saya kenal melalui tulisan yang ada di weblog Pak Deka dan semenjak saat itu saya memulai babak baru dalam bermakrifatulloh dan juga dalam ber syariat untuk kembali kepada ajaran yang dibawa oleh nabi nabi bukan lagi kepada jalan yang dibawa oleh para Wali Wali dan sekali lagi disinilah saya merasa sangat berterimakasih Allah menjawab doa saya Allah menunjuki saya jalan yang terbaik jalan yang termudah jalan yang paling lurus dan jalan yang paling diridhoi untuk menuju nya.

سبحان الله الحمد لله الله اكبر

 

  • Agus Tiyono (Pati, Jawa Tengah)

 

AgusBismillahirrohmanirrohim.

Sungguh karunia Allah yang tiada terhingga, diberi kesempatan untuk belajar dan mengaji tasawuf jalan nabi-nabi melalui  Arifbillah Ustadz Hj. Hussien Bin Abdul Latiff dari Singapura. Sebuah perjalanan hidup yang sangat berharga dan sangat bermakna. Alhamdulillah syukur tiada batas.

Pengenalan ini berawal pada bulan September 2012, ketika saya membuka syarahan Ustadz di youtube. Kala itu masih sedikit yang di upload. Meskipun demikian sudah cukup untuk menjawab dan mengobati segala pertanyaan dan masalah keber-agama-an saya, yang masih dilanda kebingungan dan ketidakjelasan. Ada missing link dalam pencarian saya. Dan alhamdulillah ditunjukkan oleh Ustadz dengan jelas, gampang dan gamblang. Ilmu disampaikan secara sistematis dan komprehensif. Luar biasa.

Mulai dari Kun, Makrifatullah, Dzikrullah, Lauh Mahfudz semua membuat tercengang. Saya benar-benar terkejut bagaimana Ustadz mampu menyampaikan ini semua dengan ringan, simple dan jenaka. Seperti Beliau memegang kuncinya. Dan memang Beliau lah yang memegang kunci makrifatullah, sesuai kedudukan Beliau sebagai Arifbillah.

Tidak sabar hati untuk segera bertemu, belajar, mengaji dan mencium tangan Beliau. Dalam bulan dan tahun itu juga kami sekeluarga dan sahabat dekat saya Yai Ridwan Aziz, berempat kami meluncur ke Singapura. Alhamdulillah diterima dan disambut yang sampai saat ini, memori itu masih membekas.

Bulan berlalu tahun berganti , pelan-pelan datang kefahaman. Terjadi perubahan pola fikir yang dengan sendirinya merubah pola hidup. Ketenangan, ketentraman mudah sekali dirasakan. Hidup pun jadi lebih ringan dan indah.

Teringat masa dulu hari-hari habis untuk membaca buku. Berbagai literatur tasawuf dikaji hingga pening sendiri. Amalan thoriqah yang sejak tahun 2000 tak memberi kesan yang signifikan. Ikut ini dan itu yang hanya berputar-putar di area yang tak menentu. Buntu.

Semoga ikatan kasih sayang dan cinta dengan Ustadz senantiasa terpelihara dan diberi istiqomah dalam menempuh jalan ini. Semoga dirahmati Allah dan mendapat keberkatan yang sempurna. Untuk sabahat semua love you all. Hanya jauhari kenali manikam.

Sholullah ala Muhammad.

Wellcome to the club.

 

  • Bram Octafian, S.Ag.,S.Pd.I.,MM (Pegawai KUA pada Kementerian Agama di Provinsi Lampung).

Bismillahi walhamdulillah wala haula wala quwata illa billah.

Allah perjalankan hidup dan kehidupan saya sebagai lakonan DzatNya yang sedikit bahkan kecil lagi (:saya hanya sebagai salah satu manusia dari sekian banyaknya manusia bahkan dari sekian banyak makhlukNya yang dalam pandangan Allah tetaplah kecil sekali), bermula sekitar tahun 1992 saat itu saya masih awal sekolah SLTA (:Madrasah Aliyah) di Lampung namun demikian saya sudah mulai senang membaca dan memiliki buku-buku Tasawuf.

Dari saya senangnya membaca buku-buku Tasawuf itu menumbuhkan hikmah pada diri saya bahwa tertanam pada hati dan pikiran saya pemahaman dan keyakinan saya bahwa mengenal (Ma’rifat) Allah dan berhubungan dengan Allah itu adalah dengan “DiriNya” Allah itu sendiri sejatinya, bukan sebatas berhubungan pada AsmaNya/NamaNya dan atau KalamNya berupa wahyu yang tertuang dalam Kitab al-Qur’an dlsb, tapi bagaimana caranya?

Pertanyaan tersebut senantiasa hadir dalam hati saya, sehingga dalam hati saya berdoa : Ya Allah tunjukkan hamba dan bimbing hamba untuk dapat mengenalMu secara haq dan berhubungan denganMu secara langsung tanpa perantaraan apapun dan siapapun.

Dalam proses “pencarian” setelah lulus SLTA saya melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi IAIN Sunan Gunung Djati cabang Serang pada Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, namun jujur kuliah itu bukanlah tujuan yang utama namun merupakan tujuan kedua, sedangkan tujuan pertama saya mencari hamba Allah yang dapat mengantarkan saya untuk dapat berhubungan dengan Allah secara langsung. Apapun itu kenyataannya saya belum ditemukan dan karena beberapa faktor saya pindah kuliah ke kampung asal di Lampung, yaitu di IAIN Raden Intan pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama.

Pada tahun 1996 saya mulai mengenal dan berhubungan pada Majelis Tasawuf Thoriqoh tertentu, sehingga saya mulai memahami teori (Ilmu) dan praktek (Amal) dzikir Tasawuf. Saya tetap bersyukur kepada Allah atas karunia perjalanan menuntut ilmu dan curahan ilmu itu sendiri, namun demikian di sisi lain hati saya tetap merasa belum cukup karena harapan saya untuk Ma’rifatullah secara haq dan berhubungan denganNya secara langsung belum terwujudkan, sebab saya dikenalkan dan berhubungan dengan Allah pada AsmaNya melalui dzikir Jahr (:Lisan), dzikir Sir (:Latifah) dan dzikir Nafas, itu artinya saya belum dihantarkan kepada Pemilik Asma yaitu Allah itu sendiri.

Suatu kesempatan saya bertemu dengan hamba Allah dan minta kebersamaan doanya semoga Allah mewujudkan harapan saya, dari awal sampai saya pamit untuk pulang tidak kunjung saya lihat mulutnya bergerak untuk berdoa. Dengan izin Allah perhatian Hati dan pikiran saya “terbaca” oleh Beliau, sehingga Beliau berkata bahwa puncak doa dan berubungan dengan Allah itu “bila harfin wala shoutin : tidak beruruf dan tidak bersuara”. Tersentaklah saya ketika itu! inikah “pertanda” bahwa yang saya harapkan akan Allah kabulkan.

Saya juga sempat membaca buku yang menuliskan perkataan Syeikh Abu Yazid al-Busthomi : “Taubatunnaasi min dzunubihim wa taubati min qouli : La ilaha illallah inni aqulu bil alati wal hurufi wal haqqu khorijun anil hurufi wal alati, yang artinya Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku bertaubat dari ucapanku : La ilaha ilallah, karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedang Allah tidak dapat dijangkau dengan huruf dan alat”. Tertegun hati dan pikiran saya dan berdoa : ” Ya Allah tunjukkan hamba pada yang dimaksudkan sebenarnya”.

Pada tahun 1997 saya bersilaturahmi tempat sahabat, saat itu saya senantiasa membawa alat Tasbih berbiji 10 pas lingkaran jari telunjuk. Sahabat saya berkomentar pada saat itu bahwa apa yang saya lakukan dikarenakan masih dalam perjalanan dan belum sampai pada tujuan.

Atas komentarnya tersebut saya lalu balik bertanya kalo anda sudah sampai tujuan, maka tunjukkan saya praktik Dzikrullah la harfun wala sautun.

Mendengar pertanyaan saya tersebut, sahabat saya terkejut dan berkata bahwa beliau hanya punya hak guna pakai dan tiak memiliki hak menyampaikan (:tugasan).

Kepada sahabat saya itu saya tanyakan tentang siapa yang memiliki hak guna pakai sekaligus hak menyampaikan. Lalu beliau menunjukkan nama dan alamat domisili seorang hamba yang bernama Muhammad Arsyad (alm).

Alhamdulillah dengan izin dan karunia rahmatNya saya dibimbing oleh Beliau tentang Ma’rifatullah dan berhubungan dengan Allah secara langsung (: Dzikrullah la harfun wala shoutun).

Beliau Muhammad Arsyad (alm) pernah berkata kepada saya bahwa sepeninggal Beliau ada hamba Allah (yang saya temui) yang dengan izin Allah akan membimbing secara lebih jelas dan terperinci.

Proses waktu Allah mengabulkan saya mempertemukan saya dengan hambaNya Ustadz Arif Billah Hussien bin Abdul Latiff.

Allah melalui peranan DzatNya pada diri Beliau membimbing (:menyampaikan Syarahan) kepada kami mengenai banyak hal :
Ma’rifatullah, Dzikrullah la harfun wala shoutun, Sistem Ilahi (:Lauhil Mahfudz) dlsb dengan rujukan Kitabullah (al-Qur’an), Hadits, sejumlah kitab, ilmiah dan Laduni biidznillah.

Anugerah Allah yang luar biasa besar memperoleh kesempatan menimba Ilmu Allah melalui Beliau Ustadz Arif Billah Hussien bin Abdul Latiff. Alhamdulillahi Robbil Alamin wa La haula wala quwata illa Billahil Aliyyil Adzhim.

ctt : Saya berterima kasih karena Allah kepada Ustadz Arif Billah Hussien bin Abdul Latiff, seluruh sahabat/ saudara bimbingan Beliau, seluruh sahabat yg mengikuti Syarahan di Kaliurang (Panitia & peserta), Saudara Sugito Gito dan Amrizal. Semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita semua- bersama.

Amiiin Ya Allah Amiiin Ya Robbal Alamiiin.

 

  • Andi Sulistiyo (Semarang)

andi sulistyo24 September 2014

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

LATAR BELAKANG        

Diri ini dilahirkan dari latar belakang keluarga yg kurang pendidikan dan pengetahuan tentang agama, boleh dikatakan Islam hanya sebatas pada KTP. Semenjak kecil dimulai dari pendidikan sekolah dasar non muslim. Hingga pada akhirnya tidak bisa membaca  tulisan arab bahkan mempunyai kitab Al Quran pun tidak.

Mulai mengenal pendidikan agama Islam setelah menginjak sekolah menengah pertama sampai menengah atas. Itupun hanya sekedar mengikuti syarat yang harus dilalui dalam menempuh jalur pendidikan.

Alhasil ibadah sholatpun tidak dilakukan dengan baik.

Layaknya kebanyakan orang, diri ini menjalani kehidupan seperti biasa mengalir seperti air dengan menggunakan logika sebagai sarana mengarungi hidup. Selalu menggunakan akal dan bukti secara ilmiah dalam menghadapi persoalan. Boleh dibilang selama menjalani kehidupan ini belum pernah menemukan suatu permasalahan yang berarti dalam hidup.

Dalam hal kepercayaan diri ini hanya memegang satu prinsip bahwa Allah itu sayang kepada mahkluknya, begitu simple dan tidak bertele-tele.

Berawal pada suatu saat diri ini menikah pada tahun 2010 dan semenjak menikah barulah timbul banyak permasalahan. Beda pendapat yang berujung ke pertengkaran selalu terjadi, hal ini membuat prinsip akal dan pengetahuan terpatahkan disini. Pandangan logika dan akal tidak berfungsi mengatasi hal ini. Muncul pertanyaan di dalam hati, sebenarnya hidup itu harus bagaimana? Simple question but so many reason to be answer. Dengan memikul beban berat dan tekanan, diri menjalani hidup……

Dan pada akhirnya diri ini dikejutkan oleh sesuatu hal yg tidak bisa diterima akal……

Pada hari Jumat, 8 Februari 2013…berangkat dari rumah untuk mengikuti sholat jumat di masjid. Pada saat mendengarkan khotbah badan ini merasa seperti demam padahal awal berangkat merasakan sehat tanpa ada keluhan. Semakin lama badan ini terasa tidak nyaman dan bermaksud pulang, karena duduk di shaf pertengahan dan malu dengan banyaknya orang dibelakang maka niat pulang diurungkan dan tetap mengikuti khotbah. Tak terasa entah kenapa airmata ini keluar mendengarkan khotbah, diri ini heran kenapa ini terjadi? Namun air mata itu keluar terus tanpa bisa distop.

Saat kumandang Iqomat dilantunkan badan ini bergetar serasa ada sesuatu dari dalam yg bereaksi hingga pada akhirnya tibalah saatnya melakukan sholat Jumat.

Dengan pikiran kacau, kondisi badan demam dan air mata yang masih keluar…mengikuti sholat Jumat.

Tatkala suratul Al Fathehah dilantunkan……Subhanallahu, Allahu Akbar……ayat yang diucapkan seperti angin kencang yang menonjok dada ini…satu ayat satu tonjokkan…Luar biasa dahsyatnya hingga terasa sesak dan tidak bisa bernafas…air mata mengucur makin deras, badan bergemetar…seolah-olah bukan diri ini yang mengendalikan.

Rakaat kedua terjadi hal yang aneh…badan ini terasa ringan…diri ini pasrah…serasa tubuh ini diangkat ke atas…semua hilang…gelap…dan serasa seolah-olah Allah…Rasullulah begitu dekat (padahal pengetahuan tentang Rasullullahpun tidak ada).

Akhirnya setelah semua orang mulai meninggalkan pabrik, baru berani pulang. Sampai dirumah menangislah sekuat-kuatnya dan terbawa sampai di tempat kerja.

Mulai saat itulah diri ini sering menangis dan menangis, karena seolah-olah Allah dekat dengan diri ini. Kejadian ini ternyata tidak berhenti begitu saja. Tak lama berselang terjadilah suatu mimpi, dimana didalam mimpi itu semuanya kosong yang ada hanya sebuah tulisan “ Innalillahi wa innailaihi rojiun ” maka meledaklah tangis setelah terbangun. Diri ini berpikir bahwa akan sampai ajal diri ini (begitu bodohnya mensikapi tulisan tersebut), pada akhirnya dicari via internet artinya tidak seperti yang disangka.

Tak lama berselang ibarat cerita bersambung, mimpi yang kedua ini…dibawa diri ini ke Kabah, namun tidak seperti kebanyakan orang melihat…disitu Kabah berwarna putih lantai putih bersih dan terlihat hanya beberapa orang yang melakukan tawaf dan aneh jalan didepan diri ini lurus menuju kabah tanpa ada halangan. Dengan sekejap tanpa disangka-sangka diri ini sudah berpindah tempat dalam suatu ruangan berpilar besar-besar (saat itu berdiri ditengah dekelilingi 4 buah pilar).

Dan ternyata setelah browsing di internet tempat itu disebut Taman Raudhah Masjid Nabawi.

Diri ini merasa heran ada apakah dengan semua ini?

 

PERTEMUAN DENGAN ARIF BILLAH Ustdz. H. Hussein

Andi Sulistiyo semarang

Masih bertanya-tanya tentang hal yang dialami bahkan sempat bertanya kepada teman-teman namun masih belum mendapat jawaban yang memuaskan, hingga pada suatu saat ada teman yang bertanya tentang Lauh Mahfuz dan Sidratul Muntaha yang kemudian mencari informasi tentang hal itu via internet.

Disaat browsing langsung mendapatkan video sarahan Lauh Mahfuz, disimak dan akhirnya bisa menjelaskan kepada teman. Selang waktu berjalan entah kenapa ada suatu keinginan untuk melihat kembali video tersebut dan pada akhirnya masuk kedalam site gnosticman hingga diri ini dibawa masuk akan ketertarikan makriftullah.

22 Juli 2013, untuk pertama kali mendownload video sarahan ustadz hingga sekarang. Bab pertama 16 Asas, alhamdulillah saya paham tanpa ada penolakan. Diri ini menangis lebih dahsyat (kurang lebih satu tahun diri ini menangis…).

Hingga akhirnya tidak kuat dan membuat comment pada syarahan Kutemukan Kebenaran 4 (Yang Melihat) 4 Desember 2014.

Dan diri ini meminta dan bertanya kepadamu Ya Allah……jikalau memang ilmu ini benar (karena merasakan hal yg luar biasa sepanjang hidup ini) maka Ya Allah pertemukan hambamu ini dengan hambamu yang Engkau tunjuk dan Engkau ridhoi memegang amanah yang sedemikian dashyat (Ustadz H. Hussein B. Abdul Latiff)

Puji syukur kepadaMu Ya Allah……pada hari Minggu 12 Oktober 2014, Engkau mentakdirkan hambamu bertemu dengan beliau.

Jujur tak kuasa diri ini menahan tangis kepada Allah disaat memeluk dan berjabat tangan dengan beliau.

Saat itu diri ini membisu…tiada sepatah katapun yang keluar.

 

KESAN DARI DIRI PRIBADI

–    Ilmu syarahan dari Ustadz H. Hussein perlu adanya kesadaran yang sejati. Sadar diri akan posisi dihadapan Allah (Maqam).

–    Dizkrullah yang disyarahkan sama dengan “hal” diangkat diri ini saat sholat Jumat.

    Banyak hal dan pandangan yang masuk dalam diri ini dikuatkan oleh syarahan beliau.

    Berserah diri dan yakin penuh kepada Allah.

    Tak banyak berkomentar dan sedikit bicara.

    Always “ON” mengingat Allah karena serasa ada sesuatu yg menggumpal diatas kepala diri ini.

    Pandangan sudah berubah 180 derajat dari yang dahulu.

Sebenarnya masih banyak hikmah yang didapat namun sekiranya cukuplah yang tertulis diatas untuk mewakili  semuanya.

Demikian yang mampu diri ini utarakan, kurang lebih jikalau ada hal-hal yang kurang berkenan mohon maaf adanya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

My Comment

 

 

  • Tati Haryati

Alhamdulillah .., puji syukur kpd Allah SWT yang telah memberikan rahmat & karunianya yg tlh memberikan kefahaman ilmu makrifat menerusi syarahan bpk Ustadz Hussien B . A . Latiff dan pada kesempatan ini saya ucapkan trimakasih kepada bapak ustadz atas semua syarahannya yang bagi kami sekeluarga membawa banyak manfaat serta kenikmatan dalam hidup.

Adapun impak keberkesanan dalam mengamalkan ilmu marifat ini pertama kali terasa pahit getir & kalau ibarat berkendaraan harus di rem mendadak jadi agak kaget ( terasa pahit karena dalam diri ini masih wujud msh ada ego jadi mau berempati terhadap sikap suami maupun anak-anak masih terasa gak enak jd proses utk menghilangkan kehendak terasa agak berat) tapi seiring wkt Allah bimbing saya shg dpt merasakan nikmatnya mengamalkan ilmu ini) & alhamdulillah skrg saya lebih relaks & enjoy dalam menghadapi masalah-masalah terutama dalam menghadapi anak 2 maklum saya dikaruniai 5 orang anak & msh kecil-kecil.

Jadi kalau menghadapi anak-anak yang lagi pada ribut saya pandang seperti kertas putih jadi lebih cool ( bahkan kalau anak-anak telat pulang sehabis bermain mereka sblm ditegur sudah duluan bilang mah … jangan marah disini ada zat & mmh jgn tanya kenapa krna mmh tak kan mengerti) saya hanya bisa tersenyum ini adalah senda gurauan Dzat.

Sungguh ilmu makrifat ini punya paradigma yang sangat tinggi kalau saya belajar dari buku atau dengar dari tausyiah para ustad bahwa kita harus sabar jangan iri dengki ujub dsb saya rasa susah klo tidak tau cara pandangnya pokoknya ilmu ini membuat hidup kita apapun keadaan & keberadaan maupun persoalan hidup jadi mudah tentram & enak.

Itulah sekelumit impak keberkesanan ilmu makrifat ini yang begitu mendalam dilubuk sanubari kita semoga ilmu ini mjd sebati dlm jiwa ini amin.., saya cerita ini karena Saya pandang dari pintu depan semoga dapat menjadi inspirasi bagi semua tapi diforum ini kebanyakan kaum bpk ya tapi tak apalah …

Tapi klo saya pandang dari pintu belakang blank… Tak ada story wallahu Alam bissawab

 

  • Suharmono (Karyawan Swasta, Jakarta)

suharmonoSejak mengamalkan dzikir yang diajarkan Ustadz beberapa bulan terakhir, seluruh tubuh ini terasa ringan..ringan sekali. Kepala ini ringan seolah lenyap. Disaat tidur, keadaan terang hangat menyelimuti..nikmat sekali, senantiasa otomatis teringat Allah…Allah..Allah. Walaupun tidur hanya sejam, tak ada rasa lelah capek atau kantuk sesudahnya. Apakah ini yang dimaksud senantiasa ingat Allah 24 jam, kondisi Tidur tapi Tak Tidur, entahlah..syukurku atas nikmatNYA. Alhamdulillah.

 

  • ES (Karyawati swasta di bidang Migas, Jakarta)

Saya sangat suka menonton film, moviegoers kata orang barat. Semua genre saya lahap, walaupun tentu saja ada 1 yang menjadi favorite. Biasanya sebelum menonton saya sempatkan untuk melihat review para kritikus terhadap film tersebut. Itu menentukan apakah filmnya layak untuk saya tonton di bioskop atau cukup di rumah saja. Interstellar was praised with positive reviews, and with Nolan as the director, I knew this movie was worth to watch at the cinema. Sepulang menonton dan berdiskusi dengan teman, banyak pertanyaan menghantui saya. Tentang manusia sebagai explorer (kelak saya pahami peranan kita lebih dari itu, manusia adalah khalifah, pemimpin), bukan untuk bumi saja, tapi skalanya jagat raya. Tentang wormhole, makhluk lain selain manusia di angkasa sana, dan lain lain. Pertanyaan itu saya tanyakan kepada seorang sahabat, yang sudah lama menjadi tempat bertanya. Lalu beliau tuliskan untuk saya penjelasan panjang, 1 hari 1 email, yang rupanya disarikan dari syarahan Ustaz Hj. Hussien Abdul Latiff. Lewat Beliau saya menemukan jalan saya untuk “kembali”.

Saya suka traveling. Alhamdulillah, sudah banyak sekali tempat saya kunjungi. Tidur di masjid selepas menyaksikan pelepasan lampion di Borobudur, pernah…Naik onta berjam2 di Gurun Sahara menuju tenda tempat beristirahat, pernah…Jadi pergi ke Singapore seorang diri, tidur di hostel yang 1 kamarnya berisikan 8 orang asing, supaya bisa jumpa dan belajar dari Ustaz, alhamdulillah tidak masalah.

Satu hal yang saya telaah, ratusan film yang telah saya tonton sepanjang usia saya, membawa saya ke Interstellar. Mengerucut menjadi pertanyaan tentang DIA. Lalu berlanjut untuk saya dipahamkan melalui tulisan Sahabat saya dan video syarahan Ustadz. Film, media yang saya cintai, adalah media saya diperjalankan untuk mengenaliNya.

Kesulitan dan kemudahan yang saya dapat sepanjang perjalan backpacking memberikan saya beragam pelajaran. Dan dengan itu, membuat perjalanan ke Singapore menjadi mudah.

Dari menonton film, saya terlatih menjadi pengamat, dan Allah pahamkan bahwa ternyata hidup ini pun adalah pagelaran sandiwaraNya yang bisa diamati. No attachment, since it’s all about Him, never about us. Backpacking ke penjuru dunia juga ada dalam skenario yang dibuatNya untuk jalan saya “kembali”.

La hawla wala quwwata illa billah. Tiada daya dan upaya melainkan pertolongan Allah. Skenarionya begitu sempurna dan teguh, dan tidak ada sesuatu apapun yang sia-sia. Alhamdulillah.

  • Taufiequrrahman (Pati)

taufieq Ku temukan kebenaran…

(Topeng-topeng)

Rabu, 11 November 2015

Rasullullah Saw : RahmatKu mendahului murkaKu…
Sebelum…Semua manusia dilahirkan mereka semua sudah “ditanamkan” keimanan oleh Allah di zaman azali…
Al A’rof : 175
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Setelah kelahiran semua manusia diberikan “topeng-topeng” masing-masing sesuai dengan peranannya, ada yang berperan “Fujur” ada yang berperan “Taqwa”

As Syam : 8
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Yang di beri peranan “fujur” maka dia menjalankan peran ke-fujuran-nya. Sebaliknya yang diber peranan “Taqwa” mereka akan menjalankan peran ke-taqwaan-nya. Mereka tidak akan bisa melepaskan peranannya..
Karena peranannya itu di “tetap” kan sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya.

Al Isro:13
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.

Dan “ketetapan” peranan dari “topeng-topeng” itu sudah di tetapkan sejak kunNya, sebelum Allah menciptakan semua ciptaan.
Orang-orang golongan bahagia mereka akan di permudajkan untuk melakukan amalnya orang-orang bahagia. Adapun golongan orang celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang celaka (terjemahan Sahih Muslim Bk.4, 575 (1994); terjemahan Sahih Al Bukhari Bk.8,402 (1987)

Tak seorang pun dari kamu kecuali sudah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka (terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk.1, 66 (1992)

Kalau kehidupan manusia ini sudah ditetapkan sesuai dengan “topeng”nya masing-masing, terus kalau begitu kita pasrah saja? Pasif, toh semua sudah ditetapkan?
Rasullullah Saw bersabda : jangan begitu beramallah dan jangan berpasrah ( terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk 1, 66 (1993)

Jangan menetapkan karena semua sudah ditetapkanNya…jangan difikirkan terlalu dalam karena semua adalah yang terbaik, tidak ada yang sia-sia, semua berhikmah..

(Al Mudatsir : 18-20)
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya),
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?,
ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?,

Bagaimana kamu memikirkan dan menetapkan?
Kalau semua adalah dzatNya yang mengambil peran?
Bagaimana kamu memikirkan dan mentapkan?
Kalau semuanya adalah urusanNya? SemuanNya adalah milikNya dan hakNya?

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (An Nisa’:78)

يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِِ

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan ja

Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. (Ali Imron:154)
Kalau sudah faham dan tahu, what next? Apa yang harus dilakukan?
Ssssstttt……diam…..diam…buatlah seperti tak tahu..ada mata lihat,ada telinga dengar, ada mulut diam…..ingatan hanya fokus ingat Allah…dengan selalu bersaksi dan menyaksikan (musyahadah)

Bahwa dzatNya dalam peranannya, bersaksi dan menyaksikan bahwa semua adalah haknya, semua terjadi atas izinNya, semuanya tidak ada yang di alpakan, semua berhikmah

Inilah yang disebut “penglihatan yang tajam”

Kamu hendaklah bersopan santun, diam dan banyak bercakap, bersabar, berserah dengan sukarela kepada Dia ( Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuhul Ghoib ; 94,96 (1990)

Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bagian, sembilan darinya terletak dalam diam (Syaik Abdul Qadir Al Jilani, Futuhul Ghoib, 94 (1980)

Kalau semua “topeng-topeng” itu dibuka semuanya sama yaitu dzat.
Topeng-topeng adalah peranan yang “mesti” di pakai setiap “pemeran” dalam pagelaran pentasNya karena pementasan ini yang bermain adalah tunggal…Setiap masa kewujudan hanya tunggal.

Kalau semuanya sudah ditetapkan…Redha (orang jawa mengatakan suko lilo, melakukan peranan dengan suka dan cinta), jangan protes apalagi menyalahkanNya karena manusia hidung dengan “topeng-topeng”nya yang di dalam “pementasanNya” .

Ingatlah yang bermain adalah dzatNya..dzatNya mengambil peranan…sadari betul bahwa semua ciptaan berasal dari dzatNya yang sedikit, dzatNya yang sedikit ini seperti setetes air bila dibandingkan dengan lautan, seperti sebutir pasir bila dibandingkan dengan gurun pasir.DzatNya yang sedikit inilah yang terzahir lauh mahfudh karena lauh mahfudh adalah wadah dari semua ciptaan termasuk ruang dan masa yang berjalan secara sistematis sesuai dengan rencanaNya sejak kun sampai kiamat ke dua

Ingatlah dalam kesadaran akan dzat…

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
(Muhammad:36)

Kalau semua tahu kalau semuanya adalah “topeng-topeng”, masihkah kita menyalahkan topeng-topeng itu?
Kalau sudah tahu semuanya adalah pentas ilahi, masihkah bersedih? Masihkah galau?
Everything is ok
Que sera sera
Hanya jauhari kenali manikam
Hidup seperti biasa
Ingat Allah senantiasa
Menjaga halal haram
Memperkemaskan diri tuk bersungguh sungguh dalam beribadah…
Allahu A’lam
Salam makrifat..

 

  • Aji Jaya (swasta, Lampung)

aji jayaHanya termenung saja di grup ini, mau ngetik tak tau apa yang mau di ketik… Hehehe.

Mau ngetik tapi bulannya kok lupa ya, hehehe

Baik mas coba saya ceritakan perjalanan saya yang memang sudah tidak dapat lagi membendung rasa rindu tuk bertemu Ustadz H. Hussien bin Abdul Latiff.

Mulanya saya selalu berdoa tuk dipertemukan dengan ustadz. Selang beberapa hari kulihat di youtube ustadz akan sarahan di jakarta, hati rasa senang sekali, kebetulan tanggal 3 oktober ada adik ipar mau nikah di daerah Pluit, Jakarta.

Waktu itu seperti biasa saya sedang tidak ada uang. Seperti biasa “naik” [Dzikrullah dan berdoa] minta kepada Allah, ya… minta uang.

Sehari sebelum berangkat [dari Lampung] alhamdulillah diberi pinjaman uang oleh adik saya, walau hanya 1 juta berdua dengan istri saya tanggal 1 oktober meluncur ke Jakarta, perkiraan saya nanti biar istri yang ketempat nikahan adik ipar dan saya pergi jumpa ustadz.

Tapi…Saya cek lagi tanggal syarahan ustadz. Tanggalnya sudah betul, tapi ternyata bukan bulan oktober, melainkan bulan depannya.

Heheee senyum makrifat. Saya teringat syarahan ustadz, ”semua pasti ada hikmahnya” dan kita mesti redha sabar dengan segala ketetapanNYA.

Dalam menunggu syarahan 1 bulan ada saja jalan tuk dapat uang. Ada tetangga adik meminta saya untuk merenovasi rumah. Saya pun mengiyakan saja. Baru 2 hari di Jakarta, tak tahu angin dari mana, adik istri saya di Taiwan telepon dan bilang ingin memberi uang jajan istri saya 2 juta rupiah.

Hehehe alhamdulillah bisa buat bayar uang adik yang saya pakai. Dan sisanya bisa buat jalan ikut syarahan ustadz. Singkatnya saya pergi ke syarahan ustadz dan terlambat, di sana saya bertanya pada yang duduk dekat pintu syarahan, dan mereka menanyakan apakah saya sudah pernah ikut syarahan sebelumnya?

Saya jawab “belum,” tapi saya mengikuti sarahan ustadz hanya lewat YouTube.

Pada awalnya mereka tidak mengizinkan saya masuk, disitu saya betul-betul sudah tenang. Andai tidak di IZINKAN masuk saya mau minta izin menunggu waktu break dan bersalaman dengan ustadz saja, itu sudah cukup.

Tapi Allah sedang bersedau gurau rupanya, akhirnya mereka memanggil seseorang dan menyakan lagi mengenai boleh tidaknya saya ikut syarahan. Dan alhamdulillah ahirnya diizinkan juga.

Dalam hatipun berkata, ya Allah Engkau senang bercanda.

Hehehe… Maaf sahabat saya tak pandai buat cerita walau tentang diri sendiri.

Satu lagi, apa yang saya kerjakan di Jakarta itu sebenarnya itu semua juga baru pertama kali saya kerjakan (renovasi 2 rumah seorang diri dapat selesai dalam 41 hari).

Akhirnya dapat jumpa Ustadz H. Hussein, juga bisa menghadiri pernikahan adik istri saya dan pulang alhamdulillah masih ada uang sisa.

Hehehe itulah perjalanan saya yang memang sudah tidak tahan lagi menanggung rindu pada ustadz.

 

  • Zainul Al Aswadi (Swasta, Aceh)

 

zainKakek saya seorang pendiri cabang sebuah tarekat di Medan. Dari beliaulah saya sedikit banyak mengenal tasawuf, dan mendapatkan amalan beberapa tarekat.

Saya banyak mengkaji tentang perjalanan Arif Billah. Memang saat itu saya sudah pernah berjumpa dengan orang-orang yang mengaku sebagai Arif Billah, tetapi saya masih tetap mencari.

Sempat saya baca dalam sebuah kitab syarah dari “Al-Hikam,” yang menjelaskan mengenai Arif Billah. Semakin saya baca; semakin kalbu tersentuh.

Singkat cerita, terdorong oleh rasa penasaran dengan Arif Billah, saya mencari di YOUTUBE dengan kata kunci “Arif Billah”, banyak hasil pencariannya ternyata.

Diantara sekian hasil itu saya melihat ada judul syarahan Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff, “Dzikrullah 1”, sekilas saya lihat perjalanan dan pengajarannya hampir mirip dengan tarekat yang saya geluti. Dan saya mendapatkan kepahaman lebih saat melihat lanjutannya pada syarahan “Dzikrullah 2”. Tersentak hati ini.

Tak lama selepas itu, saya bermimpi bertemu Ustadz di sebelum sholat subuh dan dalam keadaan suci…di dalam mimpi itu saya meminta untuk ikut Ustadz sambil menangis, tetapi Ustadz hanya diam saja.

Ustadz memberikan ke tangan saya sebuah bunga berwarna emas ke genggaman. Sambil menangis saya tetap meminta untuk ikut dengan Ustadz.
Di mimpi itu terlihat cuma kami berdua saja yang ada, pada sebuah padang yang luas.

Ketika terbangun saya menangis dan menangis begitu lama.

Selepas itu, keinginan untuk bertemu dengan Arif Billah H. Hussien semakin kuat. Saya meminta izin dari pesantren tempat saya sekarang belajar di Aceh, awalnya tidak diizinkan tetapi saya tetap bersikukuh.

Saya jual laptop satu-satunya untuk ongkos berangkat ke Medan dan ke Batam. Saya mulakan dengan berangkat ke Medan, menginap disana tiga hari, lalu berangkat ke Batam dan kerja sebentar di sana.

Saya kerja serabutan di Batam, termasuk mengisi pengajian Ibu-ibu di masjid. Dengan uang hasil bekerja selama sebulan itulah saya membuat passport. Pada saat tiba waktunya saya ditetapkan Allah SWT bisa ke Singapura, Alhamdulillah saya diberi tiket pulang pergi oleh salah seorang Ibu pengajian yang kasihan melihat saya sangat merindu pada Arifbillah Ustadz Hj. Hussien.

Saat di pelabuhan “singapore cruisse center” di Singapura, itu benar-benar kali pertama saya jejakkan kaki ke Singapura. Ditambah lagi saya tak bisa berbahasa Inggris. Hanya tekad bulat dan keyakinan akan pertolongan Allah yang membuat saya berani.

Kepada seorang berjilbab yang lewat, saya tanyakan arah stasiun MRT yang menuju stasiun PAYA LEBAR di dekat kompleks tempat dimana Ustadz Hussien biasa mengadakan Seminar Makrifatullah.

Akhirnya saya tiba juga disana. Pada ustadz, saya ceritakan awal mula saya bertemu dengan ilmu ini, beserta segala kelok-likunya. Ustadz tampak begitu bangga dan senang dengan perjalanan yang saya ceritakan itu.

Singkat kata, saya meyakini kapasitas beliau sebagai seorang Arif Billah. Dengan itu segala amalan tarekat sebelum ini saya tinggalkan, dan saya mengikuti dengan total syarahan keilmuan dan metoda Dzikrullah yang beliau ajarkan.

Alhamdulillah selepas itu saya cukup sering bolak-balik Indonesia-Singapura dan berjumpa ustadz, baik pada syarahan-syarahan di Indonesia ataupun di Singapura.

 

  • Sri Puji Astuti (Swasta, PATI)

Saya ingin mulai cerita tentang perjalanan saya bertemu kajian makrifat ini, tetapi cerita perjalanan saya sendiri tak akan bisa dipisahkan dengan cerita pencarian suami saya (Mas Agus), maklum, kita selalu kompak berdua, karena tugas saya sehari-hari adalah menjadi manager, merangkap bendahara, sekretaris, ibu rumah tangga, istri, teman, dan sahabat beliau.

Memang kita berdua sama-sama “pencari”. Dari masa kuliahnya suami saya, sampai setelah kita nikah, suami saya adalah penggila buku-buku tasawuf. Semua koleksi buku dikoleksi dan dibaca. Bahkan uang untuk belanjapun dipakai beli buku. Anak nangis pun tetap baca buku, hahaha.

Dalam salah satu pencariannya, suami saya pernah dibimbing guru yang ketemu dipuncak Rejenu. Kalau mau cari Allah, kata sang guru itu, disuruh puasa tidak makan dan tidak minum selama 7 hari. Ketika suami melakukan itu saya menangis. Karena tidak bisa didekati, kalau dekat apalagi disentuh katanya kulitnya sakit sekali. Belakangan saya baru tahu kalau yang mengajari suami saya dulu itu penganut aliran ‘wahdatul wujud.’

Kurang lebih 15 tahun kami juga ikut sebuah Thoriqoh. Kaki kami sampai kapalan menebal karena banyak duduk bersila dan jari-jari kami juga menebal karena banyak wirid.

Alhamdulillah…banyak pelajaran yang kami dapat dari guru kami saat itu (Al Fatehah). Beliau mengajarkan lengkap semuanya (sampai muroqobah dan meminta petunjuk Allah agar ‘ditunjukkan’) 15 tahun menunggu sebuah ilham Rabbani berupa pencerahan mengenai ilmu makrifat, bukan waktu yang singkat.

Dalam perjalanan itu juga kami menambah ubudiyah kami dengan mengikuti juga sholat khusyuk yang di jembatani oleh seorang sahabat dari Solo. Kami ikut juga Jama’ah Asmaul Husna di masjid Agung Jawab Tengah. Kami bertahun-tahun mendawamkan Asmaul Husna sampai hafal diluar kepala dan bisa mewiridkan Asmaul Husna berpuluh kali setiap harinya.

Lelah dengan pencarian yang panjang dan berliku, saat suami saya Umroh, dan pada saat tawaf itulah suami saya menjerit meminta petunjuk Allah SWT agar dituntukan yang benar dan ditunjukkan bagaimana beragama dengan benar.

Sepulang Umroh, tiba di rumah, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba tukang las kita diminta oleh suami saya untuk membuat tower (semacam tower telkomsel) karena signal ditempat kami jelek dan ndak bisa wifi.

Setelah jadi dan terpasang, suami saya browsing-browsing “makrifatullah” Dan kebetulan waktu itu ketemulah dengan YouTube “farhan4u2c” yang masih belum banyak meng-upload video syarahan. Masih sepenggal-sepenggal dengan durasi lamanya 15 – 20 menit.

Disitulah suami saya bercerita pada saya bahwa dia sangat tersentak dengan syarahan “Pembukaan Pintu Makrifatullah”, Semangatnya suami saya bercerita pada saya, saya ikut mendengarkan waktu itu, tetapi belum terlalu ‘ngeh’ karena kendala bahasa, dimana syarahan disampaikan dalam bahasa melayu.

Selepas itu suami meminta saya untuk menghubungi Kak Marhama sebagai dewan IPA (International Promotional Agency) singapore yang mendistribusikan syarahan Ustadz Hussien. Untuk menanyakan bagaimana cara kalau kita ke Singapore.

Harap maklum…kami orang desa, belum pernah bepergian sendirian ke luar negeri. Bahasa Inggris-pun sangat minim.

Kak Marhama sangat baik sekali memberi penjelasan pada kami. Berangkatlah kami ber 4 (Mas Agus, Tuti, Redha anak kami dan Ustadz Ridwan).

Setiba di Singapore kami dijemput oleh banyak orang seolah kami ini tamu yang istimewa. Malu sekali hati kami. Tak disangka di negeri yang semodern Singapore masih ada orang-orang yang begitu baik menyambut tamu. Yaa Allah…kami benar-benar terharu.

Kami disuguhi makan malam bersama Ustadz dan semua dewan IPA dan sahabat Singapore. Kami benar-benar diperlakukan sangat istimewa…Alhamdulillah.

Setelah seminar yang pertama itu selanjutnya kami ikut seminar lagi. Dalam beberapa seminar yang kami ikuti lama-lama kami tahu bahwa Ustadz mempunyai Nazam sendiri yang dinamakan nazam hakekat.

Kami tersentuh untuk merekamkan di Pati. Kebetulan ditempat kami bukan suatu hal yang sulit mengaransemen Nazam Hakekat (kami ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya pada Kang Abas, Sena dkk atas pengobanan waktu dan tenaga tanpa ada bayaran dari kami utk mewujudkan Nazam Hakekat tersebut).

Nama “Hikmatun Nasheed” pun kami ambil supaya tidak ada pengakuan dari siapapun / meng-hak-i nazam ini. Nazam Hakekat murni punya Ustadz dan kami persembahkan untuk Rasulullah SAW dan Ustadz tercinta.

Dengan semangat yang menggelegak kami bertekad membawa Ilmu Makrifat yang dicari banyak orang ini ke Indonesia. Kami matur Ustadz untuk mengundang beliau menyelenggarakan seminar di Pati dan Ustadz menyetujui. (Setelah tayang di YouTube, rekaman seminar ini diberi judul “Seminar Ilmu Makrifatullah di Semarang”) disitulah pertama kali Ustadz menampakkan diri melalui video (terimakasih yang sedalam2nya pada Ustadz Ridwan dan Ibu Sriwati sekeluarga, Mas Roso Oka Shooting dan rekan-rekan Mbak Bestari, Mas To Mantri, Kang Sarmito, Mas Budi, Mas Yadi polisi yang telah menguruskan ijinnya dan kawan-kawan lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu yang telah membantu kelancaran terselenggaranya seminar di Pati).

Seiring berjalannya waktu kamipun merekamkan Nazam Makrifat-2 oleh “Hikmatun Nasheed” dan seminar juga kita lanjutkan lagi ditempat-tempat yang lain.

Setelah seminar di Pati kamipun mengirim 7 sahabat ke Singapore untuk kami ajukan sebagai pengajar Ilmu Makrifatullah (gelombang I). Selanjutnya kami mengajak lagi 4 orang sahabat pada gelombang ke-2, untuk kami ajukan sebagai penyampai di Pati. Benar apa kata Ustadz ‘tiada kerja jangan cari kerja’. Kami menemui berbagai rintangan dan halangan. Tapi syukur pada Allah SWT sekarang di Pati sudah kondusif dan berjalan dengan baik.

 

  • Mellyana Balqis (Swasta, Jakarta)

mellyanaBismillahirrahnirrahim

Tepatnya 2 tahun lalu Setelah Aku shalat tiba-tiba Aku ngerasain suatu kehampaan dalam beribadah, merasa kosong, merasa kok ibadah cuma gini-gina aja, tapi Aku ga ngerti harus gimana.

Pada suatu kesempatan ada temenku ngajak kumpul-kumpul, dan salah satu temennya ada temen baru, Aku lupa gimana cerita awalnya tiba-tiba aja Aku sama dia ngomongin masalah Agama.

Aku masih ingat dia bilang Kita ini harus mengenal “Siapa Aku”, tapi pada waktu itu dia ga kasih jawaban yg memuaskan.

Setiba dirumah Aku langsung googling, pokoknya setiap ada kesempatan aku googling sampai suatu hari aku baru mengerti kalo itu bahasan tentang tasawuf.

Selepas itu aku googling mengenai tassawuf itu apa, masih juga penasaran aku pergi kedaerah kwitang senen, disana aku belanja buku mengenai tasawuf.

Baca buku siang dan malam dan sampailah pada kalimat” Kalo mengenal diri pastilah mengenal siapa Tuhan Kita, Kalo mengenal Tuhan pasti mengenal diri Kita” dan tenyata dianjurkan utk mempunyai pembimbing/ mursyid.

Selepas itu Aku telpon temen yg behijab, siapa tau mereka punya kenalan guru tasawuf, pernah aku telpon juga ke satu Ustadzah tp dia seperti nyinyir pas aku minta tolong dikenalkan seorang pembimbing tasawuf.

Akhirnya balik lg googling cari-cari Alamat yg mengajarkan tasawuf. Tapi belum dapet juga…hati bingung, ada rasa terluka didalam hati, kecewa, putus asa, harus gimana lagi, sedangkan hati begitu menggebu.

Tidak lama kemudian Aku berangkat Umrah bersama kedua orangtuaku, didalam satu rombongam Aku melihat ada Seorang yg helpfull banget. Orangnya bersahaja, Aku berfikir dia adalah salah satu kru dari travel umrah.

Singkat cerita rombongan sampelah di airpot jeddah, org yg aku pikir kru dari travel tadi berbincang-bincang dengan salah satu petugas travel, dan Aku begitu kaget org yang aku pikir tadi dipanggil Habib.

Sosok habib itu begitu bebeda dgn habib-habib yang lain, sangat santun, dan sangat penolng terutama kpd orang-orang tua.

Singkat cerita Habib tsb sekamar dengan Ayahku, Lalu aku ceritakan tentang ganjalan dihati kepada Ayahku, Aku beritahu Ayahku kalo aku sedang mencari guru, dan kepada Ayahku aku mintakan beliau sampaikan kepada Habib tersebut agar berkenan menjadi guruku.

Suatu pagi di Mekkah Aku di Undang Ayahku kekamarnya, dengan rasa ga karu-karuan Aku kekamar Ayahku, Aku ketok-ketok pintunya.

Ayahku bersama Habib tersebut keluar kamar, kami ngobrol berdiri didepan pintu dan Aku Ceritakan ke ingin tahuanku tentang Tasawwuf itu dan ingin menjadi muridnya.

Habib tersebut menangis dan mengajakku berdoa bersama, Setelah berdoa Habib bilang “Insyaa Allah mbak akan menemukan apa yg Mbak cari.”

Aku sangat terharu dan sedih saat itu.

Setelah kembali ketanah air, Aku kembali ke google, waktu itu pencarianku mengarahkan ke YouTube, tak sengaja aku buka Arif Billah Ustadz Hussien dan Tok Kenali.

Mulailah dengerin Syarahan Ustadz Hussien dan Tok Kenali.

Ada kebingungan disitu, pada Akhirnya Aku memutuskan untuk melilih Ustadz Hussien. Aku mulai download Syarahan-syarahannya, kala itu Aku seperti orang kelaparan dan kehausan akan ilmu, dan sangat senang, dari sinilah Aku mulai gembeng ( selalu menangis).

Tapi muncul lagi kebingungan, Ustadz Hussien jauh nun disana, bagaimana Aku kesana, Suamiku seorang mualaf, Apakah dia bisa mengantarku kesana?

Dalam kebingungan akhinya Aku googling mencari lagi alamat pengajian Tassawuf yang ada di jakarta biar deket.

Sampai pada akhirnya aku menemukan Kajian tassawuf di daerah Tanjung periuk, Aku tlp dan buat janji, tapi ga kesampean kesana, Aku merasa berat pergi kesana padahal Aku sdg menggebu-gebu cari guru.

Singkat cerita akhirnya Aku jadi juga ke Singapura dianter Suami, anak dan Adik ketemulah Ustadz disana, dan Ikut seminar Makrifatullah.

Karena Aku seorang yang Awam akan Ilmu Agama apalagi tasawuf, Aku ikutin terus Syarahan demi Syarahan Ustadz di YouTube.

Aku tidak punya bekal pengetahuan apa-apa mengenai Ilmu Tasawuf sebelumnya. Alhasil Apapun kutipan Ustadz dari buku langsung Aku beli ke Kwitang. sampe Aku jadi punya buku-buku Abdul qodir jaelani dan buku-buku Imam Ghozali yg seri 1-9 dll.

Pada suatu hari timbul keraguan, Hati bertanya-tanya Apakah ini benar? Apakah ini tidak sesat? dan banyak lagi pergolakan di hati.

Aku buka-buka YouTube ceramah-ceramah Ustadz-ustadz lain, sebagai pembanding, Aku hanya ingin Yakin bahwa Ustadz Hussien tidak sesat dan benar akan Syarahannya. Karena memang ini adalah sesuatu yg baru buatku. Yang mana sebelumnya Aku ga tau apa-apa, Istilahnya kaget dengan Ilmu ini.

Sampai suatu malam Aku bermimpi. Terlihat Aku ada disuatu perjalanan, disana Ada 2 bus, Bus pertama penuh dan aku tertinggal.

Aku kecewa karena ga bisa naek bus pertama, kemudian Aku naik bis kedua, ternyata didalam bis itu Ada Ustadz Hussien menungguku. Kemudian barulah bis jalan… Subhanallah…ini Aku ingin menjerit.

Setelahnya Sampai Saat ini Aku yakin dan seyakin-yakinnya denganTasawuf jalan Nabi-nabi yang di-Syarahkan oleh Arif Billah Ustadz H. Hussien, dan Aku sdh tidak mencari-cari lagi.

Itulah perjalannku dalam pencarian Tuhan, Syukur Alhamdulillah Allah menjawab doa-doaku, dan semoga Aku termasuk Sahabat dari Ustadz Hussien untuk dunia dan Akhirat.

Amin Ya Allah Ya Rabb

  • Ellsy (58 tahun, Malang, Pensiunan PNS dokter)

lcMENCARI ALLAH PERJALANAN YANG PANJANG

Kerinduan… Keingin tahuan… Rasa Nikmat yang tak bisa tergambarkan kata-kata… campur aduk jadi satu, sejak kecil, sejak nalarku mulai aktif berinteraksi dengan alam dan lingkungan ku, terbang kesana kemari, tanpa arah.

Sejak kelas 3-5 SD dari keluarga bukan taat beragama, bahkan bapak ku belum pegang satu agama pun, aku mencari Allah, mencari kerinduan dan kenikmatan yang:

* yang samar tapi rasa jelas…
* yang ada tapi tiada…
* yang menggetarkan seluruh jiwa ku… tapi aku tak tau..
* aku yang rindu… tak tau apa yang kurindu…

Aku yang sedari kecil mencari …
Aku yang meraba raba… sekenanya aku jalani…
Aku menangkap… apa yang bisa aku tangkap…
ADA SESUATU YANG AKU CARI… tapi aku tidak mengerti… tidak paham apa yang aku cari

TELINGA PENDENGARANKU AKU LEBAR KAN

Orang bilang baca surat al Ikhlas 1.000 kali seperti membangun rumah di surga… aku jalani di usia 10 tahun

Puasa Senin Kamis untuk kebaikan di masa yang akan datang, aku jalani mulai usia 10 tahun

Diusia 8-10 tahun bulan Ramadan aku minta diantar ke mbah Moeng (adek kakekku di Plampitan Peneleh lingkungan Santri asli Surabaya) untuk puasa dan tarawih.

Dari kecil sangat menentang klenik dan perdukunan, sedangkan kota tempat ku tumbuh dan berkembang di Probolinggo masa itu lingkungan nya sarat klenik dan keluargaku kena imbasnya. Aku menentang habis-habisan.

Periode anak, periode pondasi awal mencari Allah
* aku minta belajar silat dilingkungan pesantren ditolak orang tua ku
* aku minta belajar di pondok pesantren di tolak orang tua ku
* aku minta masuk pesantren kilat hanya saat Ramadan, ditolak orang tua ku.

Orang tua ku melihat potensiku hanya dari segi fisiknya saja, sehingga aku disekolahkan di SD – SMP – SMA Katolik… sebab sekolah terbaik di jaman nya saat itu.

Dan extra kulikuler nya hanya boleh menari jawa klasik, sampai 3 tahun belajar menari, mulai sering manggung.
Tapi, aku tidak bahagia dengan keadaan jadi artis. Aku memutuskan sepihak, stop manggung jadi penari, gara-gara menor dan telanjang dada.

Periode Remaja (SMP/SMA)
Ambisi orangtuaku pada anak pertama nya agar sukses menjadi dokter, agar bisa memberi contoh sukses kepada adik-adiknya yang 7 orang.

Periode Remaja ini, makin jelas kerinduanku itu, terus mengoyak hati ku.

Aku tidak kenal Rosulullah Muhammad SAW, membuat hampa hati ku, sampai sekarang aku menyesal. Cintaku kepada Rosulullah tidak setebal sahabat-sahabatku.

Aku lebih mengenal Yesus dengan perjanjian lama dan barunya.

Saat Ramadan adalah waktu yang paling menyiksa, sebab saat hamba-hamba Allah muslim dan muslimah menikmati Ramadan, hatiku menangis tidak bisa ikut Tarawih, sebab sekolah selalu mengadakan ulangan dan ujian.

Aku selalu menangis dalam solat solatku.

Sebagai pelajar yang bertanggung jawab, aku harus belajar. Nilai jelek bagiku menyedihkan. Membuat sedih orangtuaku yang sangat mencintaiku, membuat aku sedih juga.

Sampai lulus SMA, aku belum bisa membaca al Quran. Menyedihkan.

Aku tidak tega menyakiti, mengecewakan orangtuaku. Mereka memintaku menjadi dokter. Aku ikuti keinginan mereka.

Cita-citaku sebenarnya adalah menjadi Nahkoda Kapal, sehingga bisa menjelajah dunia, jauh dari lingkunganku, sehingga aku bisa menentukan tujuan hidupku, mencari apa yang aku rindu selama ini.

Periode Kuliah Fakultas Kedokteran di kota Malang dan pernikahanku

Kelahiran 2 anak perempuanku menutup kerinduanku, sebab :
* sibuk belajar
* sibuk di Rumah Sakit
* sibuk sebagai ibu bagi 2 anak balita

Periode mengikuti suami bekerja di Jayapura Papua.
Mulailah hidup yang sesungguhnya, diluar bayang-bayang orang tua.
Aku bebas menentukan tujuan hidupku. Peran multitalenta. Peran multifungsi. Banyak peran dan tugas pekerjaan harus aku jalani. Tuntutan keluarga aku tapaki.Membuatku ingat Allah. Hanya Allah tempatku bergantung.

Cintaku kepada Allah tumbuh subur kembali. Kerinduanku kembali muncul tak terbendung.

AKU BARU INGAT… AKU BELUM BISA MEMBACA AL QURAN!!
Aku menangiiis…aku sedih….aku lalai.

Disela-sela tugasku jaga UGD RS Jayapura, kalau tidak ada pasien aku belajar membaca al Quran dari alif… ba’…ta’… tsa’…

Belajar dari kaset jadul dan tape recorder. Sampai suatu Ramadan ditengah lautan saat mudik diatas kapal Umsini Jayapura Surabaya, aku mendengar suara gaib, hanya aku yang mendengar suara itu.
Suara tadarus Quran itu… aku yakin itu suara para malaikat.

Suara malaikat ditengah lautan, aku dengar dari tengah malam sampai fajar tiba.

Saat itulah aku sangat bahagia, sholat dan doa aku lakukan tiada henti, sambil bercucuran air mata. Sampai terbit fajar.

Sejak saat itu Alhamdulillah atas ijin-NYA, atas Cinta-NYA, aku lancar baca Quran.

KERINDUAN KU TERUS BERANAK PINAK…

Cara Allah mengajariku tentang agama Islam adalah dengan ditunjuk menjadi penceramah Kesehatan Islam khususnya wanita muslimah di Masjid Raya Jami’ Jayapura bergantian dengan 3 ustadz terkenal di kota Jayapura tiap 4 minggu sekali.

Terpaksa mencari referensi Islam dengan beli dan membaca buku-buku agama Islam.Mulailah kenal dengan para ustadz. Mulai kenal shalat Tasbih, solat rawatib, mulai kenal puasa sunnah lain nya selain Senin Kamis, mulai mencintai masjid, mulai ingin meninggalkan keduniaan… padahal baru mengenal dunia.

Saat gairah dekat dengan Allah sedang mekar-mekarnya. Saat selalu ingat Allah dengan ayat Kursi setiap saat. Saat selalu mengamalkan surat Yasin tiap hari dari 45 menis sampai bisa 10 menit. Saat hati tersiram Nikmat Allah.Saat merasakan Ketenangan bersama Allah saat solat malam tenggelam bersama Allah.

Datang musibah. Cobaan Iman hadir. Test Keimananku sedang di uji NYA. KLL… kecelakaan lalu lintas, ketetapan NYA ada padaku.

KLL mobil merusak wajah dan mata kiriku, masyaa Allah. Subhanallah… Allahu Akbar.

Saat KLL aku tetap sadar dengan kepala berdarah-darah bagai air kran sedang mengalir, sedangkan suamiku yang hanya luka ditangan pingsan, dan aku yg membantunya keluar dr mobil.

Tetap tenang atas kehendak Allah, selama evakuasi, pertolongan pertama di RS terdekat, ke RS Propinsi tempat ku bekerja, ke RS Rujukan di Surabaya, 3 kali operasi mata, sampai sembuh buta mata kiri ku. Tetap tenang. Alhamdulillah.

Allah hanya menguji imanku … tanpa rugi harta sedikit pun

Belum punya dasar ilmu apapun… aku mengalami kejadian LUAR BIASA. Saat operasi mata, saat dibius, Ruh ku lepas dari jasad ku…Ruh ku melihat hanya jasadku terbaring. Ruh-ku melayang-layang, nikmat ditempat seperti kubah masjid warna emas.

Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti itu sebelumnya dan sesudahnya, kemudian aku masuk kembali ke jasad ku sebab aku dijemput malaikat yang mau mencabut nyawaku.

Aku pasrahkan diriku dijemput malaikat, saat kepasrahan itu, ikhlas pergi, telingaku mendengar suara-suara manusia, dan aku tersadar dari pengaruh bius.

Aku ada di dunia yang ramai ini lagi. Makin yakin … Allah mengatur segalanya. Makin Haqqul Yakin. Allah Sang Maha Sutradara.

Makin kuat Iman, makin Cinta, makin Nikmat. Semua atas kehendak-NYA, dan atas Ketetapan NYA.

Sesudah Kecelakaan itui, aku memutuskan Haji dengan uang yang ada. Sebab Haji adalah wajib, sedangkan mobil, rumah, adalah sunnah.

 

Periode mengikuti suami pindah ke kota Kabupaten Paniai Papua

karier suami bagiku lebih penting daripada karier istri.

Ternyata kesibukanku lebih padat dari saat di Jayapura :
* jadi PJS Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai selama kepala Dinas tugas belajar ke Swedia
* jadi Direktur RSD Nabire
* praktek dokter karena tuntutan masyarakat.. sebab dokter di RS cuma 2 orang

Uang banyak tidak menjamin kebahagiaan:
* kembali Rindu menggebu.
* mulai gelisah tidak bisa solat khusyuk…

Kembali menangis ke Allah Ya Allah… aku rindu Cinta sejati ku. Ya Allah… aku rindu Kekasih yang kurindu. Ya Allah… aku pengen khusyuk. Ya Allah… aku rindu ketenangan hakiki.
Saat ituilah aku masuk Jamaah al Fithrah. Mencari Allah… ajaran lewat tol dalam mengenal Allah… lewat pintu Hakikat. Tetapi ajaran nya tidak jelas, tidak runtut, hanya latihan gerakan-gerakan rasa, hanya latihan kekebalan senjata tajam dan kebal orang jahat.

Periode mengikuti suami ke kota Madiun Jawa Timur
Kala itu masih asyiik dengan Allah, persepsi saya sederhana saja:

  • mulai mengamalkan puasa Daud
  • mengamal kan solat malam dan Dhuha.
  • mengamalkan itikaf di akhir Ramadan.
  • mengamalkan Surat Yasin dengan 7 mubin

Periode di Kota Batu Malang.

Saya berbaiat pada seorang guru… Guru mengajarkan Ruh lepas dari jasad sebagai latihan mati sempurna , seperti layak nya nabi Isa, hilang jasad dan ruh nya.

Tapi, saya malah gagal paham.

Capek dengan ilmu ilmu tidak jelas, akhirnya kembali ke al Quran dan Hadist, yang selama ini belum pernah aku pelajari. Mulai belajar Nahwu Sharaf, terjemahan di berbagai guru, dari privat, kelas tatap muka, dan beberapa on-line.

Setelah ibuku meninggal dunia dalam pelukanku, sangat kuat kerinduanku mengejar kebodohanku tentang Islam.

Aku putuskan Pensiun dini sebagai dokter, kan ibuku sudah merasakan menikmati anak nya jadi dokter 30 tahun. Sudah cukup aku membahagiakan ibuku, saat nya aku memikirkan diriku sendiri. Sudah selesai tugasku sebagai ibu, karena anak-anakku sudah menikah.

Saat itu sudah sekira 4 tahun aku belajar Makrifat pada sebuah pelatihan yang mengajarkan metoda sholat khusyu. Tapi, aku merasa masih belum sampai, belum berhasil, belum paham, Tapi… Allah tetap aku pegang dan genggam kuat kuat dengan menjalani semua takdir NYA.

Tanggal 5 Oktober 2015, melalui FB ustadz Yusdeka Putra, saya menemukan dan mulai browsing Web dan YouTube Syarahan Arif Billah Hj Hussein bin Abdul Latiif:

Kesan saya terhadap beliau dan kajian beliau:

 

  • Ajaran bliau Arif Billah, atas Ijin-NYA masuk dengan mudah
  • Meluncur deras syarahan-syarahan beliau saya ikuti, setiap pagi 2 sampai 3 video syarahan dan seperti ada kerinduan yang terjawab.
  • Syarahan mengalir dengan tenang, yakin, mantab.
  • Membaca Syarahan Arif Billah, makin memantapkan Iman, makin bertambah Iman, ada rasa ketenangan.
  • Menjalani taqdir baik dan buruk yang sudah tertulis di Loh Mahfuz dengan ikhlas, dan selalu belajar sabar
  • Tidak menuntut banyak, tidak ada target, tidak menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal, atau yang tidak terjangkau.

KESAN PERTAMA BERTEMU USTADZ YANG HANDSEM

  • wajah nya bersinar
  • wajah nya memancarkan kedamaian
  • wajah yang putih bersih, akhirnya mengakui,memang handsem
  • memancarkan rasa damai bagi yang memandangnya
  • memancarkan ketenangan
  • mengisyaratkan kemudahan

 

Sewaktu mengikuti syarahan ustadz Arif Billah H. Hussein

  • Rasa selalu ingin tau apa selanjutnya tanpa rasa lelah / bosan / ngantuk
  • Yang disampaikan, nyambung banget dengan apa yang sedang aku pelajari dan sedang aku cari selama ini.
  • Yang disampaikan menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini :
    * kerinduan karena Allah
    * Cinta sejati NYA
    * Kebahagiaan Hakiki
    * Ketenangan yang damai
    * Persahabatan dunia akhirat

Akan tetapi, masih ada sedikit saja yang mengganjal di hati ku. Kenyataan bahwa aku belum bisa mencintai baginda Rosulullah SAW denga total.

Aku akan selalu belajar, belajar, dari Arif Billah dan semua sahabatku.

Mohon bimbingan dan arahan nya, dengan Ridha Allah.

Al Fatihah untuk Ustadz Arif Billah H. Hussein bin Abdul Latiif. DanJazaakallah khairan katsiran untuk bapak Yusdeka Putra.

Salam penuh persahabatan dunia akhirat untuk semua sahabat ku. Aku mencintai kalian karena Allah.
Moga persahabatan ini sampai dunia akhirat, berada di surganya Allah bersama-sama, Aamiin.

 

  • Didik Suharyanto (Swasta, Pati)

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, puji syukur bagi Allah SWt yang telah memberikah hidayah dan inayah serta nikmat iman.
Sholawat serta salam saya haturkan ke hadirat baginda Nabi muhammad SAW,Allahummasholi’la muhammad wa ala’alisyaidina muhammad.

Saya berlatar belakang orang awam, tidak pernah mondok dipesantren.

Tapi pencarian tantang Tuhan (Allah) selalu saya lakukan dengan mendatangi para ulama dan guru guru yang saya anggap mengerti tentang seluk beluk agama islam.

Tapi semua pencarian itu justru membingungkan saya karena jawaban yang mereka berikan berbelit belit dan sulit saya pahami apalagi lakukan.

Itu dikarenakan akal saya menolak,dalam hati saya berkomentar, masak agama islam itu sesulit ini?

Jika agama islam sesulit ini bagaimana mungkin islam bisa diterima dikhalayak ramai, apalagi menurut akal saya Tuhan kok hanya bisa dikenali orang orang tertentu sehingga seolah olah dimonopoli dan jika kita mau mengenalNya apalagi jika kita mau mengadu atau kita meminta kita harus melalui perantara mereka2 yang telah kenal Allah.

Nah,pada ahirnya sekitar tahun 2013 saya kenal sama mas Agus (ketua pusat yamas Indonesia) dan dikenalkan pada konsep ketuhanan yang berbeda metode dan konsepnya yang disampaikan Ustad Hussein bin Abdul Latif.

Saya ikuti perlahan lahan sampai hampir satu tahun saya tak paham paham karena begitu bebalnya saya,
Tapi alhamdulillah perlahan lahan saya paham dan saya terima karena saya anggap masuk akal dan tidak bertentangan dengan konsep konsep agama (dalil naqli dan dalil aqli).

Pada ahirnya saya terima segala isi yang Ustad Hussein Bin Abdull Latif sampaikan,
Bahkan hampir semua, pemahaman dan pengalaman spiritual lama saya bongkar dan saya ganti dengan paradigma yang baru ini.

Kemudian saya mencukupkan diri untuk mencari dan membanding-bandingkan karena segala yang Ustad Hussein Bin Abdul latif sampaikanjelas, masuk akal,dan lebih dari cukup menjawab apa yang saya cari selama ini.

 

  • Mujiburrahman (Karyawan sebuah BUMN di Balikpapan)

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bermula Dari Latar belakang keluarga sederhana, yang kental dengan agama. Hanya saja diriku lebih memilih untuk mengenyam pendidikan umum mulai dari TK,SD, SMP dan SMA. Berbeda dengan kebiasaan keluarga yang kebanyakan mengenyam pendidikan di Madrasah. Tapi kewajibanku sebagai seorang muslim alhamdulillah tetap aku jalankan sebagaimana mestinya. Bahkan sejak SD kelas 5 saya sudah di kenalkan dengan amalan-amalan dari orang tua yang tujuannya agar bertemu Nabiullah Khidir, “Kata Beliau. Hehe…hehe…

MASA KETIKA SMP

Bermodalkan keluarga yang kental dengan agama. Selain beribadah, dan mengenyam pendidikan agama di sekolah. Diriku mulai menggali informasi mengenai islam lebih dalam. Tidak jauh-jauh saya bertanya dengan orang tua saya. Karena beliaulah saksi sejarah dengan segudang pengalaman ketika masih adanya orang-orang kekasih Allah (waliullah) di sekitar tempat tinggal saya, yang tidak lain termasuk dalam keluarga saya. Maka diceritakanlah mengenai kakek saya. Dengan Segudang ilmu dan kelebihan yang dimilikinya.  Mulai disitulah saya dikenalkan dengan istilah “Makrifat”.

MASA KETIKA SMA

Singkat cerita ketika saya berada di bangku kelas 3. Perasaan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt amatlah besar. Tidak hanya itu keriduan untuk berjumpa sang baginda nabi MUHAMMAD SAW tak tertahankan. Sejak saat itu saya merasakan nikmatnya membanyacakan Sholawat Nabi lebih-lebih saat “MAHLUL QIYAM”, Air mata pun tak tertahankan begitu yakinnya pada saat itu kalau Nabi MUHAMMAD SAW Hadir. Disinilan awal mula kecintaanku dengan baginda Nabi. Meski sejak dari kecil saya sudah terbiasa membaca Sholawat Nabi (Dhiba’), tapi pada masa inilah mulai merasakan akan kecintaan kepada Baginda. Entah akan di bawa kemana Sejujurnya diri ini, Ingin sekali bertemu. Jalan apa yang harus saya pakai untuk bisa mendekatkan diri dengan-Mu dan Rosul-Mu (Nabi Muhammad SAW). Kecuali dengan jalan ibadah kepada Allah SWT.

MASA KETIKA KULIAH

Dunia kuliah bagi saya sangatlah singkat karena saya tidak sempat menyelesaikan kuliah saya, karena saya lebih memilih langsung kepada dunia kerja. Hanya saja pengalaman di masa ini begitu besar. Dengan tekad bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah swt. Sejak inilah diriku merasakan nikmatnya ibadah yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Segala ibadah yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah saya jalani.

Di masa ini saya dikenalkan dengan yang namanya  keyakinan kepada Allah swt. Tidak hanya itu, keinginan untuk menimba ilmu agama islam sangatlah besar, sampai-sampai waktu itu saya minta MONDOK kepada orang tua saya, saya bilang kalau ingin menjadi seperti kakek. Pinter ilmu agama, dekat dengan Allah swt, segala hidupnya untuk berjuang di jalan Allah SWT. Tapi tk diijinkan. Sampai akhirnya saya diterima kerja di salah satu perusaan BUMN dan saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

MASA DUNIA KERJA

Dengan jarak yang sangat jauh. Antara keluarga yang berbeda pulau. Tergolong jauh bagiku seorang anak bungsu di usia 17 tahun harus berpisah dengan keluarga untuk bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, Karena keluarga saya tergolong keluarga tidak mampu. Saya pikir dengan kesibukan dalam pekerjaan akan memperngaruhi tekad saya untuk mempelajari keislaman akan berkurang, ternyata sebaliknnya di masa ini perasaan rindu kepada Allah dan rosul-NYA begitu menggebu-gebu.

Sampai saya teringat kembali dengan yang Istilah “Makrifat”, oleh sebab itu mulailah saya mencari-cari kembali mengenai ilmu makrifat lebih dalam. Berbeda ketika SMP yang hanya modal cerita orang tua. Sekarang saya mulai mencari-cari, meski hanya melalui internet. Bermacam-macam ajaran mengenai makrifat yang saya dapat. Hanya saja itu semua hanya gambaran mengenai ilmu makrifat itu sendiri, tidak langsung kepada titik permasalahan.

Saya ingat satu istilah yaitu “kemana kamu menghadap, yang di lihat hanyalah Allah swt” di salah satu situs yang menjelaskan mengenai orang yang telah sampai kepada maqom makrifat. Dari yang awalnya belajar dengan membaca artikel saya beralih kepada belajar via youtube.

Langsung saja,  saya belajar dari video-video syarahan wali-wali yang sudah wafat mengenai ilmu makrifat. Tapi saya rasa masih ada yang kurang. Dari situlah saya ingin sekali bertemu dengan kekasih Allah  (Waliullah) untuk belajar langsung mengenai ilmu makrifat. Akhirnya saya Meminta kepada Allah swt agar dipertemukan dengan seorang guru yang bisa mengajarkan Ilmu Makrifatullah.

Tak lama berselang Akhirnya tepat tanggal 26 Juni 2015 saya  menemukan Syarahan SEMINAR MAKRIFATULLAH DI SEMARANG di Youtube oleh ARIF BILLAH USTADZ HUSSIEN. Dari situlah awal saya belajar ilmu Makrifatullah, Inilah ilmu yang saya cari selama ini, saya mulai paham mengenai istilah “kemana kamu menghadap, yang dilihat hanyalah [wajah] Allah swt” Dari situlah saya sadar mengenai DZAT.

Air mata bercucuran, Air inguspun tak bisa di tahan. Sedar akan KEWUJUDAN Allah SWT. Yang membuat diri ini ketakutan seperti menjadi BURONAN saja. Hehe..hehe..
Terpojok di kamar, ketakutan. Mungkin ini yang dinamakan dengan “Kesedaran Yang Jati”.

Jum’at, 26 Juli 2015 (9 Ramadhan 1436 H)

Sebulan Penuh Dampak dari Pengenalan-Nya Begitu terasa terutama Sadar akan DZAT. Tepat Hari 6Jum’at, 26 Juli 2015 (9 Ramadhan 1436 H) sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup insya allah.

 

Menjelang sholat Jum’at. Diriku mulai mengangis tiada henti sejak dari perjalanan ke masjid, Sholat Tahyatul Masjid, Sampai pada saat khotbah. Perasaan Rindu kepada Allah yang tak tertahankan memaksaku Untuk Naik. Aneh mungkin awalnya karena ini pertama bagi saya. Seperti ada yang menarik dari atas tubuh ini terangkat sampai di suatu taman yang indah dengan sebuah Istana yang megah. Air mancur yang keluar dari tanah menyirami bunga-bunga yang indah bermekaran. Kemudian saya di bawa ke istana tersebut, disitu saya melihat beberapa orang yang sedang berkumpul seperti orang sedang rapat dengan meja bundar di tengahnya. Hanya saja orang tersebut yang nampak hanya cahaya putih saja. Kemudian saya dibawa ke kamar saya. Di situ saya duduk kemudian ada USTADZ HUSSIEN berdiri depan dengan orang yang hanya nampak cahaya saja serta bertambah lagi orang di sampingnya, sebelah belakangnya juga, terus begitu sampai membentuk seperti barisan akan upacara saja, tak terhitung jumlahnya terus bertambah padahal kamar saya sempit.

Kemudian ustadz memberikan sebuah kotak putih bersinar dan saya ambil, setelah saya terima langsung seketika sadar kembali di masjid semula. Heran, aneh, diri ini bertanya-tanya apa bener tadi itu ustadz ??…
Entah itu apa itu namanya saya tidak paham. Awalnya, tak hanya itu saya juga merasa sejak saat itu ada yang aneh dengan kepala saya. Kepala ini terasa ringan sekali sepeti tidak punya kepala saja hehe…. Dan Sejak saat itu juga saya merasakan keanehan-keanehan yang tak pernah di alami sebelumnya.

PERTEMUAN DENGAN ARIF BILLAH USTADZ HJ HUSSIEN bin ABDUL LATIFF

Semakain kuat Perasaan ingin jumpa dengan ustadz tak bisa tertahankan. Mulai mencari-cari informasi mengenai ustadz. Sampai saya mendapat nomer Hp Mak Tuti dan di masukkan dalam grup yamas. Tapi kala itu masih via Whatsapp tapi ustadz tidak masuk dalam group tersebut.

Sabar, Tabah menanti kabar kapan bisa bertemu ustadz. Tak lama berselang dari Group Yamas yang awalnya Whatsapp beralih ke Telegram. Dan inilah jalan awal bisa berkomunikasi dengan ustadz, meski hanya via Chat di Group Sosmed.

Mulai kenal dan akrab satu sama lain dengan anggota Yamas, meski tak pernah berjumpa sebelumnya. Semakin bercucuran air mata ini hendak bertemu ustadz yang tak kunjung tercapai. Tengah asik berbincang dengan Sahabat Yamas via telegram. Tiba-tiba ustadz mengirim chat di group, dan saya menyapa ustadz entah kenapa ustadz membalas kalau Beliau Hendak Mengangkat saya sebagai Asisten 2. Heran bercampur haru. Padahal waktu itu saya belum pernah berjumpa dengan Ustadz sama sekali. Saya pikir Ustadz salah ketik atau apa. Ternyata tidak.

Semakin besarlah keinginan untuk berjumpa dengan ustadz. Sampai Akhirnya bisa berjumpa dengan Ustadz di Seminar Makrifatullah Malang. Air Mata tak tertahankan ketika diri yang hina dina ini bisa memeluk ustadz yang diRindui selama ini.

Di situlah kedekatan saya dengan ustadz dan sahabat Yamas mulai terjalin. Semakin mantap dengan ajaranya setelah bertemu langsung dengan Sang “KALAM”.

Sungguh Suatu Anugerah yang besar Allah swt berikan kepada saya Suatu pengenalan yang selama ini saya cari. Allah SWT berikan melalui ARIFF BILLAH USTADZ HJ. HUSSIEN. Syukur Alhamdulillah saya ucapkan atas pengenalan ini, meski tergolong muda tapi ini sudah ketetapan-Nya sejak “Kun” sebelum aku diciptakan.

KESAN SETELAH MEMPELAJARI ILMU INI

Bermula dari pembukaan pintu makrifat membuat diri ini berubah drastis, mulai dari Midset, Cara Pandang, bahkan Prilaku berubah dari yang biasanya. Semakin Sadar akan KewujudanNya. Tak banyak bicara cukup lihat dan perhatikan yang terjadi di depan mata. Redha akan Ketentuan Allah SWT. Semakin sadar kalau dalam kondisi ini kita harus banyak “DIAM”.

Ketika keluarga saya tau kalau saya belajar ilmu makrifat, tolakan yang sangat keras dari keluarga saya. Karena bagi mereka ilmu ini sangat susah di dapat. Hanya orang pilihan saja yang akan dapat, apalagi diusia yang tergolong belia membuat mereka tak percaya awalnya. Sampai satu ketika ada ada seseorang yang alim tapi saya tidak kenal, dia tau keadaan saya, tanpa saya berkata apapun sebelumnya dan menceritakan semua kepada keluarga saya, mengapa saya bisa sampai dikenalkan dengan ilmu ini. Bahkan sampai saat ini saya di anggap sebagi anaknya.

Berangkat dari dukungan orang tua semakin mantap saya untuk belajar ilmu ini melalu ARIF BILLAH USTADZ HJ. HUSSIEN Bin ABDUL LATIFF, meski kebanyakan lewat internet, tidak menyurutkan Tekad untuk belajar banyak mengenai ilmu ini.

Demikianlah sedikit perjalan yang saya alami bisa menjadikan pelajaran dan motivasi bagi kita untuk lebih semangat belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mohon maaf jika ada salah kata maupun makna dalam penulisan di atas.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Testimonial dari M.M ( hamba Allah, Jakarta)

Sedari kecil, saya sering mengalami pengalaman astral (bisa jadi astral bisa jadi lucid dream). Sewaktu kecil, sering tiba-tiba ada suara-suara yang memanggil, ada lafadz Allah bersinar di depan muka, dll Dulu ketakutan banget pas kecil sampe tidur sama ortu dan nangis terus.

Kejadian aneh begitu terjadi sekitar semingguan atau dua mingguan lupa hehe. Lalu setelah itu terus deh aneh-aneh, bisa gandain uang logam (tapi cuma sekali doang waktu itu mau bantu temen, eh dicoba lg gak bisa wkwkwk), temen mau meninggal dikasih tanda-tandanya pas tidur, bisa baca orang mau ngomong apa, dll

Tapi itu gak bisa terus-terusan setiap saat, cuma sesekali aja

Dulu seneng main gitu-gituan perjalanan astral… seru aja, bisa terbang, bisa kemana-mana, bisa ngobrol sama temen-temen dari dunia lain…Rasanya sewaktu tubuh astral mau keluar tuh kayak semriwing kesetrum… Ada kadang di dada… kadang di dahi…

Sekali waktu, entah kenapa terjebak berlapis-lapis di dimensi yang entah dimana. Serasa 7 hari. Yang saya bisa cuma dzikir Allah…Allah… alhamdulillah balik.

Dari sana saya dapet pelajaran bahwa kita ini sebenarnya cuma mimpi, gak ada.

Hikmahnya, ternyata kita itu gak ada (apa-apanya), Cuma Dzatullah… la hawla wala quwwata illa billah… dan kita semua sedang mimpi, suatu saat nanti kita bangun.

Jadi semenjak itu gak ke dimensi-dimensi mana-mana lagi, saya fokus ke inget Allah aja di dimensi kita ini, dan berbuat kebaikan pada manusia karena pahala dan dosa itu itungannya di dimensi ini.

Sampai tiba masa kuliah… panggilan spiritual tiba-tiba mengusik…

Ada perasaan mau kembali padaNya. Nah masuk bab ini, semua orang pasti punya pengalaman.

Dari perasaan yg kuat itulah perjalanan spiritual dimulai. Dan hal-hal ghaib juga semakin menguat… terasa banget banyak bisikan-bisikan yang terus-terusan ngomong kebijakan, ada vision-vision yg dibukain, perjalanan astral juga makin kuat… bahkan astral sempat jadi pelarian mencari DIA karena di dimensi ini gak nemu.

Masalahnya di dimensi ini setiap saya bertanya pada orang, malah selalu dikira ketempelan jin wkwkk

Apalagi lingkungan sy basisnya kalangan yang syariat semata, kurang mengenai tasawuf. Nah gak dapet deh jawabannya…

Sampe ‘mengembara’ dan ditemukan oleh guru-guru…Takdirnya indah-indah, ada yg mursyid tarekat, ada yang guru tauhid aja dan gak bertarekat, dll

Setiap guru punya pemahaman masing-masing. Dan itu yg buat saya jadi ngeliat bahwa maksudnya sama tapi cara/jalannya beda. Nah setiap guru itu saya ambil benang merahnya.

Sampe akhirnya ketemu sama ustadz Hussein awalnya Dari Pak Deka, nge-share poster seminar Ustadz. ikutan deh alhamdulillah…

Rasanya jadi ‘simple’ dalam mengingat dan memahamiNya, lebih tenang, dan menguatkan lagi tujuan kita cuma dan hanya untuk Allah sajaa sehingga anasir-anasir dan bisikan-bisikan lain bisa lebih kita waspadai kalo udah mulai ngarahin ke selain Dia.

Jadi paham bahwa bahwa jasad ini adalah wadah makhlukNya, di dalamnya bukan cuma kita akan tetapi banyak anasir-anasir lain.

Tapi kita harus aware, diri yang bersaksi ke Dia tuh yang mana dan dari situ kita lebih bisa mengendalikan diri karena gak gampang kehasut sama lintasan pikiran dan perasaan yang kadang itu bisikan halus dari setan.

“Wah setan lagi bisikin nih, tan, inget Allah aja tan…”, eh ilang langsung tuh lintasan pikiran perasaan bisikan dan dzhon yang buruk.

Cuma memang, tarikan fisik kita di dimensi ini pasti masih keras… apalagi yg muda… karena kadar tanahnya masih kuat…

Dari yang saya pahami, orang tua biasanya akan lebih mudah memahami spiritual karena tanah tempat kembali sudah memanggil, dan entitas fisik/tanah/jasad tubuh sudah melemah… sedangkan jiwa dan ruh sudah memanggil dari ‘langit’… cuma anak muda jg bisa kok, dengan jalan syariat… kalo udah waktunya nikah-nikahlah, biar jiwanya tenang… gitu…

Akhirnya sekarang fokus gimana meningkatkan tauhid. Allah semata-mata, balikin semua ke Allah…

Mau kemanapun berada, di dimensi apapun, tetep inget Allah..

Kalau udah lupa, tauhid kita hilang, akhirnya atheis wkwkwk

Dan perjalan astral jadi pelajaran utk menambah keyakinan untuk mengenal Allah…

Dan tetep inget pesan para guru: “Jangan kagum dan berhenti pada ciptaanNya (ghaib-ghaiban, wanita cantik, uang, alam semesta, dll), tapi kagumlah pada Sang Pencipta”…

Testimonial dari H.A.A (Karyawan swasta, Jakarta)

Sebenarnya dari dulu waktu SMA saya tertarik sama ilmu tasawuf dan penyucian hati.

Mulai dari baca buku manajemen Qalbu Aa gym, terus coba-coba baca ihya ulumuddin karya imam al ghazali, dan buku-buku tasawuf indonesia.

Seiring waktu saya juga tertarik baca-baca dan nonton film dokumenter tentang LOA, teknologi Brainwave, Neuroscience, astral projection, lucid dream, konspirasi, new age movement, dll. Saya merasa ada Koneksi diantara itu semua.

Akan tetapi makin kesini saya takut terjebak akan pemahaman Ateis seperti beberapa scientist barat ataupun paham wahdatul wujud. Alhamdulillah saya lebih memilih kembali mempelajari Islam yang sesuai syariat.

Kemudian Allah membimbing saya melalui ujian/musibah, Beberap tahun lalu saya kena PHK dari tempat saya bekerja, kemudian rencana saya untuk Menikah pun Kandas, kemudian bikin usaha, dan banyak masalah dan Alhamdulillah akhirnya usahanya pun gagal juga..

Selain berusaha, Saya juga ikut pelatihan-pelatihan bisnis, motivasi, mempraktikan LOA dan afirmasi positif, dengarkan Braiwave, sedekah maksimal, riyadhoh 40 hari, dan amalan-amalan lain..

Bahkan untuk kebutuhan pribadi sendiri sering dikesampingkan.. Padahal secara syariat, sudah ikhtiar, doa, ibadah, sedekah, dll..

Saya terus menerus berpikir mencari jalan keluar dari masalah dan semua plan maupun rencana itu Alhamdulillah gagal semua.. Hehehe..

Sampai-sampai muncul banyak protes, keluhan dan pertanyaan “Kenapa” serta terus menerus mempertanyakan Janji-janji Allah..

Merasa tidak tenang, Saya terus mencari jawaban tersebut, dan kembali mempelajari buku-buku yang membahas tasawuf..

Saya mulai kembali membaca buku-buku tasawuf dari salah seorang ustadz, Mempraktikan dzikir di rumah, namun tiba-tiba tubuh bergetar, kejang-kejang, guling-guling, jungkir balik, kadang mau muntah, seperti orang yang kesurupan. Lalu browsing fenomena tsb di internet dan Allah membimbing saya ke blog pak deka..

Dan dari blog pak deka, Alhamdulillah saya dibimbing ke website yamas, dan mengikuti sarahan Arif Billah ustadz hussain di chanell farhan4u2c..

Alhamdulillah saya menemukan jawaban-jawaban itu melalui sarahan Arief billah. Semua seperti puzle yang telah tersambung..

Meluruskan pemahaman wahdatul wujud,

hati sebenarnya adalah “minda” yang sesuai pemahaman neuroscience, sarahan loh mahfuz dan higgs boson yang sesuai science terkini.

Dan sambil menjalani ujian hidup, Alhamdulillah saya dikuatkan Allah dengan cara menonton sarahan ustadz.. Seperti tempayan pecah, akhirnya keluhan dan persoalan itu hilang seketika setelah tau bahwa sejatinya diri ini tidaklah wujud.

Hidup menjadi lebih bahagia, ridho, dan ikhlas mengikuti arahan dari rencana-Nya yang sempurna.

 

Saiful Mahdi S (Aceh)

Bismillah…

Ilmu dan benda benda mistik yang sungguh sungguh kusukai kini menjadi kenangan dalam perjalanan mencari Tuhan setelah bertemu dengan Arifbillah Ustadz Hj. Hussein B Abdul Latiff.

Mulai umur 14 tahun aku sudah menguasai beberapa jurus silat andalan yang di ajarkan oleh saudara ibuku yang konon punya keahlian kanuragan yang top serta kebal terhadap benda tajam.

Memasuki sekolah menengah atas sudah mulai memperdalam ilmu ketuhanan dan ilmu mistik …tak jelas mana ketuhanan …mana mistik, walhasil nol.

Seiring berjalannya waktu, dan kondisi Aceh yang penuh dengan teror dan penembakan serta pembunuhan yang hampir tiap hari terjadi, maka aku belajar ilmu kebal di daerah Kalimantan Selatan tepatnya di suatu kabupaten dengan cara tak lazim yaitu meminum air raksa. Apakah setelah meminum kebal tidaknya belum pernah terbukti dan tak ingin dibuktikan kecuali sebagai permainan saja.

Ya kebal..tapi itu hanya permainan karena menyakini setelah minum air raksa ya kebal.

Waktupun berlalu…aku lebih suka barang barang aneh mulai dari jenis senjata mulai peningalan jaman doeloe sampai jenis batu batuan aku punya. Apalagi jika dites punya kelebihan. Sebagai contoh sebilah keris jika diletakkan pada seekor ayam dalam hitungan menit ayam tersebut mati, .dan sebilah rencong dapat mengeluarkan suara dentuman sekeluar bunyi letupan FN sebanyak 3 kali berturut turut dan masih banyak lagi.

Perjalanan mencari barang aneh aneh dan ilmu aneh juga sempat berputar putar di sekitar pulau Sumatra lebih kurang tiga tahunan.

Kemudian juga pernah berguru pada orang yang pernah dalam hutan selama 20 tahun lebih tak pernah keluar hutan yang bertemankan jin dan orang bunian. Dalam keseharian beliau shalat dan beribadah layaknya kita juga tapi punya nenek sebangsa jin dan aku pernah menyaksikan kehadiranya beberapa kali dalam bentuk, gerakan dan pembicaraan langsung.

Pernah berguru juga dengan gurunya Pak Yusdeka dulu, lebih kurang dua tahunan dan belajar dzikirnafas dengan seorang guru di Pulau Jawa.

Banyak waktu tersita dalam mencari Tuhan dan perjalanan hidupku Allah jalankan melalui bermacam pengalaman.

Detik detik perkenalan dengan Arifbillah Hj.Hussein B Abdul Latiff. Tanpa sengaja sewaktu membuka youtube blognya salah seorang guru di pulau jawa…terbuka di youtube pada syarahan mengenai dzikrullah. Dengan Bismillah aku terus mengikuti, eh…ini ilmu paling enak ya, ini yang kucari hatiku berkata demikian.

Waktu itu belum tau minda…he…he..

Alhamdulillah mulai saat itu sekitar awal 2013 mulailah belajar dengan Ustadz Hj Hussein via youtube secara diam diam.

Di kamar atas duduk sendiri berjam jam …dengan menangis. Bukan karena memikirkan dosa, tapi tak tau asal dengan sarahan via you tube tetap menangis dan tubuh bergetar.

Dari situ dapat pengalaman dapat memasuki alam-alam ketuhanan berupa “keadaan hal”. Shalat jadi nyaman dan ketagihan yang sebelumnya lepas putus sambung.

Dalam keseharian punya keinginan untuk belajar langsung dengan Arifbillah …tapi caranya bagaimana ya kan jauh di Singapore sana.

Dua kali mendaftar untuk mengikuti Seminar gagal berangkat. Selepas seminar di Jakarta, Ustadz Hj Hussein berkata jika belum ketemu belum jadi Sahabat Ustadz.

Semenjak itu aku beranikan diri untuk datang langsung ke Singapore dengan berbekal bantuan dari sahabat sahabat untuk bertemu dengan Arifbillah Hj. Hussein B Abdul Latiff dan dapat mengikuti seminar yang pertama bagi aku secara langsung di IPA.

Saat-saat bertemu sungguh berbahagia dan menangis sejadi jadinya.

Yang dulu hanya melalui youtube sekarang langsung dapat menyentuh kulit Arifbillah HjHussein B Abdul Latif yang 1,000 tahun satu, dan aku salah seorang yang telah menyentuh kulit beliau dan belajar langsung dengan beliau rasanya seperti dunia seisinya milikku itulah kebahagian yang kudapatkan.

InsyaAllah seiring perjalanan waktu …ALLAH SWT mengizinkan aku bersama sama sahabat lain untuk silaturahmi dengan Beliau dan dapat mengikuti Seminar dan Sarahan secara langsung.

Suasana persahabatan dan kasih sayang sangat sangat terasa….Al Fatihah…untuk Beliau dan Sahabat semua..Amiiin

Beliau dan Sahabat semua telah menarik diriku dari kegelapan ke alam kesucian.
Inilah sekelumit tulisan.

Terimakasih.

 

===================================================================

Klik link di bawah ini untuk “jump” kepada testimonial dari penulisnya

Testimonial dari sahabat-sahabat yang mempelajari tasawwuf dari Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff:

  1. Yusdeka Putra
  2. DT
  3. Ahmad Saifuddin
  4. Puryanto
  5. Sahry Ramadhan
  6. Much Tohar
  7. Sulistyo
  8. Winanto
  9. Ahmad Eyi
  10. Agus Tiyono
  11. Bram Octavian
  12. Andi Sulistiyo
  13. Tati Haryati
  14. Suharmono
  15. ES
  16. Taufiequrrahman
  17. Aji Jaya
  18. Zainul Al Aswadi
  19. Sri Puji Astuti
  20. Mellyana Balqis
  21. Ellsy
  22. Didik Suharyanto
  23. Mujiburrahman
  24. MM
  25. H.A.A
  26. Saiful Mahdi

27 Responses

  1. GUNAWAN says:

    Assalamualaikum

  2. irfan jati says:

    Assalamualaikum saya ucapkan banyak trimakasih pd pak DK yg saya anggap telah memberi pencerahan kpd saya.susungguhnya kurang lebih sama saya juga termasuk orang yg kesasar sasar dlm mempelajari ilmu makrifat saya dulu jg menganggab bahwa ilmu makrifat itu ilmu paling superior dgn mengikuti blog pak DK bisa mengubah paradikma saya baik secara logika maupun secara rohani semoga ajaran ini langgeng dan dpt diterima masyarakat bnyak ammin

  3. Much Tohar says:

    Alhamdulillah satu hal yang ingin saya sampaikan adalah so simple…ternyata sederhana konsep makrifatullah…tidak jlimet..tidak rumit…tidak pakai cara-cara yang aneh nyeleneh….untuk bermakrifatullah tidak perlu harus wiridan sekian ribu kali…tidak harus nyepi dalam kamar khusus…tidak perlu puasa bertahun tahun…tdk perlu dzikir sambil mengingat wajah sang guru dsb…Untuk bermakrifatullah juga tidak perlu tingkatan-tingkatan tertentu dsb.. Dulu kesana kemari mencari Allah sampai masuk terjerat pada dunia kembaran dunia guru sejati dsb….sampai begitu lama bergelut dalam suasana yang belum tentu benar….dulu ketika dzikir lalu bisa menangis rasanya sudah pol..sudah ketemu Allah…sudah kenal Allah lalu merasa diri ini sudah bermakrifatullah…Ups…masuklah ke suasana gemerlap penuh cahaya dan suara yang terkadang malah akhirnya bingung sendiri sampai kapan dan sampai dimana saya ini…lalu ketika sudah merasa bermakrifatullah akan tetapi tidak membawa perubahan yang begitu significant seperti masih gampang marah, gampang tersinggung, atau bahkan galau tingkat tinggi dsb… Lalu atas ijin Allah berproseslah secara bertahap dikenalkan konsep Makrifatullah dari Ust Hussein melalui Mas Agus dan Ustad Ali pada malam ramadhan tahun 2014. Tabir seperti tersibak dan ohhh..inilah yang kucari….kenapa begitu sederhana…semua pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran sudah selesai sudah…sudah tidak ada pertanyaan lagi dan tidak ada lagi pertanyaan tentang kenapa saya jadi seperti ini, kenapa saya sakit..kenapa usaha saya sepi dsb…sudah…Allah sudah “memutuskan” semuanya untuk saya dan keputusan Allah itu begitu indahnya…betapa sempurnya ALLAH merekayasa kehidupan ini… Ternyata semua sudah tertulis dan tidak perlu lagi bertanya kenapa demikian…..Ah…selesai sudah…..sudah cukup perjalanan sekian tahun…alhamdulillah begitu bahagia….dzikrullah ternyata sangat mudah dan bisa dilakukan dimana saja…..sambil kerja..sambil mengemudi….sambil bersenda gurau bahkan sambil negosiasi dengan pelangganpun ingatan tidak putus ke Allah…. Saya bahagia dalam lingkupan Allah melewati dzat nya yaitu para sahabat Yamas semuanya…… Alhamdulillah ya Allah….

  4. Ahmad Saifudin says:

    Secara manusiawi dan di luar “ma’rifat” orang beramai ramai mencari dan menempuh jalan spiritual banyak dipicu oleh keinginan mencapai duniawi yang lebih, antara lain: ingin karirnya melejit nanjak terus, ingin dagangan dan usahanya makin ramai dan laris, ceramahnya makin menasional.

    Jalannyapun macem macem, ada yang pintas, mau tahu jadi saja dengan mendatangi dan minta tolong kepada orang orang pinter, datang dan minta tolong didoakan kiyai kiyai ampuh nan sakti atau gus gus yang setengah wali, atau datang minta rajah rajah pegangan kepada orang orang pinter (pinter ngapoosee).

    Disamping itu banyak juga yang bergabung dengan jamaah tariqat, jamaah wirid, jamaah dzikir, jamaah shalawat yang bertujuan sama. Mereka berpikiran bahwa usahanya itu sekaligus menelesaikan urusan akhiratnya, satu upaya yang menjadikan dunia akherat tercapai, guru atau kiyainyapun sering menegaskan hal itu “sudahlah yakin saja kalau sampean sampean ngurusi Allah pasti Allah yang akan ngurusi kebutuhan sampean”……buktinyapun buanyak…..

    Kerana saya sedang belajar ilmu ma’rifat boleh dung mencoba memakai kacamata-setengah ma’rifat, dan mengatakan bahwa mereka itu Gurunya dan Murid atau jamaahnya ya sama saja, meskipun mereka terutama gurunya lebih hapal dalil dalilnya bahwa Allah tidak dapat digambarkan dibayangkan seperti apapun, namun didalam berwirid atau berdzikir atau shalat didalam angan2 bayangannya berseliweran masalah yang dapat mereka kenali mereka membiarkan saja dan tidak mempersoalkannya,. Gurunyapun malah merasa bangga ketika ada murid atau jamaahnya yang laporan bahwa ketika dia berdzikir dengan membaca amalan amalan yang telah diijazahkan kepadanya mereka melihat atau ditemui sosok gurunya……jelas jelas melenceng namun mereka tak mengerti.

    Dengan kaca mata ma’rifat saya nggak berani mengatakan apa apa kepada mereka…mendel mawon…..yu painten mlitur cendelo…cekap semanten piatur kulo.

  5. BAYU JATI says:

    Alhamdullillah setelah menyimak video yutube uatad arifin bilah cara pandang saya mengenai ilmu makrifat menjadivmantap cukuplah Allah Zad Wajibul wujud tiada keraguan lagi bagiku ammin

  6. Ahmad Saifudin says:

    Menjalani hidup sehari hari menjadi enak, senang dan tidak ada susah dan khawatir, karena semua kehendak keinginan dan perilaku kita sudah ditetapkan. Baru setelah sedikit menerapkan ilmu ma’rifat dapat merasakan bahwa setiap amal ibadah yang kita lakukan (shalat puasa dzikir dan yang menjalani pekerjaan di luar itu semua) terasa benar benar untuk Allah, milik Allah. dan oleh karenanya senang melakukannya. Melakukan semua laku ibadah dengan berusaha sebaik dan sesempurna mungkin, seolah demi untuk mencapai perkenan dan ridlaNYA…….

    Dan setelah itu terasa ingin selalu meningkatkan amaliyah ibadah, seolah belum puas dan karenanya mencari tahu bagaimana Rasulullah saw menjalani semua ibadah bagaimana rasulullah shalat, puasa, membaca al quran, bagaimana Rasulullah menjalani hidup sehari hari, bagaimana Rasulullah berhubungan dengan keluarganya, dengan sahabat sahabat beliau…..dst.

    Ada logika yang yang muncul, jika engkau ingin lebih dicintai Allah, maka tirulah perilaku kekasihNYA.

  7. YAMAS says:

    Barakallah Pak Ahmad Saifudin, semoga kita bisa mencontoh Rasulullah SAW.

  8. Bersyukur kepada Allah SWT atas segala curahan karunia termasuk Ilmu yang telah Allah fahamkan kepada kita semua selaku hambaNya. Luar biasa Ilmu Allah yang utama, manfaat dan amat langka keberadaannya. Beliau Ustadz Arif Billah Hussien bin Abdul Latiff pernah mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk Allah keberadaan orang seperti Beliau Allah hadirkan di muka bumi setiap 1000 tahun ( 1 Milenium), sebuah kewajaran bahkan wajib adanya kita bersyukur kepada Allah diberi kesempatan untuk menimba Ilmu Allah melalui peranan DzatNya pada diri Beliau.

  9. Ahmad Saifudin says:

    Melalui keterangan ust Hj. Hussien (rahimahullah) bahwa kehidupan lengkap dengan pernak pernik tingkah laku diri seiap orang dan lakonan apa saja yang besertanya adalah ANIMASI belaka.

    Tidak diperlukan apa apa untuk membuat sebuah cerita drama lakon animasi, terkait dengan apa dan siapa yang berperan di dalam sebuah kisah atau film animasi, hanya “Program” Komputer yang disusun oleh seorang programmer.

    Program komputer adalah bahasa yang menginstruksikan komputer untuk melakukan aktivitasnya. aktivitas dasar komputer adalah ON dan OFF saja, sedangkan bahasa untuk aktivitas dasarnya adalah bahasa dua nilai atau binary. Serumit apapun program ia hanyalah string atau deretan nilai 0 dan 1, seperti 0100111000110000 dst. jadi misalnya gambar orang sedang mlakukan apa saja, dengan suasana apa saja, dengan siapa saja, dia merasa apa saja…..adalah sederetan 001110001010101010100001100010001 dst. komuter sendiri juga sesungguhnya tidak mengerti apa apa, dia hanya melakukan ribuan jutaan switching atas informasi 0101 trsebut.

    Dari penjelasan singkat di atas dapat dipahami bahwa:
    Programmer hanyalah bermain main membuat sebuah program, dan dia tidaklah dzalim atas apa saja yang telah ia ciptakan, meskipun ada sebagian atau seluruh peran dalam cerita animasi itu yang dirugikan, dimatikan, disenagkan…..

    apa saja yang sudah ditetapkan oleh programmer tidaklah dapat dirubah rubah, atau si pembawa peran tidaklah dapat merubah rubah perannya.

    tidak ada kata kata, gerakan, rasa, suasana, dan apapun yang terjadi yang dialami dari awal sampai akhir peran yang “keluar” dari program yang telah ditetapkan atau yang ditulis oleh programmer.

    dan sesungguhnya yang berperan didalam film animasi tersebut hanyalah karakter (karakter adalah informasi 8 bit, contoh: 0000 0011). yang masuk ke dalam komputer adalah informasi 0 dan 1, demikian juga yang keluar.

    dan sesungguhnya tidaklah ada apa apa kecuali programmer sahaja.

  10. Assalamualaikum… saya warga Malaysia..melahirkan rasa syukur kepada Allah kerana dengan taufik dan hidayahnya menjumpai sesuatu yang saya cari. Ianya bermula akhir tahun 2014 setelah menyedari usia saya akan mencecah 40 tahun pada 2015. Saya seorang yang kurang memahami agama yang sebenarnya. mula diketuk hati oleh Allah, saya mulai ingat kepada kematian, mulai membaca sirah-sirah Rasulullah dan para sahabat. Anugerah tak ternilai saya diberi mulai mencintai solat malam. Dalam kesunyian mengadap Allah, saya memohon keampunan dan petunjuk jalan yang benar. Alhamdulillah dilhamkan “Luh Mahfuz” lalu saya mulai mencari di youtube, video hj hussein terus keluar dan saya tonton dan hati terus terasa menjumpai yang saya inginkan. masih belum memahami dengan jelas lagi kemudian awal tahun 2015 seleps subuh saya sekali lagi menonton, pagi itu sangat berbeza sekali seolah pintu hati saya terbuaka seluas luasnya memahami dengan yakin segala yang hj hussein sampaikan. Alhamdulillah…kehidupan saya mulai berubah. Lintasan ‘ingat Allah’ bila melihat sesuatu ciptaan Allah…sehinggakan saya rasa bateri blackberry saya pun drp kuasa dzat yang maha indah. Ibadah saya mulai berubah, mencintai solat jemaah, solat sunat malah puasa sunat. Anugerah Allah yang sangat benilai sekali. Siri ceramah hj hussein begitu mudah difahami dengan paparan grafik. sesuai dengan zaman teknologi sekarang. Alhamdulillah…semoga Yayasan ini menjadi titik tolak kepada usaha mengenal dan memahami ilmu marifat yang sebenar jalan para nabi-nabi. semoga Allah merahamti kalian semua. Terima Kasih..( saya juga peminat hasil tulisan pak yusdeka.. 🙂 )

  11. Ahmad Saifudin says:

    sesungguhnya saya sendiri bingung tidak tahu kenapa;
    sejak 1994 sampai 2010 (16 tahun) belajar ilmu tariqat, setiap malam minggu, jam 3 sore sudah berangkat naik bis dari malang ke Kandangan (daerah Kediri) untuk mengikuti pengajian tariqat, mengikuti dzikir….setelah itu baru jam 11 malam pulang ke malang,

    setiap hari WAJIB dzikir di kamar khusus sampai basah kuyub, di kantorpun pada waktu senggang saya sempatkan mempelajari kitab kitab yang memang khusus bagi jamaah tariqat (antara lain : kitab: sirajul ma’arif, bahrul lahut, adam ma’na dll).

    Selama itu juga saya ikuti 3 tariqat yang lain, yang memang dzikirnya sedikit berbeda, dan saya hanya perlu mengatur waktu untuk mengamalkan 4 tareqat itu terutama dzikirnya yang rata rata ribuan kali.

    Tak puas dengan 4 tariqat pertengahan 2010 saya mulai mengikuti aliran lain yang sebenarnya nggak jelas baik ajaran maupun gurunya, dan ternyata ada beberapa teman saya yang juga melakukan hal yang sama dengan saya…….banyak temannya juga…

    akhir 2010 adalah saat yang boleh dikatakan saya sedang “patah hati” dengan pencarian,……dan tetapi disaat itulah saya diam diam mempraktekkan apa yang dilatihkan dalam sebuah buku yang yang saya peroleh dari men down load…….saya terkejut terheran heran dengan hasil yang saya praktekkan dari buku tersebut. Pagi harinya secara kebetulan saya dan 3 orang yang lain termasuk anak buah saya sedang sembunyi di suatu ruangan karena terlambat apel pagi, dan dari ngobrol ngobrol itu ternyata anak buah saya itu pernah mengikuti pelatihan, dan tak lama setelah itu dia memberikan sekeping CD.

    Saya sudah tak sabar untuk menyimak “apa isi CD itu”, berjam jam saya simak dikantor walaupun harus saya lanjutkan sampai habis di rumah…..selama menyimak isi CD saya tak henti hentinya menangis…..malam harinya langsung saya praktekkan sendiri….dan aneh ketika itu saya seperti dibimbing langsung dgn gurunya…..Dan pantas saja saya tak sabar menunggu untuk bertemu langsung dengan gurunya dan mengikuti pelatihannya langsung oleh gurunya.

    Hati saya menjadi lega tak terkira, sering shalat bisa bergetar getar menagis terharu….dan setiap hari hati ini dipenuhi rasa rindu…rindu Allah,

    Enam bulan setelah itu anak buah saya tersebut membawa satu kitab berbahasa arab…..saya lihat sepintas…..ternyata kitab itu kembali membuat saya gemetar dan menangis…..isinya sebagian besar membenarkan keadaan diri saya terutama saat shalat…, dan tergeraklah saya untuk menerjemahkannya…karena ternyata teman teman saya banyak yang membutuhkannya. Dan pada Februari 2012 kitab itu selesai saya terjemahkan.

    satu tahun dua tahun tiga tahun….memang yang saya rasakan adalah hidup semakin mantab…hidup smakin ringan tiada khawatir, ada masalah langsung ada solusi, ada keinginan langsung atau tak lama terpenuhi…

    Shalat….hampir setiap melakukan shalat terharu gemetar dan menangis….menangis karena hina dina, bodoh bintolol, telah bersalah besar kepada Allah…..namun juga rindu…rindu menguasai pikiran dan anganku…..sering baru mengambil air wudlu sudah gemetaran dan menangis, sering mendengar alquran dibaca juga menangis, sering menangis ketika mendengar khutbah jumat, sering menangis ketika ada orang seolah meberi nasehat kepada saya…….bahkan di APEL PAGI (tentara) juga sering menangis bercucuran air mata, hati saya menjadi lunak lemah lembut….dan gampang sekali menangis…..

    Tetapi keadaan saya seperti itu ternyata tidak banyak di alami teman tman saya, bahkan saya pernah berkata kepada anak buah saya itu….”saya kok melihat …ratusan bahkan ribuan teman teman kita yang menempuh jalan ini…namun saya lihat hanya ada beberapa saja yang selalu connecting dengan Allah”….

    Dan ternyata juga ketika berkumpul berlatih bersama praktek bersama dengan guru banyak teman teman yang “dapat” (connecting dgn Allah), tetapi belum sehari pulang di rumah banyak yang mengaku tak bisa lagi connecting…, kejadian seperti ini selalu terjadi….berulang kali.

    saya terus terang saja dengan bermodalkan sebuah nyanyian yang potongannya adalah ” Hijab tertinggi terbesar adalah menyandingkan wujud diri ini dengan wujudNYA”, dan ketika diam berdzikir saya sudah berusaha “tidak memepersepsikan Allah dengan apapun”….insaAllah .itu kiranya yang membuat saya berbeda dengan teman teman yang lain…..

    Tak sengaja awal 2014 di U-TUBE ada sarahan ma’rifat…..yang membenarkan apa yang sudah saya yakini dan praktekkan. Disamping itu yang tidak kalah penting yang diuraikan dalam sarahan itu adalah tentang dzikir dan hati. Hati bukan hati yang kita kenali dan yakini sebelumnya yang sulit dicari kaitannya dengan “aqal”, seperti aqil balligh, pasti berhubung kait dengan otak pikiran, bukan dengan “hati” yang bertugas membersihkan darah, atau jantung yang bertugas memompa darah.

    Demikian juga dzikir, saya merasa (setelah menyimak sarahan ma’rifat oleh Ust Hj Hussein Bin Abdul Latief, …ya…. ini yang pasti benar……masak dzikir mengingat Allah masih seliweran makhluk atau benda benda lain, harusnya “kosong”, tidak melihat, membayangkan apa apa ketika berdzikir, karena Allah itu laisa kamitslihi syaiun…..masak yang begini kurang terang, kurang jelas…..malah ditabrak tabrak….selama dzikir ketemu ini…ketemu itu….itu salah bukan?????

    Alhamdulillah…..baru pada Maret 2015 kemarin saya mengikuti seminarnya langsung di Kaliurang Yogyakarta.

    secara pribadi saya merasakan bahwa yang saya jalani sebelumnya telah dikoreksi dan dibetulkan, disempurnakan oleh ilmu ma’rifat yang sedang saya pelajari, sehingga kini insaAllah mantablah “beragama saya” insaAllah saya semakin eager untuk beribadah, insaAllah disamping shalat, shalat shalat sunnah, juga berani 4 hari puasa didalam setiap minggu.

    Untuk itu teman teman bukalah diri, berpikirlah layaknya orang orang di dunia sain, orang orang berakal normal, bukankah “addiinu huwal aqlu”, agama itu sendiri adalah AQAL, makanya agama hanya bagi orang orang yang berakal sehat sempurna, waras.
    Dan ketahuilah bahwa Berma’rifat itu !00% logic. 100% masuk akal……..ikutilah SEMINAR MA’RIFAT di JAKARTA tgl 31 Okt 2015.

  12. Yunar Rachman says:

    Saya menyikapi pisitif dan smg bermanfaat bg banyak orang. Syukron

  13. Ahmad Saifudin says:

    seluruh ciptaan, seluruh makhluk dicipta dari dzatNya. Penciptaan makhluk tentunya tidak hanya berhenti hanya sampai pada keberadaannya saja, tetapi lengkap dengan peran setiap makhluk ciptaan itu.

    DzatNya yang digunakan untuk menciptakan seluruh makhluk ciptaan hanyalah sebesar ibarat sebutir pasir di padang pasir, sangat kecil sehingga tak berarti apa apa dibanding keseluruhan dzatNya.

    posisi setiap makhluk ciptaan kiranya tidak jauh berbeda dengan posisi dzat yang menjadi bahan keseluruhan makhluk ciptaan dibandingkan dengan keseluruhan dzatNYA.

    Tidak jauh jauh….seberapa besarkah keberadaan diri kita kalau kita dapat memandang bumi yang memuat kita itu, sungguh sangat kecil tiada berarti dibanding besarnya bumi.

    salah satu yang berasal dari bumi adalah kita manusia; minyak wangi….berasal dari tumbuhan yang berasal dari bumi; bahan makanan berasal dari bumi; bahan bangunan, kayu, besi, batu pasir, kapur semen kaca, cat berasal dari bumi; mobil mewah…keseluruhan bahan bahannya dari bumi, bintang film cantik kulitnya putih halus seperti tak pernah tersentuh debu dan ikan asin dan sayur blendrangpun….berasal dari bumi juga…..

    Dari uraian diatas kita akan mudah setuju bahwa yang berasal dari bumi akan lebur kembali ke asalnya menjadi bumi.

    semua yang dicipta, dicipta untuk membawakan peran, tidak dicipta dengan sia sia tetapi dengan maksud tertentu, berkait erat dengan lakon atau peran setiap makhluk ciptaan yang lainnya.

    bayi yang baru lahir, yang sesungguhnya dia sudah membawakan perannya sejak sperma bapak ibunya bertemu, apakah bayi itu sendiri mengerti untuk apa dia dilahirkan?apakah dia mengerti dilahirkan sebagai laki laki, perempuan, atau banci??, apakah dia mengerti dilahirkan bisu, buta, normal, cacat,

    pada setiap penciptaan, makhluk “tidak akan pernah dapat mengerti” arah tujuan, dan seberapa besar atau kecil, seberapa penting atau remeh peran kita, atau bahkan sebagai “pengganggu”, pelacur, maling, koruptor, dll. Juga tidak akan dapat pernah memilih menjadi Kristen, menjadi Budha, menjadi Kong Ho Tju, tak akan pernah dapat meminta menjadi orang Inggris, Amerika, Cina, dll.

    setiap kelahiran makhluk tidak akan pernah dapat dimengerti, dilihat apalagi ditetapkan seperti apa perannya, setiap makhluk tercipta memang hanya menuruti mengikuti apa saja kehendak dan keinginanNYA belaka. tidak ada pilihan kecuali yang telah ditetapkan kepada mereka, tidak ada yang berubah kecuali yang DIA inginkan untuk berubah…..

    Kalau engkau hanyalah sel telur yang dibuahi, apakah engkau sudah bisa melihat cikal bakal otakmu?….dan engkau sendiri yang menumbuh kembangkan otakmu, melatihnya sehingga engkau mengaku mempunyai pemikiran yang sangat cerdas cemerlang itu???

    bisakah kita berfikir, bisakah kita menetapkan.
    Dengan apa dan punya siapa kita mengaku dapat berfikir, mengaku dapat menertapkan, mengaku dapat “merubah yang telah ditetapkan untuk kita?”

    Semua kita ibarat papan catur,,,,ada peran kuda, peran raja, peran gajah, peran ular, benteng, raja, dan pembantu raja….mereka meskipun punya jalan atau karakter gerak karakter kerja sendiri sendiri….mereka anak anak catur tidaklah dapat menentukan elompok mana yang menang atau yang kalah, bahkan jalan bekerjanya setiap anak catur hanyalah “bergantung sepenuhnya” kepada dan oleh pemain catur, pemain catur itulah yang menentukan setiap anak catur berperan sampai selesai, atau ditengah jalan berperannya sudah harus mati.

    Kalau tiba tiba pemain catur itu jengkel dan melempar menginjak injak semua anak jatur, membakar semuanya, apakah pemain catur itu telah berbuat bodoh jahil, tidak adil kepada anak anak catur itu???, kalau ada satu kuda dikorbankan untuk berperan dan dimatikan …apakah pemain caturnya dzalim dan telah berbuat tidak adil kepada anak catur kuda itu???

    yah tidak ada gunanya …belajar ma’rifat tidak sampai kepada sikap dan perilaku ridla ikhlas menjalani semua lakon yang telah diinginkanNYA kepada kita untuk memerankannya; apalagi bagi yang tidak mau tahu ilmu ma’rifat ini, yah….lanjutkan saja mengeluh mengumpat mencaci dan protes tidak terimanya atas kehidupan yang anda lakoni. lanjutkan saja memegangi kesadaran bahwa hidupmu, nasib dan kualitas hidupmu adalah pilihan dan murni karena uasaha kerasmu, karena kecemerlangan berpikirmu, …..bermesralah dengan kesombongan dan keangkuhanmu….summun bukmun ‘umyun fahum laa yubshiruun…..naudzubillahi min dzzalik.

  14. Iwan Herawan says:

    Alhamdulillah…terimakasih pak DK, terimakasih Ust.AB Husein atas syarahan2nya yg. telah membukakan pintu Makrifatullah dg mudah dan gamblang pada diri saya. Semoga Allah SWT, selalu melindungi beliau2 dlm menjalani tugas2 ini. Amin yra….

  15. Muhammad Habibie Afghani says:

    Assalamualaikum,…
    Alhamdulillah,… terimakasih semuanya, terimakasih sahabat, makasih Ust.Husein atas syarahan dan pengajarannya, meskipun saya cuma mengikuti dari youtube. Di umur 22 th ini akhirnya di beri hantaman kuat hidayah allah, di tunjukkan kebenaran yg jati, untuk menjawab semua perkara, melelehkan qalbu sampai lebur dan menjawab kerinduan yang dalam ini. sungguh cuma bisa menangis,… tiga, empat tahun toriqoh tak kunjung juga menemukan yg di cari, akhirnya alhamdulillah sekarang terjawab sudah. :’)

    • YAMAS says:

      Alhamdulillah…. dalam waktu dekat akan ada seminar di Padang Panjang, Pak. Kalau berkesempatan sila datang. Nanti akan kita umumkan di web

  16. Muhammad Habibie Afghani says:

    alhamdulillah,… insyaallah datang,… terimakasih infonya mas…

  17. Awangku Azizi says:

    Minta alamatnya email ustaz hj. Hussein abd. Latif dan alamat email muridnya untuk kenalan dan mengajukan soalan.

  18. rady bangkalan madura says:

    trimz taz pencerahannya,pak ustad smua dh tertulis,aminnnn

  19. rady bangkalan madura says:

    Subhanallah.trims taz sgalax baiek pak ustad atopun saudara2 yg seiman n seperjalan.trutama buat om sy.om darsono.yg tlah mengajak sy bertemu dngan pk ustad dsaat sy down n jatuh paling bawah seakan tk mampu lg untu bangkit.trnyata stlah dpt pncerahan dlm pengajian ni sy bda bangkit.trnyata smua dh trtulis di lauh mahfuds.trims all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *