Kado Terindah Dari Seorang Arif Billah Untuk Para Sahabatnya (by: Yusdeka Putra)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

by: Yusdeka Putra

Ustadz, Syarahan IQRA

Ustadz, Syarahan IQRA

Seminar Makrifatullah yang pertama kali telah selesai diadakan di Hotel Take’s Mansion pada tanggal 30 Oktober 2015 sampai dengan 1 November 2015, Jakarta. Karena pesertanya memang dibatasi (kapasitas ruang seminar terbatas), peserta yang bisa hadir adalah sekitar 200 orang dari tiga negara, Indonesia, Singapore, dan Malaysia. Dari Indonesia, perserta berasal dari 6 propinsi di tanah Jawa, dan dari beberapa propinsi lagi dari pulau Sumatra dan Kalimantan.

Acara hari pertama adalah peresmian Yayasan Makrifat Sedunia (YAMAS) Indonesia, diikuti dengan launching Nazam Makrifatullah ke-3, dan penjualan perdana Dua buah buku karangan Ustadz H. Hussien Bin Abdul Latiff, dan beberapa tanya jawab yang langsung dijawab oleh Ustadz Hussien sendiri.

Hari kedua dilanjutkan dengan seminar dengan materi syarahan: Makrifatullah dan pembukaan pintu Makrifatullah, Hati dan Mata Hati, Dzikrullah, Arah tujuan Umat, dan Keredhaan. Materi-materi syarahan ini sebenarnya, bagi yang sudah familiar dengan youtube farhan4u2c, sudah seringkali diulang-ulang. Akan tetapi tetap saja dalam syarahan kemaren itu saya mendapatkan banyak pemahaman baru yang sebelumnya saya belum diberikan pengertian oleh Allah.

Misalnya, DOA ternyata lebih tinggi tingkatannya dari pada SHALAT. Selama ini saya menganggap Shalatlah yang lebih tinggi tingkatannya dari ibadah apapun juga, sehingga shalat itu saya anggap sebagai dzikir yang paling akbar (waladzikrullahi akbar).

Kenapa Doa dikatakan lebih tinggi tingkatannya daripada shalat adalah karena menghadap Allah di dalam shalat itu sudah ditentukan waktu-waktunya. Shalat lima waktu sudah tertentu waktunya, beberapa shalat sunnah sudah ditentukan pula waktunya. Tidak boleh shalat dzuhur dikerjakan pada waktu maghrib. Tidak boleh shalat tahajud dilakukan pada siang hari, dan sebagainya. Jadi boleh dikatakan shalat itu adalah waktu-waktu official atau resmi bagi kita untuk bisa menghadap kepada Allah. Diluar waktu-waktu resmi (shalat) itu kita tidak bisa lagi menghadap kepada Allah dengan tata cara shalat.

Akan tetapi, Doa bisa kita lakukan SETIAP SAAT. Bahkan di dalam shalatpun kita sebenarnya sedang berdoa juga kepada Allah dengan do’a-do’a yang formal berupa bacaan-bacaan shalat. Dengan do’a, kapanpun kita punya masalah, kita bisa langsung berdoa kepada Allah, kita bisa langsung rujuk kepada Allah, kita langsung bisa kembali kepada Allah membawa segala permasalahan kita itu. Kita minta petunjuk dari Allah tentang cara-cara untuk menyelesaikan permasalahan kita.

Kita menghubungi Allah ketika kita berdo’a itu tidak perlu waktu-waktu yang khusus. Ini tak ubahnya seperti orang terdekat seorang Presiden yang BISA menghubungi Presiden kapanpun juga waktunya. Orang ini tidak ada waktu-waktu formal untuk bisa menghadap Presiden. Setiap waktu, bahkan tengah malampun dia bisa menghadap kepada Presiden. Karena orang ini sudah menjadi orang-orangnya Presiden. Ini berbeda dengan orang yang bukan orangnya Presiden. Ia akan butuh waktu tertentu saja untuk bisa menghadap kepada Presiden untuk menyampaikan segala permasalahannya.
Kalau saya selama ini, walaupun ada hadist Nabi SAW yang menyatakan bahwa ada waktu-waktu yang mustajab untuk pengkabulan Do’a kita. Akan tetapi kelakuan saya ketika berdo’a di waktu-waktu mustajab itu malah seperti ingin memaksa Allah untuk mengabulkan do’a-doa saya itu. Ternyata maksud dari waktu-waktu mustajab itu adalah waktu-waktu dimana kita bisa lebih tadarruk, bisa lebih merasakan kedekatan dengan Allah saat kita berdo’a itu. Kalau kita semakin tunduk, tadarruk, dan dekat dengan Allah, maka tentu saja Allah akan sangat memperhatikan apa-apa yang kita minta di dalam Do’a itu.

Akan tetapi, karena Ustadz Hussien juga sudah merubah paradigma berpikir kami, bahwa sejak Firman KUN, semua masalah sudah ditetapkan oleh Allah untuk terzhahir pada waktunya. Kita berdo’a atau tidak berdo’a ketika kita ditimpa oleh masalah itu juga sudah ditetapkan oleh Allah. Dan hasil dari do’a kita itupun sudah ditetapkan pula oleh Allah kapan akan terijabah atau tidak terijabah sama sekali.

Misalnya…, pada suatu waktu terjadi kemarau panjang. Banyak hutan yang terbakar yang menimbulkan bencana asap bagi penduduk suatu tempat. Karena sudah tidak tahan dengan siksaan asap itu, maka masyarakat melakukan shalat ISTISQA untuk minta kepada Allah agar menurunkan HUJAN. Lalu tidak berapa lama kemudian, bisa langsung setelah shalat istisqa itu dilaksankan atau bisa pula beberapa saat sesudahnya, hujanpun turun dengan DERASNYA.

Nah…, selama ini banyak kita yang berkata begini: “setelah kemarau panjang, lalu kami shalat istisqa bersama-sama dilapangan, lalu Allah mengabulkan do’a-do’a kami dalam shalat istisqa itu dengan segera menurunkan hujan. Alhamdulillah…”, kata kita dengan sumringah dan berbinar-binar. Seakan-akan kita telah berjasa menurunkan hujan itu dengan shalat Istisqa yang kita lakukan itu. Kita seolah-olah berkata: “kalaulah kami tidak shalat istisqa tadi, mungkin hujan ini tidak akan turun”. Seringkali kita berkata seperti itu. Seakan-akan do’a-do’a kitalah yang merubah keadaan yang kita alami. Masalah kita selesai karena do’a kita. Kita bisa sehat kembali dari sakit, itu adalah karena do’a kita dikabulkan oleh Allah. Seakan-akan itu adalah hasil dari USAHA yang kita lakukan. Saat itu seperti ada bibit kesombongan yang muncul di dalam hati kita, seakan-akan kita hebat, do’a kita dikabulkan oleh Allah.

Akan tetap dalam pandangan kacamata makrifatullah, yang diajarkan oleh Ustadz Hussien, jauh sangat berbeda. Permasalahan kita, misalnya kebakaran hutan dan bencana asap, do’a dalam shalat istisqa, dan solusinya berupa hujan yang turun setelah kita shalat istisqa itu, semua itu sudah ditetapkan oleh Allah untuk terjadi pada waktunya sejak Firman KUN.

Jadi kebakaran itu harus terjadi, (tentu saja dengan berbagai penyebabnya pula), shalat istisqa yang kita lakukan itu harus terjadi, dan hujan yang turun itupun juga harus terjadi pada waktunya. Sebab ia telah ditetapkan sejak Firman KUN untuk terzhahir pada waktunya. Kalau kita sudah ditetapkan pula untuk melakukan shalat istisqa itu, pastilah kita akan melakukannya. Kalau kita telah ditetapkan untuk tidak melakukannya, maka pasti kita juga tidak akan melakukannya. Kita hanya KENA melakukan saja apa-apa yang telah ditetapkan Allah untuk kita perbuat. Dengan begitu maka ucapan Alhamdulillah kita saat hujan turun itu benar-benar hanyalah bentuk RASA SYUKUR kita saja atas KEMAHAKUASAAN ALLAH, atas KEMAHAKASIH-SAYANGAN ALLAH kepada kita. Tidak ada sedikitpun rasa sombong kita mencuat saat itu…

Pada hari ketiga, kado yang teramat Indah yang diberikan oleh Ustadz Hussien kepada kami adalah bahwa. Beliau mengangkat kami sebagai SAHABAT Beliau. Sahabat dari seorang Arif Billah. Seperti Rasulullah bersahabat dengan Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Usman Bin Affan rs, Ali Bin Abi Thalib ra, dan sahabat-sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah SAW.

Sahabat yang akan saling sayang menyayangi dunia dan akhirat. Sahabat yang akan saling rindu merindukan dan saling do’a mendo’akan setiap saat. Sahabat dimana Beliau meninggalkan Ilmu-ilmu yang telah diihamkan oleh Allah kepada Beliau kepada kami para peserta saat itu. “Ilmu ini turun pertama kali di Malaysia, di syarahkan di Singapore, dan disimpan di Indonesia untuk disebarluaskan”, kata Beliau. Ini yang mendesak air mata untuk melelah dan bercucuran tak tertahankan. GEMBENG amat…

Kado terindah lainnya yang diberikan oleh Ustadz Hussien kepada kami adalah dengan menyederhanakan kembali istilah MIKRAJ atau IRJI’I yang selama ini sudah terkontaminasi dengan pemahaman MOKSA dalam Agama Hindu, atau Out of Body Experience (OOBE) dalam istilah sekarangnya.

Dulu saya memaknai mikraj (Irji’i) itu adalah Out of Bidy Experience, atau yang biasa juga disebut dengan MATI SEBELUM MATI. Yaitu proses memperjalankan Jiwa mendekat dan mendekat kepada Allah meninggal ketubuhan. Makanya kalau pengertiannya seperti itu, mikraj itu menjadi sngat sulit hampir bagi semua orang. Sebab dikatakan di dalam hadist shalat itu adalah Mikrajul Mukminin (mikrajnya orang mukminin), lalu mikraj yang dimaksud itu bagaimana?. Mikraj seperti Ali bin Abi Thalib mau di cabut panah yang sedang tertancap di kaki Beliau juga bagaimana?.

Oleh sebab itu dulu itu, saya lebih sibuk memikirkan mikraj atau perjalanan jiwa yang harus saya lakukan di dalam shalat dibandingkan dengan Ingat Allah nya. Saya jadi lebih sibuk memikirkan Ilham yang akan turun dibandingkan dengan mengingat Allah nya.

Akan tetapi Ustadz Hussien telah menjelaskan makna Mikraj ini menjadi begitu sederhana, sehingga Irji’i itu malah bisa dilakukan oleh semua orang. Tapi syaratnya memang hanya satu, yaitu dia beriman dulu kepada Allah.

Sebab Irji’i itu maksudnya adalah:

Bagaimana agar di dalam shalat itu saya bisa hanya ingat kepada Allah saja, berpaut dengan Allah, bergantung dengan Allah. Selama shalat itu saya sudah tidak ingat lagi kepada sesuatu apapun kecuali hanya ingat kepada Allah.

Bagaimana agar ketika saya bermasalah, saya mau rujuk kembali ingat kepada Allah.

Bagaimana agar kapanpun juga saya bisa kembali kepada Allah dengan mengingat-Nya, baik saat berdiri, duduk, berbaring. Inilah makna Irji’i yang lebih membumi. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengimani Allah saja.

Dan untuk Irji’i itu, saya hanya butuh mempertahankan ingatan saya saja kepada Allah. Sebuah aktifitas yang bisa dilakukan oleh semua orang termasuk anak kecil sekalipun.

Tapi untuk bisa mengingat Allah, ternyata saya harus mengenal Allah terlebih dahulu, lalu saya beriman kepada-Nya. Makanya makrifatullah itu disebut juga sebagai fondasi dari semua ibadah yang akan kita lakukan.

Jadi mikraj atau Irji’i itu sangat jauh berbeda dengan wisata jiwa, atau wisata ruh, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah bisa OOBE, keluar Ruh dari tubuh. Sebab OOBE itu ternyata bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak beragama, orang hindu, orang budha, orang yang sedang bermeditasi dengan berbagai cara dan teknik. Mereka jauh lebih hebat dalam melakukan OOBE ini.

Dan untuk OOBE yang seperti ini ternyata caranya mudah, Tidak ada pikiran, seperti mau tidur, tapi usahakan tidak tidur, dan tubuh rileks serileks-rileksi, dan insyaallah go… Dan ini hanya ternyata untuk main-mainan saja, bukan sebagai tujuan…

Hanya saja untuk membuat kita TIDAK BERPIKIR ini, cara yang sangat banyak dipakai orang adalah dengan nutup howo songo, dengan mengarahkan pandangan mata hati ke dalam dada. Atau mengarahkan pandangan mata lahirian atau mata hati keatas, kearah langit atau suatu tempat di cakrawala. Atau memikirkan atau mengingat ingat kekosongan. Untuk biar keren biasanya umat islam yang melakukannya akan menambahinya dengan untaian TASBIH ditangan dan mulut komat kamit membaca wiridan tertentu. Atau membaca wiridan itu seirama dengan detak jantung.

Karena diawali dengan kekosongan seperti itu, biasanya akan selalu muncul dampingan. Yaitu Qarin, atau jin yang lain. Dan kalau kita terus seperti ini, insyaallah cepat atau lambat, kita akan segera menjadi dukun atau orang pintar yang seakan-akan tahu hal-hal yang ghaib.

Akan tetapi kalau kosongnya pikiran kita dari ingatan kepada berbagai atribut keduniaan itu hnaya karena kita saat itu sedang INGAT kepada Allah, kita sedang Irji’i, maka pastilah Allah akan membalasnya dengan ingatan-Nya (adzkurkum). Itu pasti.

Dan balasan Allah itu jauh sekali bedanya dengan getaran yang terasa di dada seperti yang saya rasakan sebelum-sebelumnya. Balasan Allah itu nggak sampai membuat saya melenguh-lenguh, tidak perlu perlu membuat saya mengerang-erang, tidak perlu membuat saya teriak-teriak, apalagi sampai saya tersungkur-sungkur atau berguling guling. Tidak perlu juga saya merasa-rasa ruh saya ditarik-tarik keluar tubuh saya, seperti naik keatas begitu melalui kerongkongan. Nggak perlu begitu.

Balasan adzkurkum dari Allah itu, tentu saja ada. Dan itu sifatnya sangat pribadi sekali…

Demikian sekilas pandang tentang kado istimewa ini…
Salam….

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

1 Response

  1. Sulwanri says:

    Terima kasih kado terindahnya pak Deka.Isinya bagaikan meminum air yg sangat menyejukkan dan melegakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *