PAHAM DZATIYAH (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Ada sebuah alternatif paham lain untuk memahami HAKIKAT seluruh ciptaan ini yang akan membawa kita dengan mudah BERMAKRIFAT kepada Allah, MAKRIFATULLAH. Yaitu paham Dzatiyah atau Lauhul Mahfuz dengan manafakuri perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi. Bahwa Beliau diperjalankan menembus 7 lapis langit bertemu dengan Nabi-nabi terdahulu. Kemudian Beliau naik ke Sidratul Muntaha. Lalu Naik ke Arasy yang berada diatas Air, dimana Malaikat Jibril sudah tidak mampu lagi untuk masuk kedalamnya. Lalu diakhir Arasy itu, dibalik 70 Tabir Nur-Nya, Rasulullah berbicara langsung dengan Allah. Beliau berbicara dengan Allah dibalik TABIR…

Dan dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj inilah kita nantinya akan keluar dengan sebuah pandangan tersendiri tentang HAKEKAT dari SEMUA Ciptaan ini:

Bahwa SELURUH Ciptaan ini HAKEKATNYA adalah berasal dari SEDIKIT dari Dzat Allah yang terzahir menjadi SELURUH Ciptaan. Ya…, hanya sedikit, hanya seukuran setetes atau setitik air ditengah samudera raya, hanya seukuran sebutir pasir ditengah-tengah padang pasir yang sangat luas, sajalah dari Dzat Allah yang Maha Besar, yang terdzahir menjadi SELURUH Ciptaan.. Ya…, hanya SEDIKIT Dzat Allah yang terdzahir menjadi SELURUH Ciptaan.

Pada awalnya hanya Dzat Allah saja Yang Wujud. Dzat Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Indah. Dialah Dzat Yang Awal yang tiada Awal. Yang lain selain Dzat-Nya tidaklah wujud. Saat itu KETIADAAN pun tidak wujud. Kalau kita mengatakan saat itu sudah ada KETIADAAN, maka seketika itu juga kita sudah tidak bertauhid lagi. Sebab disamping WUJUD Dzat-Nya ada pula WUJUD Ketiadaan. Tidak begitu. Tauhid mensyaratkan Yang Wujud saat itu hanyalah Sang Wajibul Wujud, yaitu Dzat Yang Maha Indah, yang menyebut Diri-Nya Sendiri dengan sebutan Allah.

Dia ingin dikenal dan disembah, maka Dia Ciptakan sebuah Skenario SANDIWARA Kolosal yang sangat indah dan maha hebat, yang peran dari masing-masing aktor atau pelakonnya sudah ditentukan sejak dari awal. Nanti akan ada yang berperan sebagai Malaikat, Iblis, Manusia, Jin, berikut dengan segala Sifat-sifatnya masing-masing. Siapa yang akan berperan sebagai aktor utama, peran pembantu, teknisi, pengatur laku, pengatur cahaya, dan para pemeran peran-peran yang lainnya. Sudah ditentukan pula lokasi, tempat, hiasan panggung, dan segala tambahan pemanis lainnya berupa hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung dan lembah. Sudah ditulis peristiwa-peristiwa yang akan dialami oleh masing-masing pemeran itu sejak dari awal sampai akhir dari sandiwara itu, the end. Sungguh semua itu adalah SANDIWARA belaka bagi Allah.

Akan tetapi, yang sangat menakutkan bagi bagi para pemeran masing-masing peran itu adalah bahwa sandiwara itu adalah kejadian benaran. Kalau sakit, sakitnya benaran, terluka dan berdarah-darah. Kalau mati, matinya benaran. Kalau bunuh-bunuhan (perang), perangnya benaran. Hancur, terbakar, terluka, mati. Kalau setting peristiwanya adalah ada gunung meletus, gempa bumi, tsunami, topan badi, dan bencana alam lainnya, maka bencananya benaran. Hancur, porak poranda, luluh lantak, mati. Kalau peran baik, baiknya benaran. Kalau jahat, jahatnya benaran. Semua itu bagi si pemeran akan ada rasanya. Ada enak, sakit, bahagia, duka, sedih, takut, marah, benci, sayang, cinta. Semuanya terasa benaran.

Namun syukur alhamdulillah bahwa Allah juga telah menurunkan petunjuk-Nya tentang bagaimana caranya agar kita sebagai pemeran yang sedang menjalankan peran kita itu tidak merasakan takut dan khawatir sedikitpun dalam kita menjalankan tugas kita itu. Tentang ini akan kita bahas pada bagian tersendiri.

Untuk sebagai pertanda bahwa Sandiwara itu sudah dimulai, Allah pun berkata “KUN” kepada SEDIKIT dari Dzat-Nya yang besarnya terhadap keseluruhan Dzat-Nya hanya laksana “bulan” yang mengambang dilangit yang luasnya tak terbatas. Lalu dengan KUN, Dzat-Nya yang sedikit itu terdzahir menjadi sebuah SISTEM Yang TERTUTUP, Panggung Sandiwara Maha Besar, yang berisikan SELURUH Ciptaan didalamnya

KUN…, maka antara Dzat-Nya Yang diluar (Yang Sangat Besar, AKBAR) dengan sedikit Dzat-Nya yang ada di dalam sistem tertutup itu dibatasi oleh TIRAI CAHAYA. Tirai cahaya ini berguna untuk melindungi semua ciptaan yang tardzahir (dari sedikit Dzat-Nya) di dalam sistem tertutup itu agar tidak musnah terbakar ketika ia terpandang kepada Dzat-Nya yang diluar sistem tertutup itu, Dzat Yang Maha Agung.

“Tirai-Nya adalah Nur, dan seandainya terangkat pastilah keagungan Dzat-Nya akan membakar makhluk yang terpandang oleh-Nya”. Terjemahan Shahih Muslim Bk. 1, 228 (1994).

“Malaikat Jibril a.s berkata bahwa ada 70 tirai Nur yang meniraikan Dzat. Dan sekiranya dia mendekati tirai Nur yang pertama saja, dia akan binasa”. Al Hadist (Miskatul Masabih) Vol 4. 226 (1994)

Kemudian di dalam sistem tertutup itupun terciptalah sebuah Perencanaan Yang Sangat Agung. Perencanaan Yang Maha Detail, terhadap serba-serbi dari semua ciptaan yang akan menghuni sistem tertutup itu. Rencana itu meliputi semua detail dari kejadian dan peristiwa yang akan dialami dan dilalui oleh setiap ciptaan (mulai dari yang terkecil maha kecil, sampai kepada yang terbesar maha besar) dalam dimensi RUANG atau UKURAN dan dimensi WAKTU. Apa-apa yang akan terjadi, dimana akan terjadinya, dan apa hikmah yang terkandung di sebalik setiap kejadian yang akan menimpa setiap ciptaan itu sudah tertulis dalam sebuah KITAB RENCANA YANG MAHA SEMPURNA yang disebut sebagai LAUHUL MAHFUZ.

Rencana itu sudah lengkap memuat setiap pergerakan, baik penciptaan dan penghancuran, dari setiap ciptaan yang terjadi di Lauhul Mahfuz itu mulai dari sejak awal sampai dengan akhirnya. Karena Lauhul Mahfuz itu adalah ciptaan, maka ia pastilah ada awalnya dan ada pula akhirnya. Sebab yang abadi hanyalah Dzat Allah semata-mata, baik Dzat-Nya Yang di dalam sistem tertutup itu maupun Dzat-Nya yang diluar sistem tertutup itu.

KUN, maka terciptalah sebuah Plan (lauhul Mahfuz) yang fungsinya mirip dengan Skenario dalam sebuah Film. Isinya adalah rencana tentang detail WAKTU dan RUANG bagi terjadinya peristiwa-peristiwa. Di dalam Plan itu sudah tertera pula dengan jelas dan lengkap tentang bagaimana DZAT-Nya yang akan terdzahir menjadi APA dan SIAPA untuk berperan dan melakukan APA. Rencana itu itu juga sudah merinci magnitute (besarnya, ukurannya, tingkatnya, jaraknya, jangkauannya, kepentingannya, luasnya, kekejamannya, kejahatannya, kelembutannya, tahapannya, tarafnya, babaknya, pentas dan panggungnya, pangkatnya, deretannya, perubahan-perubahan suasananya, hikmahnya, dan sebagainya) atas setiap peran dari Apa dan Siapa itu. Rencana itu sudah lengkap sekali, dan tidak ada satu detailpun yang terlupakan. Rencana itu tidak akan pernah berubah. Nanti pada bagian Lauhul Mahfuz kita akan membahas tentang Skenario Penciptaan ini lebih detail lagi.

KUN, terpampanglah sebuah rencana besar dari sedikit Dzat-Nya yang berada di dalam sistem tertutup itu (Lauhul Mahfuz) untuk terdzahir menjadi: 70 Tirai Nur, Arasy, Air yang Masiv, Sidratul Muntaha, Ruh Muhammad, 7 Langit dan Bumi beserta segala isi diantara keduanya yang salah satunya adalah umat manusia, Penghancuran dan Pemusnahan kembali Langit dan Bumi beserta isi diantara keduanya berupa peristiwa KIAMAT, diciptakannya kembali langit dan bumi yang baru, peristiwa berbangkitnya seluruh manusia di alam Mahsyar, peristiwa berbarisnya seluruh umat manusia menuju Hisab, tentang siapa orang-orang yang SEDIKIT diantara seluruh umat manusia ini yang akan menempuh jalan berhisab yang dimudahkan, tentang siapa-siapa yang akan menerima kitab amalannya dari kanan, dan siapa yang akan menerima kita amalannya itu dari kiri, tentang siapa-siapa yang akan diberi SYAFA’AT oleh Rasulullah saw, lalu siapa-siapa yang akan berlama-lama di dalam Neraka, dan siapa-siapa pula yang akan berlama-lama di Syurga bersama Rasulullah beserta Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang lainnya serta orang-orang Shaleh dari segala zaman, tentang Telaga atau Sungai Kehidupan yang akan mencelup para penghuni neraka sehingga mereka keluar dari neraka itu dengan muka berseri-seri untuk kemudian masuk ke dalam syurga, tentang bagaimana semua malaikat, iblis, manusia, dan jin akhirnya akan kekal didalam syurga selama masih ada langit dan bumi, kecuali kalau Allah berhendak lain. Sebab segala ciptaan pastilah akan hancur, Yang Abadi hanyalah Dzat-Nya saja. Lauhul Mahfuz adalah Ciptaan, dan pastilah ia akan musnah.

Semua ciptaan-Nya pasti akan musnah kembali apabila Allah membuka 70 Tirai Nur-Nya kepada segala ciptaan-Nya itu yang berada di dalam Lauhul Mahfuz. Jika tirai terbuka, maka Lauhul Mahfuz pun kembali SIRNA menjadi Dzat-Nya, karena memang HAKIKAT dari semua ciptaan itu hanyalah sedikit saja dari Dzat-Nya yang Maha Besar dan Maha Agung. Sehingga akhirnya yang tinggal hanyalah Dzat-Nya semata-mata. Dialah Dzat Yang Awal dan Dia pulalah Dzat Yang Akhir. Selain Dzat-Nya pastilah hancur lebur dan sirna.

Sahabat saya “Kidung Alam” telah mengulas karakter dari sistem tertutup itu dari sisi ilmu alam dengan sangat sederhana:
“Dalam sebuah sistim tertutup, jumlah keseluruhan energy adalah tetap. Atau lebih dikenal dengan istilah: Energy tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, dan juga materi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Yang terjadi hanyalah perubahan bentuk saja.

Jadi kalau alam semesta dianggap sebuah sistem tertutup, maka apapun yang ada di alam ini adalah tetap. Kecuali suatu entitas yang berada di luar sistim, yang bisa menambah dan menguranginya.

Demikianlah dengan pengandaian sederhana, maka Dzat Allah pastilah ada yang berada di dalam sistem (alam semesta) dan juga ada di luar sistem. Allah is everywher and nowhere. Allah ada di luar dan ada di dalam, meliputi semuanya.
Dengan memahami keberadaan Dzat Allah di dalam dan diluar system Alam Semesta Ciptaan Allah ini, maka memahami postulat ahli ilmu alam akan dengan mudah diterima. Namun bila tidak memahami Dzat yang di luar sistem ini, maka memahami postulat ahli ilmu alam ini akan menjadi tidak masuk akal”.

Dengan memahami Hakekat semua ciptaan seperti ini, maka tanpa rumit-rumit, kita tinggal selangkah saja lagi untuk bermakrifat kepada Allah, Makrifatullah…

Bersambung

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

3 Responses

  1. Syachmidin says:

    Asslmkm,Pak Deka, boleh saya bertanya? Dlm sarahan arifbillah h.Hussen ada NST. itu singkatan apa?.Tks. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *