MEMAHAMI MAKRIFATULLAH DASAR

 

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Oleh: Taufiqurrahman, S.Pd.I, M.Sy (Al-Hafidz)

 

Tulisan yang lebih utuh bisa dibaca pada link berikut ini SILABUS KAJIAN, atau bisa dibaca melalui buku yang beliau tulis yaitu “Daripada Hakikat kepada Makrifat,” dan juga buku “Kompilasi Tasawuf Jalan Nabi-nabi”

Kita mengutip kembali dari apa yang telah disampaikan Hujjatul Islam, Imam Al Ghozali: “Ketahuilah bahwa Maujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala. Dan ini menghendaki kepada makrifatullah”[1]

SIAPA ALLAH ITU?

“ALLAH” adalah nama Tuhan kita. Dan penjelasan tentang siapakah Allah SWT itu bisa kita lihat dari kutipan-kutipan berikut:

“Sesungguhnya Allah itu Dzat yang Maha Indah” Terjemahan Sahih Muslim Bk 4, 570 (1994)

Allah ialah nama Dzat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar benarnya ( Al Fatihah (1): Notaki 1( Saudi)
فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
(Yunus :32)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus:3)

 

TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SERUPA DENGAN ALLAH 

Setelah kita ketahui bahwa Allah SWT itu adalah Tuhan kita, adalah yang menciptakan langit dan bumi ini, dan Dialah yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, kita melanjutkan pembahasan berikutnya bahwa tak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah SWT.

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Asy Syura :11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Al Ikhlas :4)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An’am :103) 

Sekarang mengertilah kita, bahwa Allah SWT tak serupa dengan apapun, tak ada yang setara dengan Dia, dan Dia tak bisa dicapai oleh pengelihatan kita.

 

AWAL MULA

Salah satu pertanyaan yang paling banyak dicari oleh manusia adalah penjelasan mengenai darimana kita berasal, kemana kita kembali, dan untuk apa kita dijadikan. Pertanyaan sangat mendasar ini, dapat dijelaskan dengan pendekatan tasawuf seperti yang disampaikan oleh Ustadz Hussien bin Abdul Latiff berikut ini.
1.Permulaan

Pada permulaan Allah Swt saja yang ada dan tiada apa pun bersamaNya (Terjemahan Sahih Al Bukhari , Vol 9, 381 (1987)

Pada permulaan sekali, belum ada ciptaan, yang ada hanyalah Allah SWT sendiri. Dan ini merupakan pondasi tauhid. Wajib kita meyakini bahwa tak ada apapun bersamaNya. Tak ada ciptaan, tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada ketiadaan, tak ada segala sesuatu yang kita bisa persepsikan, Hanya DIA sendiri yang ada.

Pertanyaan kemudian timbul, jika hanya DIA saja yang ada, tak ada apapun bersamaNya, kepada siapa Dia mentujukan firman “KUN”, jadilah?

Jawabannya adalah, bahwa firman KUN ditujukan pada diriNya sendiri.
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. (Al Baqoroh :117) 

Allah berfirman KUN, jadilah! Pada sedikit dari DzatNya Yang Maha Indah itu, maka DzatNya yang sedikit itu kemudian menjadi ciptaan, segala ciptaan yang kita kenali, ruang, waktu, benda-benda, segala di alam raya ini.[2] CiptaanNya ini dirangkum dalam sebuah sistem tertutup yang kita kenal dengan nama Lauh Mahfudz.

2. Apa yang dimaksud Lauhul Mahfudz itu?

Lauh Mahfudz adalah wadah dari rencana Allah dan segala bentuk penciptaan dari awal hingga akhir. Segala sesuatu yang berkenaan dengan ciptaan / makhluk ada disini.

3. Apa yang di maksud Dzat yang di dalam dengan Dzat yang di luar?

Istilah “Dzat yang di luar” merupakan istilah untuk menjelaskan bahwa di luar Lauh Mahfudz masih ada DiriNya Yang Maha Indah, dan tak bisa diumpamakan.

Istilah “Dzat Yang Di Dalam” merupakan istilah yang merujuk pada sedikit DzatNya atau diriNya yang Dia zahirkan menjadi ciptaan di dalam Lauh Mahfudz.

Tak bercerai atau tak berpisah DzatNya yang di luar dan di dalam.

4.Seberapa besar Dzat yang di jadikan Lauhul Mahfudz ini?
Seluruh ciptaan di alam raya ini, jika digabungkan, dan dibandingkan dengan keseluruhan diriNya, adalah seumpama[3]:
– sebutir pasir bila dibandingkan dengan gurun pasir
– setetes air bila dibandingkan denagn lautan lepas
– rembulan bila dibandingkan dengan angkasa lepas

Dari melihat perbandingan ini kita mengerti bahwa Allah SWT Maha Besar, Maha Luas, Maha Tinggi, tetapi sejatinya kita tidak pernah benar-benar mengerti seperti apa Maha Besar, Maha Luas, Maha tinggi Allah itu. Karena di luar Lauh Mahfudz adalah Dzat Yang Maha Indah, yang tak ada perumpamaan apapun bisa menggapaiNya.

Apabila dibandingkan dengan Dzat Allah yang seutuhnya, yang kita sembah adalah Dzat yang luar yang Maha Indah. [Maksudnya adalah, kita tidak boleh menyembah ciptaan. Yang kita sembah adalah Dia pada kedudukannya Yang Tak Serupa, Tak ada umpama]

5.Kapan Lauhul Mahfudz itu ada?

Pada saat Allah berfirman KUN pada diri (Dzat) NYA sendiri

6. Apa yang di maksud dengan sistem Ilahi dalam lauhul Mahfudz?

Sistem ilahi adalah sebuah istilah yang maksudnya adalah bahwa tata kelola Allah SWT pada Lauh Mahfudz berjalan dengan sistematis dan otomatis. Semua sudah terencana dan tertuliskan / tergambarkan sejak KUN, dan berjalan tanpa perubahan dari KUN hingga akhir.

Hal ini juga bermakna bahwa Allah SWT maha bijaksana dengan IlmuNya, dan Lauh Mahfudz yang Dia buat sudah sempurna tanpa perlu perubahan apa-apa.

7. Kenapa lauhul Mahfudz sempurna?

Setelah kita mengerti bahwa segala ciptaan berada dalam Lauh mahfudz, dan Lauh Mahfudz berjalan mengikuti perencanaan Allah SWT sejak KUN, sistematis dan otomatis tanpa ada perubahan, dibawah ini kita akan melihat bukti-bukti syar’I bahwa Lauh mahfudz telah sempurna.

 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al An’am : 38)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus : 61)

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan ( al qomar : 52)
وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. ( Al qomar :53)

 

catatan kaki:

[1] Imam Ghozali, Ihya Ulumuddin Bk 7, 478 (1981)

[2] Mengenai kepada siapa Allah berfirman KUN, dan apakah keseluruhan diriNya atau sedikit dari diriNya yang terzahir menjadi ciptaan; merupakan pangkal dari perbedaan pendapat dalam tasawuf. Ustadz Hussien menjelaskan konsep Dzatiyah, yang meluruskan kekeliruan paham wahdatul wujud dan juga paham Nur Muhammad, berkaitan dengan kepada siapa Allah berfirman KUN, dan berkaitan dengan apakah keseluruhan diri Allah terzahir menjadi ciptaan atau sedikit dariNya. Baca “SILABUS KAJIAN” untuk lebih detail mengenai ini.

[3] Perbandingan ini merujuk pada Hadits Rasulullah dan dari kitab lama Gospel Barnabas

 

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

1 Response

  1. adi nur indra says:

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *