MEMAHAMI MAKRIFATULLAH DASAR (4)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Oleh: Taufiqurrahman, S.Pd.I, M.Sy (Al-Hafidz)

 

PENYERAHAN
( Makna Islam yang sesungguhnya dan masa depan masyarakat Islam )

Pada ringkasan kajian penyerahan kali ini memberikan pemahaman yang sangat menyejukkan tentang Islam dan masa depan masyarakat Islam.
Sebelum masuk pada “penyerahan,” Pertanyaan yang patut diajukan, antara lain:

– Apa yang dimaksud dengan penyerahan itu?
– Bagaimana kita menerima takdir dengan seutuhnya?
– Bagaimana sistem garansi Allah itu diberikan?
– Bagaimana caranya meraih -sesuatu yang di idam-idamkan semua manusia- yaitu ketenangan? Bagaimana itu ketenangan yang hakiki?

1. Memahami Penyerahan

Setelah memahami ujian dan cobaan maka kita masuk kepada “pintu” yang kedua yaitu memahami penyerahan dengan makna yang benar, karena inilah “penangkal” dari pada kegelisahan, kegalauan bahkan depresi atau sampai stres.

Jika paparan ini berhasil memahamkan kita dan kita mampu menerimanya insyaAllah stres bukan lagi masalah buat kita. Tekanan hidup akan kita pandang dengan sudut dan cara yang berbeda. Mindset kita sudah lain karena sudah terjadi paradigm shift ( pergeseran paradigma) pada cara berfikir kita.

Apa makna penyerahan disini? Penyerahan yang dimaksudkan adalah menyerahkan segala-galanya kepada Sang Maha Pencipta. Berserah diri bulat-bulat (total) kepada Allah Swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
( Al Baqoroh ; 208)

2. Kenapa mesti menyerah

Pertanyaan yang patut diajukan dalam diri kita yaitu : Kenapa mesti menyerah?

Bagaimana tidak menyerah?
– kalau kita tidak punya kuasa sedikitpun, karena kekuasan mutlak Dia punya?

Bagaimana tidak menyerah?

Kalau satu sel pun dalam diri kita tak mampu kita kendalikan.

Bagaimana tidak menyerah?
Kalau mengantuk pun tak mampu kita tahan.
Bagaimana tidak menyerah?
Kalau tidak ada pilihan, orang tua kandungpun tak bisa kita memilihnya, anak kandungpun tak bisa kita memilihnya. Lahir dimana? Suku apa? Bangsa apa? Ras apa? Rupa, kecerdasan semuanya seperti sudah “dipaketkan” untuk kita. Tak bisa kita tolak.
Semua seperti sudah diatur dan disusun sedemikian rupa sehingga begitu sempurnanya tak akan mampu kita ikut campur tangan di dalamnya.
Dari dulu hingga sekarang sudah berjalan dengan tertibnya.
Apakah kita yang mengatur masa lalu, sebelum kita lahir? Mampukah kitaengatur masa depan? Ketika kita sudah meninggal dunia? Mampukah kita mengatur umur kita?

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
(Al Qomar :49)

Olah dan rasakan dengan seksama hal-hal diatas, kita akan sampai pada sebuah pemahaman bahwasanya semuanya tanpa terkeculi ada yang mengatur dan mengendalikan segala sesuatunya sehingga menjadi sebuah “pentas akbar” yang di sutradarai oleh Sang Maha Besar.

Hal kecil hal besar, yang nampak yang tak nampak semua dirangkai sehingga menjadi sebuah pertunjukan kolosal.

Kita ada di dalamnya. Kita memainkan peran mengikuti script yang di arahkan sutradara. Kita tinggal “memerankan saja”.

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad :36)

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (SCRIPT)

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qomar :52-53)

Kalau hal ini kita fahami dan sadari kita akan merasa ringan menjalani hidup ini, tidak menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan sampai Tuhan. Kita sudah faham betul bahwasannya semua dalam peran dan semua yang terjadi adalah yang terbaik karena ada hikmah di sebaliknya.

وَمَا

خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shad :27)

Yakinlah apapun yang terjadi kemarin, saat ini adalah yang terbaik untuk kita. Every second is a great moment. Setiap detik adalah yang terbaik untuk kita. Tuhan telah mengatur seluruh hidup kita detik demi detik dengan sebaik-baiknya.

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. ( As Shoffat :96)

3. Bekal untuk menyerah

Dengan bekal apa kita mesti menyerah? Kita melakukan penyerahan berbekal ilmu. Adapun ilmj yang harus kita fahami, kita tanam dan kita bangun adalah sebagai berikut:
– Tuhan Maha Bijaksana.
– Tiada yang Dia ciptakan sia-sia.
– Semua mengandung hikmah.
– Semua telah direncanakan dan di tulis oleh Tuhan
– Rencana Tuhan teguh, tiada perubahan.
– Semua yang berlaku atas kehendak dan izinNya.
– Takdir (ketetapan Tuhan terhadap semua ciptaan) adalah terbaik semuanya, baik itu takdir baik maupun takdir buruk.

Prinsip atau azas diatas harus benar-benar kita yakini. Tanamkan dalam fikiran kita sematkan hingga begitu melekat kuat.

Berbekal prinsip-prinsip diatas membawa kita pada sebuah keadaan bahwasannya tiada daya, tiada hak, tiada pilihan pada diri kita. Kita akan begitu menyerah kepada Tuhan apapun keadaannya. Karena memang begitu semestinya. Kita begitu sadar begitu faham bahwa memang Tuhan lah yang mengatur segala-galanya, bahkan hal yang remeh dan hina sekalipun.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imron :191).

Setelah kita masuk dalam keadaan tiada daya, tiada hak/ milik yang hakiki, tiada pilihan dan kita benar-benar menyerah kepada Tuhan, rasakan seolah-olah kita hanyalah “boneka” yang digerakkan oleh sebuah kekuatan yang Maha Kuat. Rasakan kita tidak bergerak sendiri, ada sesuatu yang menggerakkan kita. Biarkan bimbingan yang mengatur Yang Maha Kuasa mengatur kita, kita merasa aman, nyaman, tenteram.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (An Nisa’:125)

Sambungkan terus fikiran kita kepada ingatan akan Allah, dengan sambungan ingatan ini kita akan terilhami dengan sendirinya. Karena Dia lah yang menurunkan ilham untuk membimbing hambaNya.
Fokuskan ingatan kepada Tuhan ini bersemayam dalam fikiran kita. Seperti kita mengingat nama kita sendiri.
Tak ada ucapan.
Tak ada ejaan.
Tak berupa.
Tak berwarna.
Tak berhuruf.
Hanya INGAT SAJA.

Mengapa? Karena Allah Swt Tuhan kita tak berupa tak seumpama

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.( As Shura :11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” ( Al-Ikhlas :4).

Ingatlah Allah Tuhan kita seperti kita mengingat nama kita sendiri. Tak ada ucapan, tak ada ejaan, tak berupa, tak berwarna, tak berhuruf. HANYA INGAT SAJA. Namun ketika ada yang memanggil nama kita, kita langsung menoleh, begitulah cara mengingati Allah Swt Tuhan kita. DENGAN INGAT SAJA.
Memakai ingatan, yang bisa mengingat apa? MINDA kita, atau AL-AQL, atau disebut juga hati yang halus (bukan hati fisik atau jantung).[1]
Sematkanlah ingatan kepada Tuhan ini, jangan sampai lepas, inilah “pintu komunikasi” kita dengan Allah Tuhan kita. Biarkan pintu ingatan ini selalu “terbuka” untuk menerima ilham.

Dengan ilham ini kita menjadi tenang dan kita menjadi tenteram. Segala persoalan kita tanggapi dengan ringan karena yakin solusi pasti ada. Stres pun dengan sendirinya tidak mengganggu kita lagi.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
(AtTholaq :2)

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Tholaq :3)

4. Garansi Allah Swt setelah seorang menyerah

Setelah kita memasuki pintu penyerahan, Allah Swt akan memberikan jaminan (garansi) baik di kehidupan ini (dunia), maupun di kehidupan nanti (akhirat).
Kaetika di dunia orang-orang yang menyerah, akan mendapatkan garansi di dunia, berupa:
– diberikan jalan keluar (problem solving) dari masalah.
– diberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.
– dicukupkan semua keperluannya (bukan keinginannya)
– dijadikan mudah dalam segala urusan

Adapun garansi bagi orang yang masuk pintu penyerahan di akhirat, antara lain:
-dihapus semua kesalahannya
-dilipat gandakan pahalanya.
-diridhoi Allah.
-dimasukkan dalam surgaNya.

ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
ذَٰلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (At Tholaq 4-5).

5. Ketenangan 

Kenapa sampai tumbuh ketenangan batin dalam hati mereka? Sehingga mereka tiada lagi ketakutan dan tiada lagi kekhawatiran?
Karena mereka orang-orang yang masuk pintu penyerahan telah yakin BERSANDING dengan Sang Maha Penolong.
-Mayakini bahwa Allah selalu mendampingi mereka
– Allah selalu menolong mereka dimanapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
– mereka memahami pertolonganNya sangat dekat dengan “timing“nya.
– mereka faham betul bahwa pertolonganNya datang bersamaan dengan ujian dan cobaan.
-mereka yakin tidak akan dibiarkan dan diterlantarkan.
-mereka yakin akan senantiasa dijaga, dilindungi dan dicukupi.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” ( Fusshilat:30-33).

Yakin kalau segala-galanya diatur oleh Allah?
Sudah sepantasnya kita menyerah bulat-bulat (kaffah/total) kepadaNya inilah makna ISLAM secara hakiki.
Karena mereka yang selalu menyerah yakin SEMUA ada di GENGGAMAN-NYA termasuk juga kita.
– kita tidak bisa masuk campur tangan dalam keputusanNya.

يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ

Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. (Ali Imron :154)

Setelah memahami hakikat penyerahan ini, sudahkah batin kita merasakan ketenteraman yang hakiki?

 

 

catatan kaki:

[1] Yang bisa mengingat ini, dalam bahasa melayu diterjemahkan secara bebas sebagai MINDA, oleh Ustadz Hussien. Imam Ghozali membahasakan MINDA ini dengan istilah “Lathifah Rabbaniyah”, sesuatu yang halus, yang bersifat Rabbani, yang bisa mengerti dan memahami. Atau hati yang halus.

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *