MEMAHAMI MAKRIFATULLAH DASAR (3)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Oleh: Taufiqurrahman, S.Pd.I, M.Sy (Al-Hafidz)

 

 

MEMAHAMI UJIAN DAN COBAAN

Pada kajian sebelumnya, telah kita kenali siapakah Allah SWT, telah kita pahami pula bahwa segala mengenai ciptaan berada di dalam Lauh Mahfudz. Telah kita pahami pula bahwa dengan begitu maka Allah SWT mengetahui apapun saja yang berlaku di dalam Lauh Mahfudz, dan terlebih dari itu kita akhirnya menjadi tahu bahwa segala yang berlaku di dalam Lauh Mahfudz adalah sudah ditetapkanNya sejak KUN, dan pasti berhikmah.

Dengan mengetahui hal ini, kita yang semula menganggap ujian adalah sebagai momok atau sesuatu yang menakutkan yang harus dihindari bersama, berubah sudut pandangnya menjadi suatu kesempatan dan sebuah peluang emas yang diberikan Allah Swt kepada para hambaNya untuk:
– bertambah ilmunya
– bertambah imannya
– bertambah yakinnya bahwa pertolonganNya itu sangatlah dekat dengan “time”nya.

Karna segala yang terjadi merupakan cara Allah mengajar.

Bagaimana mungkin, ilmu diturunkan tanpa melalui ujian?
Bagaimana mungkin iman bertambah tanpa melalui ujian?
Bagaimana mungkin tahu bahwa pertolonganNya itu sangat dekat tanpa melalui ujian?
Bagaimana mungkin Allah memilih dan menseleksi orang-orangNya tanpa melalui ujian?
Bagaimana mungkin kita dibiarkan mengatakan aku beriman, sebelum diuji?

1. Ujian secara global / Universal.

Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya tanpa terkecuali baik itu musibah, bencana, kebaikan, kejahatan dan sebagainya baik ujian yang berskala global maupun personal. Karena kita yakin bahwa tak ada yang sia-sia.
Yang paling penting adalah dengan kejadian yang terjadi, kita dituntut terus menerus belajar, membaca (iqro’), membaca apa yang telah terjadi dan yang telah tercipta, baik dari diri sendiri maupun di sekelilingnya.
Logikanya, Allah menciptakan sesuatu pasti ada gunanya dan pasti berhikmah, jika tidak ada gunanaya dan hikmahnya atas segala ciptaanNya, maka Dia gugur menjadi Tuhan, kerena tidak Maha Bijaksana? Karena menciptakan sesuatu yang sia-sia.
Tentulah tidak demikian!
Karena Allah Maha Bijaksana dan menjadikan semuanya tanpa terkecuali melainkan ada faedahnya serta kegunaannya yang sebenar-benarnya.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
(Yunus:5)

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
(Al Ahqof :3)

Semua ujian ada yang manfaatnya langsung bisa dirasakan oleh manusia dan ada yang manfaatnya untuk masa depan anak cucu kita, karena kehidupan adalah mata rantai yang saling kait mengkait antara masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Meski dari “luar” kelihatan ada mudharat, kerusakan atau kecacatan sekalipun dirasa oleh manusia pasti itu sangat berguna sekali untuk dirinya.
Contoh Allah menciptakan nyamuk tentunya secara “kasat mata” sebelum berbekal ilmu hikmah disebalik ciptaan ada manfaatnya. Menganggap nyamuk itu sangat ” mengganggu” untuk manusia, menghisap darah manusia, bahkan ada yang menyebabkan kematian karena demam berdarah dan sebagainya. Tapi perlu diingat dengan adanya nyamuk pula, berdiri pabrik-pabrik obat nyamuk, baik bakar, lotion, semprot, elektrik. Sehingga tentunya membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas, belum lagi para dokter yang mendapatkan manfaat dari orang yang sakit demam berdarah misalnya, bahkan para apoteker juga akan laku obatnya, dan rentetan panjang.
Manfaat yang tidak kita ketahui saking banyaknya manfaat nyamuk itu tanpa disadari. Secara “dhohir” prasangka orang yang belum tahu ilmu hikmah menganggap nyamuk itu “merugikan”, tetapi setelah mengetahui ternyata mempunyai manfaat yang sangat banyak. Kenapa demikian? Karena tidak ada semua yang diciptakan Allah Swt itu sia-sia.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,
(Al Baqoroh :26)

Iqro’, bacalah, bacalah yang ada disekitar kita dan di alam semesta ini atau di jagat alam raya yang sangat luas ini. Tentu akan mendapatkan pemahaman dan keyakinan bahwa semua tidak ada yang sia-sia semua berhikmah lagi berkeadilan.

Sekarang coba kita perhatikan, apa sebenarnya hikmah dibarik keingkaran iblis??…
Yang sebagian menganggapnya sebagai biang kerok manusia di keluarkan dari surga? Sehingga hidup “susah” di dunia?

Hikmah ingkarnya Iblis, antara lain:
– Diturunkannya para Nabi dan Rasul
– Dijadikannya Rasullullah Saw sebagai rohmatal lil alamin
– Adanya Islam sebagai agama yang sempurna
– Dijadikannya orang yang beriman dan sholih sebagai kholifah yang akan membimbing Iblis dan kroniya kembali menyembah Allah di hari muka.
– Diturunkan syari’ah Islam yang menyempurnakan syari’at-syari’at yang dibawa oleh Rasul-rasul sebelum Rasullullah Saw.
Yang semua pensyariatan Nabi-nabi sebelum Rasululluah bersumber pada Al Qur’an dan Hadits. Bahkan besok pada masa akhir menjelang kiamat Nabi Isa As diturunkan oleh Allah untuk meluruskan kembali ummat manusia yang menyimpang dari syari’at Nabi Muhammad Saw
– Demografi merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh negara Jerman, Perancis dan Vatikan yang mana hasilnya adalah menurut perkiraan mereka 100 tahun mendatang dari sekarang di masa depan semua masyarakat Barat akan hilang dan digantikan oleh masyarakat Islam dan dunia akan menjadi dunia Islam (globalisasi Islam) [1]

Perlu difahami sebelum Rasullullah lahir, ketika ummat para Nabi melakukan kedurhakaan maka langsung Allah Swt hancurkan tanpa ada sisa sama sekali.

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَىٰ ۖ كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوهُ ۚ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ ۚ فَبُعْدًا لِقَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.
(Al Mukminun:44).

Khusus ummat Rasullullah Saw, karena melalui rohmatal lil alamin beliau, Allah tidak langsung menyiksa ummat yang durhaka ketika melakukan maksiat, tetapi dengan ” diputuskan keturunan orang2 yang tidak beriman tanpa mereka sadari’

وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ

dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.
(Al A’rof :72)

– di turunkan Imam Mahdi.
Akan ada seorang kholifah di akhir-akhir zamanku ummatku yang akan memberi kemewahan tanpa berkira. Dia adalah Imam Mahdi (Sunan Ibnu Majah Bk 4:820 (1993)

2. Ujian secara personal

Ujian adalah tahapan yang harus dilewati orang2 yang mengaku dirinya beriman. Karena lewat ujian ilmu diturunkan, pertolongan didatangkan, sehingga iman bertambah dan dengan ujian inilah Allah Swt meninggikan kedudukan hambaNya. Adapun varian ujian dalam skala personal antara lain:
-kesusahan dan kesenangan
-harta benda dan anak-anak
-istri-istri
-ketakutan
-kekurangan
-kematian/kehilangan
-kelaparan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(Al Baqoroh :155-157)

Namun diantara semua ujian yang sifatnya personal itu yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Disinilah kita renungkan kembali ujian yang menimpa Nabi Muhammad Saw, Nabi Musa As, Nabi Isa As, Nabi Ibrahim As, Nabi Nuh As, Nabi Adam As, Nabi Ayyub As, Nabi Yunus As Dan lain sebagainya.

Dan coba sejenak kita lihat orang-orang yang beriman selain para Nabi yang ceritanya di abadikan dalam Al qur’an, seperti: ibu Nabi Musa As, Asyiah istri Fir’aun, ahli sihit Fir’aun, putri Balqis, Masyitoh.

3. Cara menghadapi ujian
Dengan bekal apa kita mesti menghadapi ujian?
Bekal untuk menghadapi ujian adalah dengan iman dan ilmu.
Dengan iman :


– berpaut hanya pada Allah Swt

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
(Al Hajj:78)

-jangan berputus asa
-kembali kepada Allah Swt
-Ingat kepada Allah

Dengan ilmu, kita memahami bahwa:
– Allah Swt Maha Bijaksana, karena benar benar yakin dengan kesadaran bahwa segala ciptaanNya tidak ada yang sia-sia. Semua meyakini bahwa Allah Maha Pencipta, tapi tidak semua meyakini bahwa Allah juga Maha Bijaksana.
– Semua dibuat ada hikmahnya, karena tidaka ada yang sia-sia meskipun nyamuk, kecoak, lalat dan lain sebagainya.
-Semua adalah hak Allah Swt, karena segala yang ada dilangit dan di bumi adalah hak atau milikNya termasuk kita dan apapun yang ” diperbuat” terserah Allah Swt

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
(Al Mukminun :23)

– Semua adalah DzatNya, menyadari dengan penuh kesadaran bahwa semua ciptaan adalah terzahir dari DzatNya yang sedikit, Allah Swt tidak mendolimi ciptaan karena semua ciptaan disebaliknya adalah DzatNya yang sedikit.
Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain Engkau ( Terjemahan At Tirmidzi Bk 5, 42 (1993)).

-Kita tidak wujud
Kesadaran ketidakwujudan kita, ( engkau ada tapi tidak merasa ada ) ke”aku”annya sudah hilang.

Karena hakikatnya semua ciptaan tidak wujud, menyadari bahwa Allah Swt disetiap gerak kita, langkah kita, dan perwujudan kita dan sudah barang tentu tidak ada kewujudan selain DzatNya yang sedikit.

Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia tidak mempunyai wujud bagi dirinya ( Imam Ghazali, Ihya’ Ulumuddin Buku 7, 427 (1981).

-Ridho, sukolilo; senang dengan ketetapanNya, yang pada akhirnya dengan ilmu yang diberikan Allah Swt, insyaAllah akan mendapatkan keridhoaan sepenuhnya dari Allah Swt.

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
(Al Bayyinah:8)

Janganlah kamu menyalahkanNya dalam lakuanNya yang terdhohir (nampak) melalui kamu meskipun itu tidak kamu sukai dan tidak sesuai dengan kehendakmu dan meskipun pada kenyataannya membahayakan kamu maka wajiblah kamu bersyukur, bersabar dan ridho dengan Allah Swt, dan jangan kamu bersusah hati, dan menyalahkan Dia karena itu mungkin (bisa menyebabkan) menyelewengkan kamu dari jalan Allah Swt ( Syaikh Abdul QodirbAl Jilani, Futuhul Ghoib, 145, 83, 56 (1990)
– Diam
Bagaimana tidak diam? Kalau semua yang terjadi sudah di tuliskan. Kalau semua yang berperan adalah DzatNya yang sedikit. Kalau Allah lah yang menentukan segala-galanya. Kalau Allah sajalah yang Berkuasa atas segala sesuatu. Kalau semua terjadi atas izinNya. Kalau ada ilmu dan hikmah di balik ujian itu. Kalau semua tunduk pada qadha dan qodarNya.

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ( Al Ankabut :3)

4. Ada Ilmu disebalik bencana

Dengan berbagai macam bencana yang terjadi didiri kita dan di sekeliling kita. Sehingga memunculkan pertanyaan dibenak kita. Kenapa harus ada ujian? Apa tujuan di turunkan ujian itu? Mengapa harus terjadi? Dan kepada siapa kita minta pertolongan?
kita mencoba merenungkan, patutkah kita menyangka bahwa kita akan dibiarkan begitu saja ketika kita mengatakan kita telah beriman? ataukah patut manusia menyangka masuk surga sebelum datang ujian dan cobaan?

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut ;2)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْ ِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqoroh :214)

Perlu direnungi bahwa semua manusia diuji, ujian akan diberlakukan kepada semua hambaNya yang mengaku beriman walaupun dia tidak memiliki kesalahan.
Bencana selalu menimpa terhadap orang orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, baik kepada dirinya ataupun anaknya meskipun tidak mempunyai kesalahan (HR Sunan Turmudzi Buku 4)

Disaat diuji, pertanyaan yang patut diajukan, mau bergantung kepada siapa kita? Mau kembali kepada siapa kita? Masihkah kita berbangga diri? Masihkah kita merasa mampu mengatasi semua masalah? Sudahkah kita membersihkan jiwa kita?

Ujian adalah tahapan yang harus dilalui orang yang beriman. Karena lewat ujian;
– ilmu dan hikmah diturunkan
– tambahnya keimanan
-ditinggikan kedudukan hamba.

Dengan iman dan ilmu seseorang akan bisa melalui ujian itu. Karena dengan iman dan keyakinan itulah Allah akan menurunkan ilmu serta ketenangan dan ketenteraman ke dalam hati orang orang yang beriman dengan terus menambahkan iman dan keyakinan, insyaAllah satu persatu masalah masalah itu akan teratasi dengan berjalannya waktu.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
( Al Fath :4)

Mengatasi ujian dengan iman akan menumbuhkan : selalu bergantung hanya pada Nya, tidak mudah putus asa dan berkeluh kesah, kembali (rujuk) kepada Nya, serta selalu ingat Allah.
Dengan ilmu dan iman tadi, seseorang akan tegar menjalani dan mengahadapi segala pernak pernik kehidupan, analoginya seperti air laut yang tenang meski dihantam badai dan gelombang, dengan berbekal ilmu yang sudah difahami akan mebuahkan : melakukan penyerahan pada Allah Swt, ridho atas segala kehendakNya. Karena yakin seyakin yakinnya bahwa apa yang menimpanya merupakan ketetapan yang baik yang diberikan untuknya dari Allah Swt yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui meskipun itu pahit tapi akan berbuah manis pada akhirnya, insyaAllah

5. Hikmah disebalik masalah.

Kita sudah memahami bahwa ujian dan cobaan diturunkan untuk menguji keimanan. Alihkan sudut pandang kita yang sebelumnya mempunyai anggapan bahwa ujian dan cobaan adalah momok yang “menakutkan” berganti dengan keyakinan bahwa ujian dan cobaan adalah sebuah peluang dan kesempatan emas yang diberikan oleh Allah kepada kita agar kita bisa masuk ke dalam golongan orang orang yang beriman. Yaitu orang yang dikhususkanNya untuk nantinya bisa merasai surgaNya.

Setelah kita menamkan dan membangun paradigma diatas, maka lanjutkan dengan memahami bahwa yang mampu mengatasi ujian dan cobaan adalah Allah itu sendiri.

Mengapa? Karena Dia yang menurunkan ujian maka Dia pula yang lebih Maha Mengetahui detailnya, seluk beluknya dan cara mengatasinya. Dia yang menurunkan sakit maka Dia pula yang mengobatinya. Mengapa demikian?
Karena segala sesuatu bergantung kepadaNya.

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
(Al Ikhlas :2)

Fahami betul, bahwa kita akan merasakan tiada daya upaya dari diri kita sendiri. Kita begitu lemah, kita begitu hina, kita begitu tidak berdaya di hadapanNya.

Kalau mampu memasuki “pintu lemah tiada daya”, simpul simpul ujian dan cobaan mulai terurai.

Karena apa? Agar kita bersimpuh penuh air mata dan bergantung total hanya kepadaNya. Tuhan tidak bisa diduakan. Tuhan tidak bisa dikesampingkan. Ingat hanya mengingatNya hati menjadi tenteram…

Apa tujuan Allah menurunkan ujian? Tidak lain dan tidak bukan agar kita mau BELAJAR dari segala kejadian yang berlaku. Karena dibalik semua ujian dan cobaan ada ILMU. Ilmu inilah yang membedakan kita dengan ciptaan yang lain, dengan ilmu inilah Allah mengangkat derajat kita menuju yang lebih tinggi dan kita insyaAllah akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana yang memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan manusia. Kita menjadi lebih arif dan tenteram.

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا ۚ لَا يَسْتَوُونَ

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.
(Sajdah :18)

Maksud dan tujuan lain Allah menurunkan ujian adalah agar kita bisa menyaksikan pertolongan Tuhan.

Bagaimana mungkin datang sebuah pertolongan kalau tidak ada ujian dan cobaan?
Dengan menyaksikan langsung pertolonganNya keyakinan kita terhadapNya akan melesat sangat tinggi. Tiada lagi ketakutan. Tida lagi kekhawatiran.

Mengapa demikian? Karena kita bersanding dengan Sang Maha Penolong. Yang selalu siap mendampingi dan menolong kita dimanapun dan bagaimanapun keadaan kita.

Sadari sedalam dalamnya, yakini sekuat kuatnya pertolonganNya sangatlah dekat.

Fahami betul pertolongan datang bersamaan dengan ujian dan cobaan. Kita tidak akan dibiarkan. Kita akan senatiasa dijaga, dilindungi dan dicukupi.
Jika kita sudah memahami hakikat ujian, masihkah kita meyakini bahwa ujian itu tidak perlu ada?

 

 

catatan kaki:

[1] ( lihat http:// en.wikipedia.org/wiki/ Arab Spring).

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

4 Responses

  1. Abdul Choliq says:

    Subhanallah terimakasih ringkasanya sangat membantu pemahaman,…materi zarahan

  2. Saiful Mahdi says:

    ALHAMDULILLAH

  3. hisyam says:

    Makasih bang yus,atas sarahan…
    Kalau lewat video sarahan kdng kurang faham.
    Mohon doanya buat teman saya mas andi sulistyo yg lagi dpt ujian sakit batu ginjal.lewat dialah saya mengenal yamas.salam hangat dari kota lumpia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *