MEMAHAMI MAKRIFATULLAH DASAR (2)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Oleh: Taufiqurrahman, S.Pd.I, M.Sy (Al-Hafidz)

 

LAUHUL MAHFUDZ (MEMAHAMI SISTEM ILAHI )

Tulisan ini merupakan lanjutan dari ringkasan makrifatullah dasar, bagian pertama. Kajian lebih lengkap bisa diikuti pada link SILABUS KAJIAN.

Telah bersama kita pahami pada kajian sebelumnya bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan ciptaan terangkum di dalam LAUH MAHFUDZ. Dan Lauh Mahfudz ini telah ada sejak KUN. Dan apa saja yang berlaku di dalam Lauh Mahfudz ini sejatinya telah tertulis dari sejak KUN, dan berjalan sesuai dengan ketetapan yang telah tertulis itu, hingga akhir, tanpa ada sedikitpun perubahan. Sistem inilah yang diistilahkan atau dibahasakan dengan “Sistem Ilahi.”

Tujuan mengenal pembahasan sistem Ilahi ini adalah agar kita memahami bagaimana Allah mengatur apa saja yang sudah berlaku baik masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Semua bahasan disarikan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits dan sinopsis dari syarahan Lauh Mahfudz, oleh Arifbillah Ustadz Hussein bin Abdul Latif.

Jika seseorang belum mengenal sistem Ilahi, maka orang tersebut akan selalu bergejolak di dalam hatinya dan selalu protes pada Tuhan. Kenapa ini terjadi, kenapa itu terjadi?

Kita bahas satu persatu agar memudahkan kita memahami Sistem Ilahi, bagaimana Allah mengatur ciptaanNya di dalam Lauh Mahfudz.

1). DzatNya Wajibul wujud.

Wajibul wujud, secara sederhana diartikan “Wujud yang wajib ada”. Artinya : DzatNya yang sedikit menjadi unsur dari semua ciptaan termasuk ruang dan masa. Ini berati adanya semua ciptaan termasuk ruang dan masa membutuhkan DzatNya, karena kalau DzatNya tidak ada maka semua ciptaan tidak mungkin ada, analoginya ; untuk bisa menjadi es batu dia membutuhkan adanya air sebagai unsurnya. Sehingga kita bisa simpulkan bahwa DzatNya adalah wujud yang wajib ada (wajibul wujud) sebelum segala sesuatu ciptaan meng-ada, dan ini juga berarti wujud ciptaan adalah wujud yang mungkin (mungkinul wujud).

2). DzatNya yang Awal, Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadid : 3)

Dari ayat ini jelaslah bahwa kewujudan DzatNya adalah Awal dari adanya / kewujudannya semua ciptaan.
– karena semua ciptaan terzahir dari DzatNya, Maka Dia lah yang Awal.
– semua ciptaan berasal dari DzatNya, maka apabila semua ciptaan binasa dan kembali ke asalnya yaitu DzatNya, Maka DzatNya lah yang Akhir.
– semua ciptaan tercipta / terzahir dari DzatNya. Maka semua ciptaan adalah penzahiran DzatNya. Seperti es batu adalah penzahiran dari air. Maka DzatNya lah yang Zahir
– apabila DzatNya terzahir maka tersembunyilah DzatNya dibalik “rupa yang terzahir” atau penzahiranNya.

DzatNya tersembunyi di balik rupa yang terzahir atau penzahiranNya maka kita sebut kondisi dimana DzatNya bersembunyi di sebalik apa yang terzahir ini sebagai “Yang Bathin”, namun tiada berpisah antara DzatNya dengan penzahiranNya, sebagaimana tiada terpisah antara air dengan es batu.

Dan perlu kita catat bahwa kita tidak akan mungkin melihat DzatNya pada keadaan aslinya, yang kita bisa lihat adalah penzahirannya saja. Siapapun yang yang terlihat DzatNya dalam keadaan asliNya pasti binasa.

3). DzatNya ada di mana- mana

Karena DzatNya adalah unsur yang wajib ada untuk adanya / kewujudan semua ciptaan termasuk ruang dan masa, maka dimana ada ciptaan termasuk ruang dan masa di situ ada DzatNya.

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah (Dzat) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Al Baqoroh : 115)

4. DzatNya (yang sedikit) meliputi segala sesuatu

Jika kita gunakan permisalan air dengan es batu, kita paham bahwa es batu tidaklah terpisah dengan air, es batu adalah air yang berubah wujud. Dan bisa pula kita katakan bahwa sesungguhnya air meliputi keseluruhan es batu. Maka dengan logika ini kita mengerti bahwa DzatNya ( yang sedikit) meliputi semua ciptaan.
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. ( An Nisa’ : 126)

5. DzatNya ( yang sedikit) ada bersama anda.

Bahkan diri kita sendiri, adalah juga ciptaan, dan seperti segala ciptaan lainnya, kita juga berasal dari DzatNya yang sedikit di dalam Lauh Mahfudz. Maka DzatNya tentu selalu bersama kita.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
( Qaaf : 16)

6. Allah Maha Besar, Maha Luas dan Maha Tinggi

Sekiranya semua ciptaan termasuk ruang dan masa di jadikan satu adalah lebih kecil dari sebutir pasir di antara lautan pasir bila dibandingkan dengan Dzat yang diluar Lauh Mahfudz, Dzat yang Maha Indah. Maka sudah tentu Allah Swt Maha Besar, Maha Luas dan Maha Tinggi.

Allah Maha Besar dan Maha Tinggi

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Mukmin : 12)

Allah Maha Luas

وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;( Ali Imron : 74)

7. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengawasi dan Maha Mengetahui

Jika DzatNya tidak terpisah dari semua ciptaan tersebab kewujudan semua ciptaan berasal dari DzatNya maka sudah tentu dimana ciptaan ada di situ ada DzatNya. Dengan ini kita bisa pahami bahwa :
– Allah Maha Mendengar
– Allah Maha Mengawasi
– Allah Maha Melihat
– Allah Maha Mengetahui apa yang berlaku kepada semua ciptaanNya.

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
( Al Mukmin : 56)

Allah Maha Mengetahui

وَإِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ ۚ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.( AlHijr : 25)

Allah Maha Mengawasi segala sesuatu

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
( Al Mujadila :7)

Apabila anda sudah mengenal disebalik setiap ciptaan di dalam Lauh Mahfudz termasuk ruang dan masa adalah berasal dari sedikit DzatNya; Dengan ini meski kedua mata anda melihat kepada semua ciptaan yang ada di hadapan anda. Namun matahati anda tetap “melihat” DzatNya disebalik ciptaan itu.

Maka anda sudah bermakrifatullah yaitu anda sudah mengenal Allah dimanapun anda memandang matahati anda tidak tertutup dari “melihat” kewujudan DzatNya yang sedikit disebalik semua ciptaan.[1]
Setelah memahami semua fakta di atas, masihkah kita merasa wujud?

 

 

catatan kaki:

[1] Makna melihat disini adalah makna majazi, artinya adalah pengelihatan dengan keyakinan yang penuh sebab kepahaman yang dilandasi ilmu yang benar. Adapun melihat secara fisik atau melihat dalam artian yang sebenarnya tidaklah mungkin, karena siapapun terpandang Dzat dalam kedudukanNya yang tiada umpama itu; akan binasa.

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

1 Response

  1. Semoga ilmu makrifatullah Allah anugrahkan kepada kita semua. Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *