RANGKUMAN PERTEMUAN YAMAS CABANG JAKARTA (4 Agustus 2018)

Sabtu 4 Agustus 2018. Atas izin Allah SWT, alhamdulillah YAMAS-Indonesia Cabang Jakarta mengadakan pertemuan yang bertempat di Pejaten Jakarta Selatan. Pertemuan dihadiri sekitar 30an orang. Dari area Jakarta dan sekitarnya, bahkan dari Cilegon dan Cianjur. Dimulai dari pukul sepuluh pagi hari hingga jelang waktu Ashar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum YAMAS-Indonesia, Agus Tiyono yang menyampaikan materi tentang pembersihan minda.

Disampaikan kepada peserta agar melazimkan praktik pembersihan minda sebagaimana yang telah diajarkan dalam seminar-seminar, yaitu dengan membaca dalam hati / menggunakan minda, surat al Ikhlas, Falaq, dan An Nas serta Al Fatihah agar dapat membersihkan minda dari sampah-sampah fikiran, dan memudahkan zikrullah.

Selain itu, kembali disampaikan mengenai tujuan dari YAMAS-Indonesia yaitu lembaga yang berfokus dalam upaya membantu dakwah Ustadz Hussien untuk menyampaikan tasawuf / ilmu makrifatullah Jalan Nabi-nabi, dengan konsep dzatiyah. YAMAS-Indonesia tidak merambah pada agenda lain selain daripada dakwah makrifatullah ini.

Acara dilanjutkan dengan bincang-bincang yang dipandu oleh pak Yusdeka Putra. Materi yang disampaikan antara lain mengenai zikrullah.

Disampaikan oleh beliau bahwa Ust. Hussien telah menyampaikan satu kunci pada kita semua, bahwa sebelum ada segala sesuatu, hanya Allah SWT yang ada.

Pemahaman mengenai ini dapat mempermudah zikrullah. Saat mengingati Allah, tidak ada apa-apa dalam fikiran kita, selain dari ingatan Allah. Tak ada rupa, tak ada umpama.

Saat kita berzikir, kita jangan lagi memikirkan konsep-konsep keilmuan. Jangan lagi berfikir tentang diri yang sedikit, tentang diri keseluruhan dan semacamnya. Ingat Allah saja, dan jangan buat yang lain.

Adapun konsep-konsep keilmuan, pemahaman mengenai diri yang sedikit, sifat-hakikat-makrifat dan semacamnya adalah ILMU yang menjelaskan perkara ketuhanan dan mencegah kita dari terseleweng pada kepahaman yang keliru semisal Wahdatul Wujud, Nur Muhammad dan semacamnya.

Ilmu-ilmu makrifatullah yang telah diajarkan Ust. Hussien, itu menjaga kita dalam hidup keseharian, dari akidah-akidah menyimpang. Akan tetapi saat kita berzikir, kita ingat Allah saja, tak ada umpama, dan jangan sibuk memikirkan teori-teori keilmuan.

Zikrullah dalam makna sebenarnya, yaitu “ingat Allah” inilah kunci yang dicari oleh banyak orang yang menekuni spiritualitas, akan tetapi karena tidak mendapatkan kunci mengenai “ingat” pada Allah, maka banyak orang yang keliru dan malah mengingat hal-hal selain Allah, semisal nafas, atau lathaif, atau wajah guru mereka.

Perbincangan dilanjutkan dengan bahasan mengenai tahapan-tahapan pembelajaran. Ustadz Hussien telah memberikan banyak sekali teori keilmuan dari yang tingkat dasar hingga menengah dan tingkat lanjutan. Para pembelajar tasawuf dzatiyah diharapkan untuk bisa mempraktikkan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Saling bantu membantu dan menjelaskan kepada rekan-rekan yang baru bergabung agar mengerti tahapan tahapan dan tangga mana dia berada.

Syarahan dasar wajib dipahami terlebih dahulu. Begitupun praktik pembersihan minda. Latihan yang rutin sangat diperlukan, sampai kita mengenali benar piranti-piranti diri kita. Mengenali mana yang dimaksud minda, mana yang dimaksud mata minda, seperti apa “mengingat” itu. Setelah memahami itu, kita melanjutkan dengan tekun Praktik zikrullah. Baru berlanjut pada bagian-bagian berikutnya dalam keilmuan ini yaitu keridhoan dst…… Sampai pada bagian yang terbaru sekarang ini yaitu kajian mengenai KEPEKAAN.

Dengan mengenali tahapan tahapan ini, dan secara jujur menilai diri kita sendiri sudah pada tahap yang mana, kita diharapkan dapat melakukan amaliyah atau adab yang sesuai dengan kondisi kita.

Disampaikan sebagai contoh, mengenai Do’a. Ramai di kalangan sahabat YAMAS yang masih bingung apakah sebaiknya berdo’a atau tidak berdo’a? Hal ini terjadi karena tidak memahami mengenai tahapan-tahapan tersebut.

Padahal Ustadz Hussien mencontohkan kedua-duanya.

Suatu ketika Ustadz menyampaikan contoh dimana Ustadz berdoa pada Allah dengan tawaf memutari gedung kantor sambil memohon agar Allah memberikan kemudahan Rizki untuk membayar gaji karyawan firma beliau. Di kali lainnya, ustadz Hussien tidak berdoa, saat seorang sahabat bertanya pada beliau, mengapa ustadz tidak mendoakan diri sendiri agar sembuh dan tak perlu pakai kacamata? Jawaban ustadz, ustadz ridho dengan kondisi yang ada.

Begitu juga saat jadwal pengajian di Singapura dihentikan karena tidak mendapatkan izin, ustadz juga berkata bahwa ustadz ridho dengan apa yang ada, dan tidak berdoa.

Kedua-duanya dicontohkan, tinggal kita menilai diri sendiri, pada posisi mana kita sekarang berada. Apabila hati gelisah, maka mohonlah pertolongan pada Allah lewat do’a sebagaimana yang telah ustadz ajarkan. Apabila hati lapang dan tidak berkocak saat ada ujian, maka teruskan ingat Allah dan duduk dalam keridhoan tidak meminta-minta.

Pada penghujung acara. Sahry Ramadhan selaku ketua YAMAS-Indonesia cabang Jakarta, menyampaikan pesan Ustadz Hussien pada jamaah, mengenai KEPEKAAN.

Adalah tugas kita, untuk sentiasa bersikap kasih sayang, jujur, dan bersatu hati menjalankan peranan menjaga agama Allah. KEPEKAAN merupakan anugerah yang Allah berikan di zaman kita, sebagaimana sabda RAsulullah SAW, bahwa apabila Allah SWT menyayangi seseorang, maka akan diajarkanNya suatu ilmu kepada orang itu, sehingga tidak ada lagi kejahilan pada orang tersebut.

Tanya-Jawab dan testimoni dari peserta selepas zuhur, sangat bermanfaat. Mayoritas peserta menyampaikan testimoninya akan pencarian ilmu tasawuf yang mereka lalui. Beberapa peserta menyatakan sudah mengikuti tarekat selama sekian lama, dan beberapa diantaranya mengikuti kajian spiritualitas lainnya baik yang berbau islami atau berbau budaya lokal. Hingga akhirnya takdir menghantarkan mereka sampai pada kajian Ustadz Hussien dan merasa menemukan apa yang mereka cari di sini.

Benang merah yang dapat ditarik dari perjalanan para peserta, yaitu ujian menghantarkan mereka untuk sampai pada pengenalan kepada Allah SWT.

Hal ini berkaitan dengan pertanyaan seorang peserta, Hary Al Anshory. Yang bertanya bagaimana caranya supaya bisa ingat Allah sampai sehasta atau sedepa seperti yang dimaksud dalam sebuah hadits?

Agus Tiyono, ketua Umum YAMAS-Indonesia menjawab, dengan menjelaskan bahwa sehasta atau sedepa ingatan kita kepada Allah umumnya dihantarkan melalui ujian. Saat kita tidak ada tempat bergantung lain selain daripada Allah SWT, disanalah kita akan bisa “naik” sampai sehasta atau sedepa.

Akan tetapi, yang pokok kita lakukan adalah sentiasa melazimkan zikrullah sampai ingatan Allah memenuhi hati kita, lalu belajar berdiam diri di dalam base camp, seperti istilah yang disampaikan ustadz Hussien. Dan ridho.

Perjalanan selepas basecamp adalah “murni” tarikan ilahi.

Acara ditutup dengan mengenalkan peserta pada salah satu Nazam Makrifat, yang dibaca bersama-sama untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

3 Responses

  1. ami candra gunawan says:

    ALHAMDULILLAH…

  2. Nuraminah says:

    Syukran jazilan

  3. Mohd jelani ishak says:

    Terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *