Q&A: AGAR TAK TERJATUH PADA PAHAM WAHDATUL WUJUD

3/18/17, 5:51 AM – Rio : Ustadz… Kalau seseorang mengenali Allah dengan memandang sifat JAMAL-Nya. Tetapi tidak sampai memandang DIA sebagai DIA saja, tanpa bersifat-sifat….apakah orang tersebut masih dianggap menyembah persepsinya sendiri ustadz?

3/18/17, 6:05 AM – Ustadz Hussien Abd Latiff: Rio sahabatku, kita tidak menyembah dengan memandang tetapi dengan ingatan kerana ini yg disuruh oleh Allah swt yg berfirman bahawa hendaklah kita dirikan shalat untuk mengingatiNya; lepas shalat ingat Dia semasa duduk, baring & berdiri dan jangan lalai dari jual beli dari mengingatiNya.

Bila dikatakan JamalNya atau JalalNya, kita bukan merujuk pada sifatNya tetapi kepada rasa yg kita alami semasa memperolehi ilmu.makrifat ini.

3/18/17, 6:08 AM – Rio : Ooohhhh itu dia. Kita tidak pandang sifat…. Kita merasakan jamalNya. Yang diingat DIA.

Sungguh benar ustadz. πŸ˜πŸ™πŸΌ

3/18/17, 6:09 AM – Rio : Beda antara merasakan JAMAL-Nya, dan memandang (fokus) pada JamalNya.

Yang dipandang tetap tiada umpama. Terimakasih ustadz πŸ˜€πŸ™πŸΌ

3/18/17, 6:10 AM – Ibu Elsy: πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’―πŸ’πŸ’πŸ’

3/18/17, 6:12 AM – Rio : Ustadz….orang yang menyembah dewa dewa, adakah karena mereka keliru menganggap sifat-sifat Tuhan sebagai Tuhan itu sendiri ustadz ?

3/18/17, 6:20 AM – Ustadz Hussien Abd Latiff: Yang menyembah dewa-dewa terutama adalah agama *****.

Tahu tak Tasawuf ***** bersandah kpd WW (Wahdatul Wujud) satu pada yg ramai, ramai pada yg satu, maksudnya satu itu Tuhan, ramai itu sifat-sifatnya. Maka bagi mereka sifat-sifat itu juga Tuhan.

3/18/17, 6:24 AM – Rio : Ini bedanya islam dengan agama lain ya ustadz, kita tahu sifatNya bukan yang disembah. Maturnuwun ustadz πŸ™πŸΌπŸ˜Š

3/18/17, 6:29 AM – Syofian Husin: Mohon nimbrung,

Ada sedikit cerita. Disebuah kota, ada seorang saudagar kaya raya, dan darmawan. Disetiap sudut kota itu terpampang nama saudagar itu. Beribu ribu orang2 kenal nama itu, tapi nama itu tak dapat memberi sedikitpun apa yg mereka minta. Namun ada seorang yg tak kenal nama saudagar itu, tapi dia datang dan tatap muka dan dia minta tolong. Tanpa ini dan itu, dia lalu diberi…. Oleh yg punya nama besar itu. Tapi yg kenal nama, tak tau dg yg punya nama, tak dapat apa2. Kira2 banyak yg kenal Allah, tapi lupa dg yg punya nama Allah itu…… Maka sampai tuapun ya hanya tau Allah, tapi tak ingat siapa Allah…. Demikian soalan yg saya kira…. Maaf ini sebagai diskusi tambahan sahaja, dan perkiraan pribadi saya.

3/18/17, 6:38 AM – Yusdeka Putra: Wah betul sekali pak Ustadz. Merasakan daya-Nya, yang kata pengamalnya, bisa dirasakan melalui merasakan daya yang menggerakkan keluar masuk nafas, itu jelas sekali mengikuti pahaman Wahdatul Wujud. Dulu saya melakukannya juga Pak Ustadz. Alhamdulillah, ilmu makrifatullah memang sangat penting untuk dimilili sebelum kita melalukan amalan dan ibadah.

3/18/17, 6:43 AM – Rio : Yang berinteraksi, DzatNya yg sedikit di dalam LM [Lauh Mahfudz] itu.

Jadi apa jua yang kita bisa rasa, dan sentuh, teliti, adalah dalam LM itu. Dan pasti itu juga ciptaan. Sebagaimana sifat2 terta’luq pada ilmu. Dan ilmu pun ada dalam LM.

Kita tak sembah atau pandang pada sifatNya. Kalau kita tuju pada sifatNya ini menjadi syirik.

Jadi kita sembah DIA, tiada umpama.

Tetapi kita bisa rasakan natijah JAMAL-Nya. Bukan merasakan DIA.

Allah tak bisa disentuh.

Ini ilmu dari ustadz membedakan “very fine line” itu.

Banyak orang kira mereka bisa merasakan Allah. Padahal yg dirasakan atau disentuh itu DzatNya yg sedikit yg sudah bersifat, di dalam LM.

Very fine line yg tanpa ilmu kita pasti akan tersilap, ya ustadz?

Makasih banyak ustadz πŸ™πŸΌ

3/18/17, 6:44 AM – Winanto: Terimakasih Ustadz, penjelasan Ustadz membuat kita khususnya saya lebih berhati-hati jangan sampai salah dalam menyembah Allah…. sekali lagi terimakasih Ustadz….

3/18/17, 6:45 AM – Ustadz Hussien Abd Latiff: Bagus ceritanya pak sofyan mengandungi maksud yg mendalam. Mujib hantar satu botol jus durian pada pak sofyan.

3/18/17, 6:46 AM – Syofian Husin: Dah… Tetimah Ayah jus duriannya… ??πŸ™‚

3/18/17, 7:05 AM – Ustadz Hussien Abd Latiff: Rio, benar di antara WW [Wahdatul Wujud] dengan kita amat tipis (very fine line).

Kalau tidak dibimbing bisa aje masuk dalam WW[Wahdatul Wujud] .

Contoh:

Seseorang itu sedang memikirkan tentang ketuhanan bila dia tersedar bahawa kalau Allah swt yg Ghaib juga Maha Melihat ini bererti sekarang ini Dia sedang memandangku walaupun aku tidak dapat melihatNya. Maka bergegarlah dia sambil menangis tiada tertahan.

Maka natijah dari ini dia merasakan bahawa disebalik semua ini ada Allah swt yg sedang memerhatinya maka bertambah bergoncanglah dia. Dengan ini, dia udah memaut fahaman WW.

Dia harus dibimbing untuk difahami bahawa disebalik semua ini adalah yg Maha Halus lagi meliputi iaitu DzatNya bukan Allah swt yg Maha Besar. Juga tidak akan muat jika dia mahu menempatkan Allah swt dalam LMΒ [Lauh Mahfudz] . Allah swt juga tidak bertempat.

3/18/17, 7:07 AM – Abdul Choliq : Subhanallah,…

 

3/18/17, 7:31 AM – Rio : Terimakasih banyak ustadz πŸ™πŸΌ

3/19/17, 9:30 AM – Yusdeka Putra: Anak: Ayah, perbedaan antara WW dengan kita, anak lihat memang begitu tipisnya ya Ayah. Tapi sangat prinsipil sekali.

Seseorang akan sangat mudah sekali berada dalam pahaman WW ini ketika orang tersebut ingin langsung mengenalkan Allah hanya melalui pintu ayat-ayat Al Quran sebagai berikut: Allah Maha Melihat (kadangkala disebut mereka juga dengan Allah Maha Menatap), Allah Maha Dekat (kadangkala mereka tegaskan lagi bahwa Allah lebih dekat dari urat nyawa mereka), dan Allah Maha Berkuasa (yang kadang mereka tegaskan lagi dengan Allah Maha Menggenggam).

Dengan berbagai teknik afirmasi yang dapat membangkitkan rasa dan emosi, dan dengan alasan bahwa kita dalam beribadah adalah menghadap Allah Yang Hidup (bukan benda mati seperti tembok), maka akhirnya banyak pesertanya yang seakan bisa merasakan adanya daya dan kekuatan yang mereka asosiasikan itu respons atau balasan Allah terhadap apa yang mereka lakukan.

Mereka katanya bisa merasakan adanya Af’al Allah. Ada juga mereka yang merasa sedang dilihat Langsung oleh Allah, merasa Allah sangat Dekat dengan mereka. Sehingga merekapun menangis meraung-raung dan tubuh bergetar-getar.

Akan tetapi, tanpa pengenalan tentang Dzat yang sedikit terlebih dahulu, hampir dapat dipastikan bahwa orang akan sangat mudah untuk jatuh pada pahaman WW. Benarkah begitu ayah?.

3/19/17, 12:44 PM – Ustadz Hussien Abd Latiff: Benar pak Deka. Kerana gentingnya perkara ini maka saya dijemput berjumpa Rasulullah saw dan membawa turun ilmu ini.

3/19/17, 12:45 PM – Yusdeka Putra: Alhamdulillah Pak ustadz.


Catatan:

Artikel tanya jawab ini diperuntukkan bagi yang sudah memahami kajian Makrifatullah. Apabila ada diantara pembaca yang belum memahami, harap terlebih dahulu membaca SILABUS KAJIAN dan mengikuti dengan runut pembahasan satu per satu sejak awal.

Artikel terkait:

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

4 Responses

  1. Rusdika Kilimanjaro says:

    Subhanallah, very clear.

    Semoga selalu diberi kepahaman.

  2. Zaky says:

    Salam ustaz, semoga dalam keadaan sihat walafiat dan dipanjangkan umur.

    “Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya”

    Petikan diatas diambil dari buku terjemahan Sirr Al-Asrar tulisan Syeikh Abdul Qadir Jailani yang saya baca beberapa hati yang lepas. Menurut pemahaman saya tentang maksudnya yang lebih mengarah kepada iktiqad wahdatulwujud. Mohon nasihat dari ustaz tentang ini, juga panduan dan nasihat lain yang terdapat didalam buku ini. Wassalam..

    • YAMAS says:

      πŸ™πŸ™πŸ™rujukan nota ustaz yg lepas

      Rujukan kpd Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah dari bukunya “Futuh Ghaib” (Pembukaan pada yang Ghaib). Buku ini adalah Etika untuk ahli sufi.
      Tarikat Qadariyah timbul setelah dia wafat. Dari pengajian kami Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tidak berguru dia dapat ilmunya secara laduni. Semasa menerima pembukaan ilmu ini dia dalam keadaan kefanakan dan apabila sedar dia berada 40 batu jauh. Namun ada yg cuba mahu mengaitkan dia dengan seseorang penjual kopi sebagai Gurunya. Ini tidak benar.
      Juga diingatkan buku pertama yg ditulisnya adalah “Sirrul Asrar” yg menyentuh berkenaan “Nur Muhammad” namun buku-bukunya yang mutakkhir terutama Futuh Ghaib langsung tidak menyentuh fahaman ini lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *