PANDANGAN AHLI SUFI KENAPA ADA CORONA VIRUS

Kuliah “Ahli Sufi” Ke- 2

PANDANGAN AHLI SUFI KENAPA ADA CORONA VIRUS

Oleh Ustadz Hj. Hussien Bin Abdul Latiff

( Sabtu, 11 April 2020)

A. Pengantar

Seluruh dunia Islam mencari tahu, mengapa Allah menurunkan corona virus ? Ada yang berpendapat harus perbanyak amal, perbanyak sedekah, perbanyak membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya agar mengurangi bala’ yang sedang turun ini.

Akan tetapi, bagaimanapun semuanya itu dilakukan, corona virus masih turun, bahkan semakin hebat. Diketahui bahwa sampai saat ini, sudah mencapai puluhan ribu korban, baik di negara-negara Eropa maupun di negara-negara Islam. Bahkan termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ditutup, sehingga tidak bisa umrah bahkan mungkin juga nanti haji tidak bisa. Mungkin juga tarawih di bulan Ramadhan tidak ada lagi. Seperti Allah SWT tidak mau lagi terima ibadah kita?

Mengapa seperti ini, sedangkan Allah SWT berjanji tidak akan turunkan bala kepada Ummat Nabi Muhammad SAW sebagaimana diturunkan pada ummat terdahulu? Selagi ada Nabi Muhammad SAW, dan selagi ada yang meminta ampunan. Mengapa masih juga turun?

 وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

 Artinya: Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. (Surat Al-Anfal, Ayat 33)

Ekonomi habis, orang tidak bisa bekerja, majikan tutup perniagaan, kantor dan mall semua tutup. Ekonomi berimbas. Kebingungan bagi kaum kafir adalah mencari obat dari penyakit ini. Kebingungan dalam dunia Islam adalah kebingungan, bagaimana bermohon kepada Allah untuk menghilangkan virus ini dari dunia. Mengapa semua ini terjadi? Jawabannya adalah Karena kita buta.

Lihatlah Islamophobia di mana-mana. Orang-orang membenci Tuhan kita. Lewat corona, diperlihatkan kepada kita bahwa ini adalah tanda-tanda bahwa Tuhan bisa saja menggantikan kita dengan kaum yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka. Sebagaimana Firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

 Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (QS. Al Maidah: 54)

Dalam satu tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa yang disebut “murtad” adalah yang tidak bangun (bangkit) dalam membantu agama Allah.[1]

Sekarang banyak umat Islam ta’ashub (fanatisme buta) kepada mazhab. Islam berperang antar golongan. Islam radikal di mana-mana (ISIS), sedangkan ulama syariah tidak mengutuk perbuatan seperti itu. Pendiaman (silent majority) seperti itu, dapat ditafsirkan orang di luar Islam sebagai “persekongkolan” karena mendiamkan tindak kekerasan. Sehingga semakin menimbulkan islamohphobia.[2] Orang membenci Islam dan orang membenci Allah SWT. Agama Islam dibenci seluruh dunia, Allah SWT tercitrakan sebagai Tuhan yang bengis yang suka mendhalimi dan menganiaya hamba-Nya.

B. Pandangan Ahli Sufi Kenapa ada Corona Virus

Bagaimana pandangan Ahli Sufi kenapa ada corona virus? Pelajaran bagi kita adalah, Mengapa ummat tidak bangkit dan membetulkan kekeliruan pandangan ini (Agama Islam dibenci seluruh dunia, Allah SWT tercitrakan sebagai Tuhan yang bengis yang suka mendhalimi dan menganiaya hamba-Nya)?

Tidakkah ada sabda Rasullullah SAW?

Hai Anak Muda jagalah agama Allah, Niscaya Allah menjagamu. Jagailah agama Allah nescaya engkau mendapatkan pertolongan Allah.[3] 

Tidakkah ada hadits bahwa dengan satu kasih sayang Allah SWT, seluruh dunia bisa berkasih sayang?.[4] Tidakkah ada juga hadits, jika orang kafir tahu dengan Rahmat Allah, maka tidak satupun akan putus asa untuk masuk syurga?. Akan tetapi dakwah orang-orang adalah dengan “neraka… neraka”. Orang-orang tidak mengedepankan rahmat Allah SWT.

Dalam suatu sirah diceritakan bahwa Rasulullah SAW marah kepada ummatnya, karena mereka melukai beliau dalam peperangan. Akan tetapi, Rasulullah SAW ditegur oleh Allah SWT bahwa itu bukan urusan beliau (tetap ada rahmat Allah pada orang-orang tersebut).[5]

RahmatNya mendahului kemurkaanNya.[6] Itu sebabnya seorang pelacur yang memberi minum anjing, diampunkan dosanya dan masuk syurga.[7] Pembunuh yang membunuh 100 orang dalam perjalanan taubat, diampunkan dosanya.[8] Begitu besar rahmat Allah SWT.

Sedangkan kita selalu mengedepankan dakwah “neraka…neraka”. Seolah-olah kitalah Bosnya. Bukan kita yang memutuskan, karena Allah SWT yang memutuskan (DIA bosnya). Tidak seseorang masuk syurga karena amal, melainkan karena Rahmat-Nya. Sabda Rasullullah SAW:

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Jangan kita mendahului Allah SWT dengan mengatakan orang lain pasti masuk neraka, mengatakan orang kafir masuk neraka semua. Karena dengan begitu kita mendahului Allah SWT, sedangkan kita tidak memiliki rahmat seluas Allah SWT.

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

Artinya : Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang. (Surat An-Nur, Ayat 20).

Hal seperti ini membuat orang kafir menjadi geram, karena men-judge mereka. Inilah yang membuat citra Allah SWT menjadi bengis. Hendaklah kita muhasabah (intropeksi) akan kekhilafan kita yang membuat orang membenci agama kita dan Tuhan kita. Inilah hal-hal yang harus kita perbuat:

1. Hendaklah kita perbetulkan dakwah kita.

Dakwah yang ada sekarang adalah dakwah mazhab. Dakwah Islam di luarnya, tetapi di dalamnya adalah dakwah mazhab. Adakah nabi-nabi mengajarkan mazhab? Allah SWT menurunkan 124 ribu Nabi-nabi dan Rasul diantar.Tujuan Allah SWT mengutus Nabi dan Rasul adalah mengenalkan Allah SWT pada ummatNya, dengan menyembah Tuhan yang Satu yaitu Allah SWT.[9]Awaluddin Makrifatullah.[10]

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

Artinya :Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl (16) : 36)

مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya :Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.(QS Ali Imran (3) : 67)

Inilah dakwah setiap Nabi, yaitu mengenalkan ummah kepada Allah SWT, menyembah Tuhan Yang Satu.[11] Imam Ghazali mengatakan, wajib kita mengenal siapa yang kita sembah. Jadi siapakah sebenarnya ulama penerus Nabi? Warosatul Anbiya? Yaitu orang-orang yang mengikuti jejak Nabi, mengajarkan tentang Allah SWT. Itulah Ahli Sufi (mendakwahkan tentang Allah SWT).

Seorang Ahli Sufi berkata: “kamu belum termasuk golongan kita, sebelum kamu bermakrifat (mengenal Allah SWT)”. Jika kita berdakwah tentang ketuhanan, maka agama-agama lain akan mudah menerima, karena mereka juga menulis tentang ketuhanan, karena nabi-nabi mereka juga mengajar tentang ketuhanan. Saat kita berkata tentang ketuhanan, kita berbicara tentang common ground, artinya suatu hal mendasar yang ada pada semua agama, bisa kita perbincangkan dengan mereka.

Akan tetapi, jika kita berdakwah Islam sebagai sebuah lembaga, atau tatanan hukum, maka akan banyak pertentangan. Karena orang-orang merasa asing. Sebab, dahulu agama-agama itu tidak bernama.

Agama Islam diberi nama pada akhir akhir masa Rasulullah SAW dengan turunnya ayat terakhir surat Al- Maidah ayat 3[12]

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Artinya: Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS. Al Ma’idah:3)

Tetapi perkembangan sekarang, Islam disempitkan maknanya dengan mazhab.

Sikap kita, jika Salafi, Ahlus Sunnah (Syafii, Hanafi, Maliki, Hanbali, dst….), atau Syiah sekalipun, jika memiliki aqidah yang benar maka kita benarkan mereka. (Karena kita dakwah mengenai ketuhanan, bukan mengenai mazhab).

Betulkan dakwah kita dahulu, dakwahkan awaluddin makrifatullah (Ajarkan tentang ketuhanan, tentang Allah SWT, bukan tentang mazhab), jika kita ingin terhindar dari bencana.

2. Berdakwaklah melalui ilmu (Jangan gunakan pendekatan dakwah zaman dahulu pada ummat zaman sekarang).

Untuk zaman sekarang, berdakwalah melalui ilmu, jangan gunakan pendekatan dakwah zaman dahulu pada ummat zaman sekarang. Memang dalam Al Qur’an terdapat firman Allah SWT tentang Neraka dan Syurga. Akan tetapi, ada juga firman-Nya yang menyuruh untuk berhujjah kepada ummat dengan bijaksana (hikmah).

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk (Surat An-Nahl, Ayat 125).

Mengapa ada Firman-firman yang keras? karena zaman dahulu itu kerusakan merajalela.[13] Pengikut Rasulullah SAW dibunuh, dihalau (diusir),[14] orang-orang membunuh anak perempuan mereka sendiri[15] dan lain sebagainya. Sebab itu Allah SWT datang kepada mereka dengan surat-surat yang bernuansa keras, ancaman dan neraka.[16]

Akan tetapi itu adalah dakwah di takuk lama (model zaman dahulu), bukan pendekatan untuk zaman sekarang. Kita tidak bisa menggunakan dakwah kekerasan untuk zaman sekarang. Dakwah sekarang adalah IQRA’, bijaksana, dan ilmiah. [17]

Sekarang adalah zaman modern. Era internet. Pelajaran di mana-mana. Orang bisa menilai dan membandingkan apa yang kita sampaikan.

Kita harus beritahukan kepada golongan yang radikal, agar mereka berdakwah dengan bijaksana. Bukan dengan memaki, bukan dengan membunuh. Berdakwahlah dengan Iqra’, dengan ilmu. Tidak perlu berdakwah dengan pedang. Tunjukkan Tuhan kita yang pengasih penyayang. Karena rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT tidak membenci dan menganiaya hamba-Nya. Perjalanan masing-masing telah dipermudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan bagi mereka, dan rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya.

Pahamkan, bahwa kita tidak memiliki rahmat sebagaimana Allah SWT, maka tidak layak bagi kita menghakimi dan men-judge orang lain masuk neraka. Kedudukan Ahli Sufi tidak dalam posisi menetapkan, tetapi menyerahkan semua keputusan kepada Allah SWT, bahkan nasib kita sendiripun kita tidak tahu dan tidak ada jaminan. Allah SWT boleh berkata seperti itu (mengancam, menyiksa dan lain sebagainya) karena Allah SWT memiliki rahmat yang luas dan tidak pernah zalim.

3. Betulkan pemahaman para imigran Islam.

Kabarkan kepada Imigran Islam untuk dapat harmoni (berdamai) di tempat baru mereka. Beritahu kepada imigran Islam yang lari ke negara Eropa bahwa, jika Allah SWT mau menyelamatkan agama maka Allah SWT akan mengarahkan mereka untuk migrasi ke negara-negara Islam. Akan tetapi, mengapa mereka dilarikan ke negara-negara Barat? Karena Allah SWT tidak ingin para imigran Islam dibelenggu dengan pahaman-pahaman yang tidak bisa diterima (ta’ashub mazhab, pandangan radikal, dan sebagainya).

Para imigran Islam harus bersatu atau melebur (bersinergi) dengan mereka. Seumpama kita adalah tamu, tidak bisa kita bertindak dengan semau kita, melainkan kita harus menghormati adat istiadat setempat. Jika kita tidak melakukan itu, maka kita mendapatkan kesulitan bagi para imigran untuk dapat harmoni dengan orang-orang di negara yang sudah menampung mereka. Contohlah negara-negara yang harmoni antara orang-orang muslim dengan non muslim.

Dahulu orang-orang Eropa membuka pintu, akan tetapi karena ketertutupan para imigran maka mereka menutup pintu. Jika kita bisa membuka diri dan harmoni, niscaya Islam akan berkembang pesat di sana.

Kita menggalakkan (mendorong) mereka untuk belajar, mempelajari engineering, ilmu-ilmu mereka, sampai Islam diterima dengan baik, dan orang-orang tidak membenci Allah SWT.

Ada pernyataan yang dijadikan acuan bagi Ahli Sufi untuk menangkal pandangan yang tidak baik tentang Allah SWT, untuk mempertahankan bahwa Allah SWT Maha Pengasih Penyayang[18] dan tidak menzalimi siapapun[19] (Untuk menjaga marwah Allah SWT).

4. Hidup Ini Satu Sandiwara Illahi

Hidup ini senda gurauan, main-mainan, kampung akhirat baik bagimu. (Hidup ini sendagurauan bagi-Nya).[20]

Contohnya Nabi Ayub AS, diberikan sakit dan ditinggalkan keluarganya, hartanya habis, akan tetapi pada akhirnya dikembalikan semuanya.[21] Begitupun Nabi Yakub AS, semua dihilangkan, anaknya dijauhkan, lalu pada akhirnya semua dikembalikan.[22]

Mengapa seperti itu? Itulah senda gurauan illahi.[23] Stephen Hawkings juga mengatakan bahwa hidup ini adalah soap opera. Drama.

Semua hidup mengikut script mereka masing-masing,[24] dan mendapat ganjaran di kampung akhirat.[25] Dia-lah yang mengilhamkan kebaikan dan kefasikan.[26] Pahamkan orang-orang di luar Islam bahwa ini semua adalah script, masing-masing berlakon mengikut cerita masing-masing, dan Tuhan kita adalah Maha adil.[27] 

Sebagai Ahli Sufi, jika ada yang tidak menerima pandangan bahwa semua ini adalah script dan semua akan mendapat ganjaran yang baik di kampung akhirat, maka kita katakan untuk “jangan memutuskan”,[28] serahkan semua penghakiman pada Allah SWT.

إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Artinya: Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat Al-Ma’idah, Ayat 118). 

 

Tanya Jawab

Taufiqurrahman: Jika menurut Ahli Sufi, selama ini dakwah yang disampaikan Ahli Syariat hanya sebatas dakwah mazhab Ustadz?

Ust Hussien: benar, karena itulah Ahli Syariah tidak berani menyeberang sungai dan masuk kepada perkampungan kafirun untuk berdakwah. Karena akan disoal mengenai ini. Kita lihat, yang banyak berdakwah adalah orang kafir kepada perkampungan Islam. Ini yang kita sedihkan, kita inginkan Ulama Syariah bangun dan proaktif dalam perkara ini, untuk menjaga nama baik agama dan Tuhan kita.

Taufiqurrahman: berarti apakah jika Ahli Syariat tidak bangun, apakah corona akan tetap ada Ustadz?

Ust Hussien: insyaAllah akan berkurangan corona ini, dan kita mintakan agar kuliah ini disebarkan ke merata dunia supaya orang-orang menjadi sadar.

Taufiqurrahman: adakah kaitan corona ini dengan demografi di syarahan Ustadz?

Ust Hussien: dengan ini akan dipercepat kehilangan orang-orang yang tidak beriman. Tetapi bukan itu saja tujuannya. Karena yang terkena efek corona ini dua-dua orang beriman maupun tidak beriman. Tetapi dampaknya

banyak dirasakan oleh orang orang Barat, sehingga demografi lebih cepat penyebarannya. 

 

 

 

Tulisan ini merupakan transcript dari ceramah Ust. Hussien Abd. Latiff. Versi lengkap silakan lihat di laman YouTube yamas Indonesia.

[DOWNLOAD PDF VERSION]


١يقول تعالى مخبرا عن قدرته العظيمة أن من تولى عن نصرة دينه وإقامة شريعته، فإن الله يستبدل به من هو خير لها منه وأشد منعة وأقوم سبيلا

[2]Islamophobia artinya suatu sikap kebencian dan ketakutan akan semua hal yang berbau Islam.

٣عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ،

٤ ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎﺗﺴﻘﻲ،ﺇﺫﺍﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :(ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ(

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah.Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[5] (QS. An Nahl:126-128)

[6] Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)

 

٦عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

٧ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ، انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ. قَالَ قَتَادَةُ: فَقَالَ الْحَسَنُ: ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ

[9] (QS. An Nisa’:171), (QS. Ibrahim:52), (QS. An Nahl;22), (QS. Al Kahfi:110), (QS. Al Anbiya’:108), (QS. Al Hajj:34), (QS. Fushilat:6)

[10] Pondasi awal beragama adalah mengenal Allah terlebih dahulu

[11] (QS. Al Baqarah: 163)

[12] (QS. Al Ma’idah:3)

[13] (QS. Al Baqarah:205)

[14] (QS. Al Baqarah:191)

[15] (QS. At Takwir: 8-9)

[16] (QS. Al Baqarah:206).

[17] (QS. Al Alaq: 1-5)

[18] (QS.Al A’raf:156), (QS.Al Baqarah:171, 182,192, 199, 218, 226)

[19] (QS.Yunus:44), (QS.An Nisa’:40)

[20] (QS. Al An’am:32), (QS.Al Ankabut :64), (QS. Adh Dhuha:4)

[21] (QS. Al Anbiya’:83), (QS. An Nisa’:163), (QS. Shad :41)

[22] (QS.Yusuf:6, 38, 68), (QS. Al Ankabut:27), (QS. Al Anbiya’:72)

[23] (QS. Al An’am:32)

[24] (QS. Al Isra’:13)

[25] (QS.Yusuf:57)

[26] (QS.As Syams :8)

[27] (QS. Ar Rahman:7)

[28] (QS. Al Muddatstsir:18-20)

*) Picture illustration credit : WHO

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *