PAHAM RABITHAH MURSYID (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Dalam paham ini, ada sekelompok orang yang mengaku atau dianggap sebagai sosok yang punya otoritas atau silsilah ilmu yang berasal dari gurunya, guru dari gurunya, buyut gurunya dan guru-guru yang seterusnya yang konon akhirnya tersambung kepada Rasulullah saw. Sebutan untuk guru itu biasanya adalah Syekh atau Mursyid. Mursyid yang terbaik biasanya disebut sebagai Mursyid Kamil Mukamil yang Waliyyam Mursyida, yang dapat memberi petunjuk. Hanya dengan bantuan Mursyid inilah seseorang baru bisa meningkatkan taraf pencapaian rohaninya ketingkat yang lebih tinggi, sampai kemudian terbukanya pintu Makrifatullah kepadanya. Cara-cara yang dibawa oleh Mursyid itulah kemudian yang dikenal dengan nama Tarekat. Saat ini jumlah tarekat sangatlah banyak, masing-masing dengan ciri-ciri khasnya sendiri-sendiri.

Kalau kita bersedia untuk masuk kedalam sebuah tarekat dan berkenan mengikuti seorang Mursyid, terlebih dahulu kita harus mau berbai’at kepadanya. Bai’at itu biasanya dengan syarat-syarat tertentu, mulai dari yang ringan seperti sekedar bersalaman tangan, sampai dengan syarat-syarat yang lebih berat seperti mandi kembang di tengah malam yang sangat dingin, dan menyediakan berbagai syarat tambahan lainnya, tergantung pada tarekat mana yang akan kita masuki.

Selesai berbai’at, maka barulah kita akan diberitahu latihan-latihan atau riadah-riadah yang harus kita lakukan. Kita akan diberikan talkin dzikir-dzikir tertentu oleh Sang Mursyid untuk kita wiridkan dengan jumlah tertentu setiap habis shalat, setiap waktu, setiap hari. Jumlahnya bisa puluhan ribu sekali putaran.

Sebelum dzikir dilakukan, maka kita sebagai murid harus terlebih dahulu melakukan prosesi Rabitah Mursyid , yaitu kita membayangkan wajah Sang Mursyid yang ada didepan kita sambil kita memejamkan mata. Kita berkonsentrasi kepada wajah Sang Mursyid. Lalu beliau akan menyebutkan silsilah ajaran tarekat tersebut sampai nantinya berujung pada Rasulullah saw. Dengan harapan saat itu juga terjadi sambungan rohani antara kita dengan Sang Mursyid, dan dengan Mursyid-Mursyid lainnya sebelum guru kita, lalu tersambung sampai kepada Rasulullah saw. Setelah itu barulah kita mambaca wirid-wirid yang diperintahkan. Setiap mau berdzikir harus begitu…, membayangkan wajah guru mursyid kita terlebih dahulu…, rabitah mursyid.

Pada tarekat tertentu, proses awal dari dzikir/wirid itu bisa pula dilakukan ditempat-tempat khusus yang disebut sebagai tempat SULUK. Lamanya bisa sebulan dengan lebih dan kurangnya. Kita berdzikir di dalam kelambu yang sudah dilengkapi dengan kasur dan bantal. Selama proses itu kita harus berdzikir di dalam kelambu itu dengan jumlah tertentu, termasuk melakukan shalat-shalat sunnah. Kita hanya keluar dari kelambu itu saat shalat wajib dan mandi saja. Sedangkan makan dan minum, dengan menu makanan yang sangat sederhana, tetap kita lakukan di dalam kelambu tempat suluk itu. Sang Mursyid akan mengawasi hasil-hasil yang kita dapatkan dalam berdzikir itu dengan teliti.

Dzikir pertama yang harus kita lakukan biasanya adalah dzikir JAHAR (LISAN), laa ilaha illallah, atau Allah-Allah, sekian ribu kali. Bisa pula saat kita mengucapkan dzikir jahar itu kita berkonsentasi kepada Lathaif-lathaif yang ada disekitar dada kita, mulai dari Lathifatul Qalbi, yang ada didekat jantung (2 jari dibawah susu kiri, 2 jari lagi kearah tengah dada ), sampai dengan lathaif lainnya seperti Latifatul Roh, Latifatul Sirri, Latifatul Khafi, Latifatul Akhfa, Latifatun Nafsun Natiqah, dan Latifatul Kullu Jasad. Fungsi Lathaif ini mirip dengan fungsi CAKRA dalam meditasi dari India.

Setelah Dizikir Jahar ini dilakukan sehari atau dua hari, dengan irama yang sangat monoton, dan dalam keadaan fisik yang mulai lelah dan lemah, maka pada suatu tahap, kita mulai merasakan getaran-getaran menyelimuti tubuh kita. Tidak jarang kita akan menangis histeris sampai tubuh kita bergetar hebat. Kadang-kadang gerakan tubuh kita itu liar dan tidak beraturan. Keadaan ini bisa berlangsung cepat dan bisa pula berlangsung sehari atau dua hari. Diakhir getaran itu biasanya ada yang seperti mau naik dari ulu hati kita keatas. Saat dorongan itu muncul, kita akan berkata HU atau HAK secara berulang ulang. Kemudian setelah itu kita akan menjadi tenang untuk beberapa saat.

Saat tenang itulah kemudian kita melanjutkan dzikir kita dengan Dzikir Qalb, yaitu dengan cara menyebut Nama Allah di dalam hati, Latifah Qalbi. Lidah dinaikkan kelangit-langit, dan ucapan Allah di tumpukan kedalam Qalbu tanpa bersuara sedikitpun. Dzikir Qalbi inipun harus kita lakukan secara berulang-ulang dalam waktu yang lama. Berhari-hari.

Sampai kemudian kita bisa melakukan Dzikir Sirr atau Dzikir Wuquf, disini sudah tidak ada lagi bacaan yang kita baca. Kita hanya tetap menjaga hati/ Qalbu kita kepada Allah. Sampai Allah membukakan kepada kita rahasia-rahasia kedekatan kita dengan Allah seperti:

• Muraqabatul Itlak (muthlak): Meyakini dilihat oleh Allah, Meyakini perkataan kita didengar oleh Allah, Pasti kelakuan kita diketahui oleh Allah.
• Muraqabatul Ahdyatul Af’aal; Mengintai dengan hati sanubari kepada A’faal Allah (Keesaan perbuatan Allah) sambil menunggu limpahan karunia Allah (faid pertama).

• Muraqabatul Ma’iyyah; mengintai dengan mendalam makna Allah bersama dengan kita; menanti faid ke dua (limpah karunia Allah) di 4 lataif: Latifatur Roh, Latifatuus Sir, Latifatul Khafi, Latifatul Akhfa.

• Muraqabatul Aqrabiyyah; mengintai bahwa Allah memberi kehampiran zat-Nya kepada hamba yang dikasihinya; menanti limpahan ke-3 pada Nafsu Radhiyah.

• Muraqabatul Abdiyyatuzzat; mengintai Zat Allah yang Maha Esa; menanti limpahan ke-4 pada nafsu Mardiyyah pada kejadian air, api, angin.

• Muraqabatuzzzaati sharf wal bahri; mengintai zat Allah semata-mata; menanti limpahan pada nafsul ‘ubudiyah pada unsur tanah.

Setelah selesai dan matang dalam Dzikir Jahar, Dzikir Qalb, dan Dzikir Sirr dan sudah pula mencapai tingkatan Muraqabah kepada Allah, maka barulah kita bisa setapak demi setapak memasuki berbagai maqam Makrifatullah seperti:

• Maqam Musyahadah; dapat nikmat hati merasakan berpandang-pandangan dengan Allah.

• Maqam Muqabalah; dapat nikmat hati merasakan berhadap-hadapan dengan Allah.

• Maqam Mukasyafah; dapat nikmat hati merasakan melihat kepada ‘alamulgaibul gaib atau rahasia Allah.

• Maqam Mukafahah; dapat nikmat hati merasakan berkasih-kasihan dengan Allah.

• Maqam Fanaafillah; dapat nikmat hati merasakan lenyap pada mengenal Allah.

• Maqam Baqaabillah; dapat nikmat hati merasakan berkekalan beserta Allah, kekal abadi beserta dengan Allah.

Hasil Muraqah dan Maqam-maqam ini sangat tergantung kepada paham apa yang kita anut ketika kita mulai masuk dan berdzikir dalam sebuah aliran tarekat. Kalau tarekatnya berpaham Wahdatul Wujud, maka hasilnya adalah seperti yang telah diterangkan dalam Paham Wahdatul Wujud. Kalau Tarekatnya berpaham Nur Muhammad, maka hasilnya juga akan berbeda. Begitu juga dengan yang berpaham Insan Kamil. Hasilnya masing-masing punya karekateristiknya masing-masing pula.

Cuma saja bagi orang awam, untuk mencapai tingkatan seperti ini alangkah sulitnya. Sulitnya poooll (full). Sibuknya poooll. Lamanya pun poooll. Sehingga dari sekian banyak yang ikut dalam praktek tarekat itu, rasanya hanya Mursyidnya sajalah yang akan bisa mendapatkan Maqam-maqam tersebut. Yang lainnya banyak yang tidak kuat. Patah ditengah jalan. Bahkan ada yang menjadi tidak waras, atau paling tidak ia terjerumus masuk kedalam alam khayalan. Karena ia terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak jelas. Menunggu tanda-tanda kewalian, menunggu keajaiban, yang kadangkala bisa sampai belasan tahun lamanya…

Kalau kita berhasil mencapai tingkatan Makrifatullah seperti diatas, maka kitapun akan diberi ijazah oleh Sang Mursyid kita. Kitapun dianggap sudah berhak pula mengembangan Tarekat itu melalui sanad kita sendiri. Kita akan ditalqin kembali untuk menjadi seorang Mursyid. Lahirlah mursyid yang baru yang nantinya akan mengajarkan ilmu ini kepada masyarakat sesuai dengan apa-apa yang telah kita dapatkan.

Kalaulah di zaman Rasulullah dan para Sahabat Beliau dahulu Islam ditawarkan kepada umat dengan cara-cara yang sulit begini, barangkali tidak akan banyak orang yang akan menerimanya. Seperti kita menjual barang disebuah warung, tapi barang yang kita jual itu nantinya akan menyulitkan orang yang membelinya. Tutup itu warung kita. Tidak akan ada orang yang membelinya. Tapi saat di zaman Rasulullah itu akhirnya orang berbondong-bondong masuk Islam. Karena Islam yang Beliau tawarkan memang sangat mudah. Iman-Islam-Ihsan, lalu berlomba-lombalah menuju kebaikan sebagai fungsi ke kekhalifahan kita masing-masing di muka bumi ini. Yaitu untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing yang telah ditakdirkan oleh Allah.

Lalu adakah Alternatif paham lain yang lebih kuat dan gamblang dalam kita belajar dan memahami HAKIKAT seluruh ciptaan ini, yang akan membawa kita BERMAKRIFAT kepada Allah ?. MAKRIFATULLAH. Yang caranya sederhana, tidak rumit dan sulit. Caranya mudah saja. Dan itupun sesuai pula dengan hukum-hukum alam yang sudah berkembang saat ini.

Sebab untuk belajar selama belasan tahun seperti diatas alangkah sulitnya. Umur kita sangat pendek. Bagaimana jadinya kalau kita meninggal sementara kita belum mengenal Allah?. Bagaimana kita mau shalat sementara kita belum kenal dengan Allah yang akan kita sembah dan kita ingati selalu, baik di dalam shalat maupun diluar shalat.

Jawabannya ada…, Ya…. ada…

Bersambung

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *