PAHAM INSAN KAMIL (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Paham insan kamil ini juga bertumpu kepada paham Nur Muhammad, tapi dalam pola yang berbeda. Disini, kesempurnaan insan kamil itu pada dasarnya disebabkan karena pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara sempurna melalui hakikat Nur Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyah). Hakikat Muhammad (nur Muhammad) merupakan wadah tajalli Tuhan yang sempurna dan merupakan makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Tuhan. Kemudian dari Nur Muhammad inilah tercipta seluruh ciptaan yang lainya. Oleh sebab itu Nabi Muhhammad disebut juga sebagai Insan Kamil. Manusia sempurna dan paripurna.

Inti paham ini adalah, bahwa kemudian, seseorang bisa pula mencapai derajat Insan Kamil ketika Ruh Nabi Muhammad saw bisa menyerap atau menyusup kedalam kedalam tubuhnya.Begitu diyakininya Ruh Muhammad telah menyusup kedalam dirinya, maka diapun dianggap sudah menjadi Insan Kamil. Biasanya yang bisa mencapai taraf Insan Kamil ini adalah guru-guru tarekat, dan Syech-Syech tertentu saja, yang dianggap oleh para muridnya sebagi wali Allah.

Penganut paham ini meyakini bahwa tegaknya alam ini oleh keberadaan Insan Kamil ini. Dan alam ini akan tetap terpelihara selama Insan Kamil (manusia sempurna) ini masih ada. Insan Kamil atau hakekat Muhammad lalu menjadi sumber dari seluruh hukum, kenabian, semua wali atau individu manusia sempurna. Wah sekali.

Cuma saja yang sungguh mengherankan adalah bagaimana bisa Ruh Nabi Muhammad yang suci dan maksum itu bisa menyusup kedalam jasad manusia biasa yang sudah tentu banyak dosa, kotor, dan jauh dari kemuliaan ini?. Tidak ada satupun dalil yang berasa dari Nabi ataupun Al Qur’an yang mendasari konsep dari paham ini. Makanya kata-kata yang sangat diperhatikan oleh penganutnya adalah kata-kata guru atau syechnya yang membawa paham ini.

Untuk bisa memahami dan mengalami sendiri realitas dari konsep Wahdatul Wujud, Nur Muhammad, dan Insan Kamil ini sangatlah sulit sekali. Kita memerlukan bantuan dari orang-orang yang mengaku punya otoritas untuk itu. Dia adalah orang-orang yang sudah duduk di maqam yang sangat wah itu, seperti maqam Wahdatul Wujud (Ittihad, Hulul, Baqa dan Fana Billah, Syatahat), atau maqam Nur Muhammad, atau maqam Insan Kamil (kesusupan Ruh Nabi Muhammad).

Untuk urusan inilah kemudian muncul konsep perantara, yaitu pribadi-pribadi yang disebut sebagai MURSYID, yang Kamil Mukamil pula. Mursyid inilah nantinya yang berperan untuk mengantarkan ruhani kita ke maqam-maqam yang lebih tinggi sampai ke maqam bersatu dengan Allah, Nur Muhammad, atau Insan Kamil. Dan inilah kemudian yang akan melangengkan paham berikutnya, Paham Rabitah Mursyid, sampai sekarang.

Bersambung

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *