KELIRU DALAM BERMAKRIFAT MELAHIRKAN BID’AH (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

 

Oleh Yusdeka Putra (www.yusdeka.wordpress.com)

 

KELIRU DALAM BERMAKRIFAT MELAHIRKAN BID’AH

Pada zaman Rasulullah masih hidup sampai kepada zaman sahabat-sahabat pengganti Beliau, lalu berlanjut sampai ke zaman Tabi’iin dan zaman Tabi’it Tabi’in, proses untuk bermakrifat kepada Allah (makrifatullah) itu sungguh sangatlah mudah sekali. Hanya dengan mendengar dan menghayati ayat Al qur’an, memperhatikan alam ciptaan, atau mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari lidah Rasulullah, dengan serta merta para sahabat Beliau itu bisa langsung bermakrifat kepada Allah, sehingga merekapun bisa langsung beriman kepada Allah dan mereka bisa pula langsung Ihsan kepada Allah didalam shalat mereka maupun diluar shalat mereka.

Saat itu jelas sekali terkesan bahwa mereka bisa menjalankan syariat agama islam dengan sangat mudah dan gampang sekali, itu karena mereka sudah bermakrifatullah terlebih dahulu. Jadi saat itu hanya ada konsep MAKRIFATULLAH – SYARIAT. Artinya, kita tidak akan mudah untuk melaksanakan syariat kalau kita tidak bermakrifatullah terlebih dahulu, dan tidak akan ada gunanya pula kita bermaktifatullah kalau kemudian kita tidak melaksanakan syariat. Kita sudah merasakan sendiri kesulitan-kesulitan dalam bersyariat tanpa bermakrifatullah itu. Kalaulah tidak ada kata-kata pamungkas seperti dosa dan neraka, pahala dan syurga, mungkin banyak diantara kita yang sudah tidak menjalankan syariat lagi saking sulitnya.

Dan yang terpenting dalam konsep bermakrifat dan bersyariat di zaman itu adalah, bahwa untuk bermakrifatullah itu sangatlah mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kita untuk memahaminya. Semudah Abu Bakar berucap dengan kalimat “Sadaqta” Beliau kepada Rasulullah. Kita tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan puluhan tahun untuk sampai ke kehidupan bermakrifatullah itu.

Akan tetapi sejak 300-400 tahun setelah Rasulullah wafat, mulailah muncul cara-cara bermakrifat yang baru, yang tidak ada contohnya di zaman Rasulullah, maupun dizaman para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in. Cara-cara baru inilah sebenarnya yang dimaksud dengan BID’AH di dalam hadist Rasulullah.

Saat itu mulailah muncul konsep yang sangat terkenal dan tetap dipakai banyak orang sampai sekarang, yaitu SYARIAT-TARIKAT-HAKIKAT-MAKRIFAT (STHM). Dari konsep ini, kemudian lahirlah berbagai aliran tarekat yang saling mengaku keaslian sanad ajarannya tersambung sampai kepada Rasulullah. Sebelum sampai ke Rasulullah, sanad ajaran tarekat itu katanya ada yang lewat jalur Abu Bakar Ash Shiddiq terlebih dahulu, dan ada pula yang melalui Ali bin Abi Thalib terlebih dahulu, setelah itu barulah keduanya bertemu di tangan Rasulullah. Dari kedua jalur sanad ini, yang dianggap muktabarah, kemudian berkembanglah menjadi puluhan aliran tarekat yang masing-masing prakteknya berbeda secara signifikan satu sama lainnya.

Dalam konsep STHM ini, menjalankan Syariat tidak akan sampai kepada tujuan akhir yang dituju, yaitu Makrifat kepada Allah tanpa terlebih dahulu kita melalui jalan Tarekat dan melewati pula berbagai tanjakan ilmu Hakikat. Sehingga tidak jarang orang yang menjalankan konsep ini tidak pernah sampai-sampai ke tingkatan Makrifat, walaupun ia sudah menjalankan praktek STHM itu selama belasan, bahkan puluhan tahun.

Jadi dalam konsep STHM ini, orang yang bersyariat dianggap nilainya kosong tanpa dia terlebih dahulu melakukan praktek-praktek tarikat tertentu. Sebab tanpa itu ia dihukum tidak akan pernah bisa menapaki jalan Hakikat untuk sampai ketingkatan Maqam yang tertinggi, yaitu Maqam Makrifat.

Sejak zaman itu pulalah mulainya muncul berbagai konsep pemikiran baru seperti: Wahdatul Wujud, Ittihad, Hulul, Baqa-Billah, Nur Muhammad, Insan Kami, Syatahat, Rabitah Mursyid (untuk tarekat), dan sebagainya. Akibatnya umat islampun seperti berada dalam abad kegelapan selama berabad-abad lamanya. Umat islam terpuruk menjadi umat yang terpecah belah menjadi golongan-golongan yang masing-masing golongan saling membenarkan golongannya sendiri. Umat islam secara keseluruhanpun merasakan sendiri betapa sulitnya kita untuk bisa menjalankan syariat islam seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau dulu.

Sehingga akibatnya, titel umat islam sebagai Rahmatan lil alamin, sebagai ULUL ALBAB (Sang Pembaca dan Penguak Rahasia-Rahasia Allah di Alam Semesta) pun seperti luntur tak berbekas. Sejak zaman itu, tidak ada lagi penemuan-penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan, kedokteran, dan teknologi yang datang dari tangan umat islam. Umat Islam seperti dihibernasi, dibekukan oleh Allah. Minan nur ila dzulumat. Dari zaman yang bertaburkan cahaya yang terang benderang menjadi zaman yang kelam dan gelap gulita. Itu terjadi berabad-abad lamanya.

Pada zaman modern sekarangpun, selain sudah diganggu oleh konsep-kosep rumit diatas, umat islampun tengah di bombardir bertubi-tubi oleh konsep-konsep Hipnoterapi, NLP, Quantum Energy, Awarenes Healing, Happiness, Loves, dan sebagainya. Dengan bantuan media cetak maupun kaca, semuanya itu seperti telah menyihir umat islam untuk berduyun-duyun meninggalkan konsep-konsep sederhana yang telah diajarkan oleh Rasulullah untuk mendapatkan syurga di dunia dan syurga pula di akhirat kelak. Suasana zaman sekarang ini sudah kembali seperti suasana di zaman Fir’aun dulu yang menguasai rakyatnya dengan tukang-tukang sihirnya.

Dan kesemuanya itu terjadi, karena kekeliruan umat islam dalam bermakrifatullah, sehingga yang dijalankan adalah bid’ah-bid’ah yang tidak ada contohnya di zaman Nabi dalam bermakrifatullah. Sungguh dahsyat sekali akibatnya…, dahsyat sekali…

Sekarang mari kita lihat dimana letak kelirunya konsep-konsep yang telah membawa umat islam masuk ke zaman dzulumat tersebut. Semua itu bermula dari kesalahpahaman beberapa orang penggagasnya dalam memaknai hakikat penciptaan seluruh ciptaan ketika Allah berfirman Kun…Fayakun…, Jadilah… maka jadilah ciptaan yang dikehendaki oleh Allah.

Bersambung

 

 

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

3 Responses

  1. ali says:

    kebanyakan orang sepert itu

  2. belum sampai ni saya ke tingkat ini czmasih awam dalam agamanya

Leave a Reply to YAMAS Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *