DALAM GENGGAMAN DZAT

14/11/20 05.31 – Arifbillah Ustadz H. Hussein Bin Abdul Latief: Anakku yang disayangi lagi dirindui.

Tazkirah hari ini Ayah akan menyentuh berkenaan hadith ini,” *Maka demi Dzat yang jiwaku dalam genggamannya* “: Sahih Muslim Bk 4, 6 (1994)

Anakku, kalian ngak bisa mengambil kekata Rasulullah saw itu secara harfiah (literally) kerana baginda ada bersabda,” *Keagungan dzatNya akan membakar makhluk Yang terpandang olehnya* “: Sahih Muslim Bk 1, 228(1994)

Justeru maksud Rasulullah saw “dalam genggaman dzat” ialah dzat yang udah terzahir menjadi Sifat (zahir & batin).

Quantum Theory menyatakan yang terzahir hanyalah 00.00000001% tetapi yang batin (kekosongan) 99.99999999%.

Maka maksud Rasulullah saw dalam “genggaman dzat” maksudnya di dalam genggaman dzat yang udah terzahir menjadi kekosongan ataupun ruang.

Quantum Theory juga menekankan bahawa kekosongan ataupun ruang itu sebenarnya tidak kosong tetapi mempunyai pelbagai kewujudan yang bisa dipanggil “virtual particles” (zarrah maya).

Namun kepada kita Ahli Sufi, Alhamdullilah, Kita udah mengetahui bahawa kekosongan itu adalah penzahiran dzat kerana itu Allah ada berfirman,” *Tiada sehelai daun jatuh tanpa Dia Mengetahuinya* “: Al Anaam (6):59.

Kerana itu juga Allah swt berfirman: *Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”:* Luqman(31):16

 *Sesungguhnya Dia Maha Meliputi setiap sesuatu”:* Fussilat (41): 54.

Sesudah dzat terzahir menjadi Sifat (kekosongan ataupun ruang), ia ngak bisa tajjali ke asalnya kerana seperti tertera dihadith yang disebutkan tadi akan binasa makhluk akan terpandang akannya.

Namun di Hari Kemudian, ini akan berlaku kerana semasa  berada di Syurga Kita mahu melihat Allah. Maka sebelum Yang Maha Halus berwajah (Makrifat), Dzat tajjali dahulu (Hakikat) maka binasalah Langit dan Bumi Syurga itu justeru binasa juga kesemua penghuninya termasuk kita semua.

Rasulullah saw bersabda,” *Kamu semua tidak akan ada masalah melihatNya seperti Bulan purnama tetapi itu hanya kecil sahaja Allah lebih Mulia dan lebih Besar daripada itu”:* Sunan Abu Dawud, Vol 3, 1324 (1990).

“Bulan purnama” dimaksudkan dzatNya (Hakikat) Yang tajjali. Ini juga bersesuaian dengan firmanNya,” *Semua pasti binasa yang tinggal dzatKu* “: Al Qashash (28):88; Ar Rahman(55):26-27

Maka apabila Dzat tajjali maka binasalah Surga dan seisinya.

” *Mereka kekal di dalamnya selagi ada langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhanmu”:* Hud(11):108

Justeru, semua kembali kepada Yang Maha Halus (Makrifat).

 *Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu Yang mempunyai Kebesaran dan Kemulian* : Ar Rahman (55):27

 *Inna lilahi  Winna Ilaihi Rajiun* (Dari Allah dan kepadaNya kita kembali): Al Baqarah(2):155-156

Akhirnya, Allah swt sendiri lagi *kekal abadi tanpa sifat-sifat ciptaanNya:* Gospel of Barnabas 18(?).

” *Aku Yang Akhir”:* Al Hadid (57):3

Semoga Anakku mendapat memfaat dari tazkirah hari ini, aamin Ya Rabbil alamin!

14/11/20 06.20 – Pak Yusdeka: Bahwa “Sesudah dzat terzahir menjadi Sifat (kekosongan ataupun ruang), ia ngak bisa tajjali ke asalnya kerana seperti tertera dihadith yang disebutkan tadi akan binasa makhluk akan terpandang akannya”.

Ini adalah konci yang sangat penting ya pak ustadz?.

Bahwa Di dalam LM Dzat tidak bisa tajalli kembali. Karena kalau Dzat tajalli, maka Dzat akan langsung memusnahkan Sifat.

Ini membatalkan anggapan pahaman wahdatul wujud bahwa Allah tajalli ke dalam tubuh mereka. Dimana mereka bisa merasakan tubuh mereka dicelup (di sibgah) oleh Allah, atau tubuh mereka merasa diisi (di istighraq) oleh Allah ketika mereka berdzikir  dengan cara mereka.

Jangankan tajalli Allah, baru tajalli Dzat saja sudah akan memusnahkan Sifat, begitu juga baru tajalli Wajah (Yang Maha Halus) saja sudah akan memusnahkan Dzat.

Betulkah begitu Pak Ustadz?.

14/11/20 07.33 – Prof Ibrahim Hasyim: BENAR dan terima kasih banyak Ustaz yang dikasihi atas pencerahan mendalam dan rujukan beberapa ayat surah AlQuran dan Sabda RasulullahSAW serta rujukan penting yang lain yang menjelaskan maksud Innalillahi wainna ilaihi rojiun”. Sesungguhnya apa yang saya faham maksud  ciptaan adalah segala sesuatu yang bermula dari Firman Kun-terzahir Dzat – terzahir LohMahfuz dan terzahir  sekelian ciptaan yang semuanya mesti didalam Loh Mahfuz termasuk Syurga selagi ada langit dan bumi. Akhirnya semua ciptaan bila terlihat Dzat maka pasti semua lebur dan kembali kepada Allah Yang Maha Halus lagi meliputi setiap sesuatu dan Yang Maha Besar. Hanya Dia Yang Awal dan Dia Yang Akhir.  Alhamdulillah.

 Mohon pencerahan Ustaz?

Aamiin Ya Rabbil Alamiin

14/11/20 08.42 – Arifbillah Ustadz H. Hussein Bin Abdul Latief: Mantap fahamanmu, Sahabatku, Pak Deka.

14/11/20 08.44 – Arifbillah Ustadz H. Hussein Bin Abdul Latief: Benar, prof.

14/11/20 08.47 – Prof Ibrahim Hasyim: Alhamdulillah Terima kasih banyak Ustaz. 🙏🙏🙏

14/11/20 08.49 – Pak Yusdeka: alhamdulillah, terima kasih bimbingan tak pernah henti dari Pak Ustadz

14/11/20 09.58 – B Sahry: Alhamdulillah, benar adanya ustad, dalam *pandangan science* alam semesta yg teraba namun belum terjangkau ini dari prosentase akan terus  berkembang dan menjauhi sumbernya, dan besarnya materi yg terlihat hanya *0.4%*. Perkembangan Ilmu fisika kini sampai kepada sesuatu yang sangat besar yg mendorong terjadi ya Big Bang, adalah prosentase yg disebut materi *invisible tidak terlihat*, yakni Dark *Energy 73%*, dan *Dark Matter 23%*, bayangkan betapa sangat kecilnya alam semesta kita ini bila dibandingkan substansi energy+materi, yg hanya *0.4%*. Subhanallah, inilah perlunya pandangan *Ahli Sufi bagian dari Dzat Yang Maha Halus*, yang sudah dapat melihatnya. Dan disinilah berhenti sementara, *yg menjadi pandangan scientist modern* (michio kaku), dimana *professor senior bidang matematika ya, mengatakan inilah mungkin saatnya scientist dan fisikawan berhenti dan istirahat*, krn tidak bisa dan *tidak mampu lebih jauh menelitinya dan mendefinisikannya*, apalagi merealisasikannya, yakni suatu kekuatan energy yg sangat besar yg disebut *Dark Energy*. Subhanallah, sungguh Maha Besar dan Mengetahui akan Segala Sesuatu Engkau Ya Allah, Dzat yg Maha Agung.

14/11/20 09.59 – Arifbillah Ustadz H. Hussein Bin Abdul Latief: Alhamdullilah

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *