BERMAKRIFAT (By Yusdeka)

Artikel kontributor adalah pemahaman pribadi pembelajar tasawuf Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff. Tidak mencerminkan pendapat YAMAS-Indonesia sebagai lembaga.

**

Oleh Yusdeka Putra (www.yusdeka.wordpress.com)

 

Bermakrifat adalah sebuah proses untuk menemukan dan mengenal dimanakah titik awal dan titik akhir dari semua Alam Ciptaan ini bermula dan berakhir. Proses untuk menyadari bahwa sistem yang sangat sempurna itu pastilah dibuat oleh Satu Wujud yang sangat kuat, yang sangat hebat, yang sangat pintar dan cerdas, yang sangat berkuasa. Wujud Absolut. Wujud yang Wajubul Wujud. Sistem itu, berikut dengan semua ciptaan yang berada didalam sistem itu, tidak akan pernah ada kalau Wajibul wujud itu tidak Wujud. Bahwa semua ciptaan ini berasal dan berawal dari Wajubul Wujud dan berakhir pada Wajibul Wujud pula. Semua yang bukan Wajubul Wujud pastilah berawal dan berakhir. Musnah…

Semua manusia, pada awalnya sudah bermakrifat kepada Wajibul Wujud itu di alam Azali. Ketika Wajibul Wujud itu bertanya kepada setiap ruh manusia: “Alastu birabbikum…, bukankah Aku Rabmu?”. Dan setiap manusia menjawabnya saat itu: “Bala Syahidna…, Benar, Engkaulah Rabku…!”. Persaksian awal dialam Azali inilah yang menyebabkan setiap bayi saat dia dilahirkan kedunia ini dikatakan fitrah, suci, bersih, mukmin, islam. Semuanya tidak terkecuali…, diakui ataupun tidak.

Persaksian awal ini pulalah yang menyebabkan setiap manusia selalu punya kerinduan yang sangat pekat untuk bisa “bertemu dan berkata-kata” kembali dengan Wajibul Wujud itu di saat ini. Ada sebuah kerinduan yang membuncah mendera kita untuk bisa kembali berada dalam suasana persaksian kita dialam Azali dulu itu di saat sekarang ini. Sebab ditengah-tengah hiruk pikuk kehidupan yang tengah kita jalani ini, tak peduli semasa kita kecil, saat dewasa, maupun saat kita sudah tua, ada sebuah gema kedamaian yang tiada ketakutan dan kekhawatiran didalamnya yang memanggil-manggil kita agar kita kembali masuk ke sana. Gema itu entah berasal dari mana, tapi terasa sangat dekat, dekat sekali, dan kita seperti sangat familiar dengan keadaan dan suasananya.

Memang, perjalanan umur kita yang berisikan berbagai pengalaman hidup dan curahan ilmu pengetahuan, telah dengan perlahan dan pasti membuat kita lupa dengan keadaan dan suasana di alam Azali itu. Kita dibuat lupa dengan keakraban yang amat sangat, yang pernah kita lalui bersama Wajibul Wujud, Tuhan kita di alam Azali sana. Tetapi jauh di dalam lubuk sanubari kita, keakraban itu masih bisa kita rasakan, sehingga kitapun ingin kembali mengalaminya di saat sekarang ini.

Sebenarnya, suasana dia alam Azali itu selalu kita alami ketika kita tidur. Saat tidur itu, kita seperti terbebas dari segala persoalan dan permasalah hidup yang menimpa kita. Kita tidak lagi merasakan ketakutan dan kekhawatiran. Bangun tidurpun kita akan kembali merasa segar dan penuh tenaga sebagai bekal kita untuk kembali beraktifitas. Karena memang saat tidur itu kita sedang berada kembali di sisi Wajubul Wujud. Makanya setiap manusia selalu ingin untuk tidur pada waktu-waktu tertentu, ketika kita lelah, ketika malam hari mulai datang.

Akan tetapi perjumpaan kita dengan Wajibul Wujud saat kita tidur itu, tidak benar-benar membuat kita seperti kembali berada ke Alam Azali itu. Tidak. Rasanya ada yang kurang. Bahwa kita tidak berkata-kata, kita tidak berhadap-hadapan dengan Sang Wajibul Wujud dalam keadaan terjaga. Kita ingin berbicara dan berhadap-hadapan dengan Sang Wajubul Wujud dalam keadaan SADAR. Kita rindu duduk dan berdialog kembali dengan Sang Wajibul Wujud di setiap saat. Saat kita berdiri, duduk, tidur, berjalan, mapun bekerja, rasanya kita ingin selalu melakukan semua aktifitas itu di depan Sang Wajibul Wujud. Kerinduan itulah yang kemudian membuat kita selalu berusaha kembali untuk mencari Sang Wajibul Wujud dengan berbagai cara. Karena memang kita sudah lupa kepada-Nya.

Usaha kita untuk mengenal kembali Sang Wajibul Wujud itulah yang disebut sebagai BERMAKRIFAT. Setelah Bermakrifat, barulah kita bisa berkata-kata, berdialog, menyembah, berlindung, dan berkatifitas dihadapan-Nya. Salah bermakrifat, maka salah pula arah kita berkata-kata, berdialog, menyembah dan meminta perlindungan.

YAMAS

Yayasan Makrifatullah Sedunia (YAMAS) - Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *